Sebutan Allah Sebagai Bapa

Menyapa Sang Ilahi sebagai Bapa, sering kali langsung diasosiasikan sebagai salah satu ciri yang paling menonjol dari Kekristenan. Bagaimana tidak, sapaan Bapa kepada Allah hampir selalu ada di semua doa dan nyanyian rohani Kristiani. Demikian pula ilustrasi hubungan bapa dan anak adalah bentuk kedekatan yang begitu sering ditonjolkan, terkait relasi umat Kristiani dengan Penciptanya.

Tapi sebenarnya, kebiasaan menyapa Tuhan dengan Bapa, tidak eksklusif dimiliki kekristenan. Tradisi Hindu dan sejumlah agama India, kerap kali juga menyapa Sang Ilahi dengan sapaan ini. Contoh klasik dalam Bhagavad Gita, misalnya, yang menyebut Bhagavan sebagai bapa dari semesta. Meski demikian, sapaan ini memang tidak sesering yang diperdengungkan di kekristenan.

Dalam tradisi agama-agama Ibrahimik, agama Islam mungkin terbilang tidak pernah menggunakan sapaan ini untuk Allah. Tapi, di tradisi Baha’i sebutan yang maskulin untuk Sang Pencipta, termasuk sapaan Bapa, tetap diperkenankan.

Tradisi Yudaisme justru sejak awal menyapa Allah dengan sebutan metafor, Bapa atau Bapa Kami (Ibrani: Av, Avinu), selain sejumlah atribut sapaan lainnya. Dalam kitab Nabi Yesaya sapaan itu bahkan disebut secara spesifik: Bukankah Engkau Bapa kami? Sungguh, Abraham tidak tahu apa-apa tentang kami, dan Israel tidak mengenal kami. Ya TUHAN, Engkau sendiri Bapa kami; nama-Mu ialah “Penebus kami” sejak dahulu kala. (Yesaya 63:16).

Avinu Malkeinu (Bapa Kami, Raja Kami) adalah salah satu contoh litani kuno dalam Agama Yahudi yang secara spesifik menyapa Tuhan dengan sebutan Bapa dengan rujukan Kitab Yesaya tadi. Nyanyian doa ini didaraskan selama masa Rosh Hashanah (Tahun Baru Yudaisme) hingga Yom Kippur (Hari Raya Pendamaian).

Selain Avinu Malkeinu, sapaan Bapa juga muncul dalam sejumlah doa dan liturgi Yahudi yang berdialek Aramaik (Aram: Bapa = Abba). Contoh paling terkenal tentu Kaddish yang ada di hampir semua ibadah harian Yahudi. Doa ini memuat sapaan Bapa, dalam bagian “… qodam avuhon di bishmayya” (… oleh/dari Bapa yang di surga).

Sebutan “Bapa” dalam doa-doa tadi tentu tidak dimaksud dalam pengertian biologis. Namun, lebih ke arah metafor, yang melambangkan peran Allah sebagai Sang Pemberi Hidup dan Sang Pemberi Hukum. Sapaan ini juga menunjukkan sisi imanen, kehadiran dan betapa dekatnya Sang Pencipta dengan umat-Nya.

Penekanan pada kedekatan inilah yang kemudian diteruskan dan cukup banyak ditonjolkan dalam tradisi kekristenan. Sehingga maknanya terkadang bergeser lebih ke arah metafisis, sebagai suatu hubungan dalam kedekatan ilahiah, antara orang Kristiani dengan Ilahnya. Sebagaimana digambarkan Rasul Paulus sebagai karunia Allah ke dalam hati, hingga pengikut Kristus bisa berseru: “ya Abba, ya Bapa!” (Galatia 4:6).

Mengingat sapaan Bapa juga merupakan bagian dalam doa yang diajarkan Yesus, tentu wajar pula penggunaannya menjadi sangat massif dalam kekristenan. **arms

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA