Imlek sampai Cap Go Meh di Pra-Paskah

Momen Tahun Baru Imlek tahun ini jatuh pada Jumat (16/2) dan umumnya diakhiri pada perayaan Cap Go Meh, Sabtu (3/3). Kali ini momen silaturahmi itu memang berlangsung saat umat Kristiani telah memasuki masa pra-Paskah. Meski demikian, kemeriahannya tetap dirayakan dengan gembira, oleh jemaat Kristen yang berlatar etnis Tionghoa. Keluarga-keluarga Tionghoa di GKI, misalnya lebih sering menjadikannya sebagai momen untuk berkumpul bersama.

Sebagaimana pernah diungkap oleh Pdt. David Roestandi, utamanya di warga Tionghoa di sebagian besar jemaat GKI di Sinode Wilayah Jawa Barat memang berlatar Tionghoa peranakan. Bagi warga jemaat, momen festival musim semi ini biasanya sekedar menjadi acara kumpul keluarga. Tidak lagi mendalami makna filosofis di baliknya. Tentu juga tidak terlalu mengikuti ritual persembahyangan yang lazim dikerjakan seperti rekan-rekan Tionghoa dengan tradisi Khong Hu Cu, Tao atau Buddhisme Mahayana.

Padahal kita kan bisa belajar lebih jauh, memahami bagaimana sebagai umat Kristiani kita bersikap, tanpa harus meninggalkan identitas. Apalagi zaman sekarang sudah sedemikian terbuka,” jelas Pdt. David.

Kesalahpahaman terkait aspek budaya Tionghoa yang sering ‘dicurigai’ sebagai bentuk paganisme oleh kekristenan konservatif, menurut pendeta GKI Kebonjati ini sebenarnya bisa diatasi dengan pembelajaran yang mendalam. Pdt. David mengakui represi yang panjang dari pemerintahan Orde Baru memang membuat banyak aspek yang begitu kaya dari budaya Tionghoa tidak lagi dipahami sepenuhnya oleh setidaknya dua generasi.

Sementara itu pengamat sosial budaya, Winanto Wiryomartani, menjelaskan sejatinya perayaan tahun baru itu memang merupakan pesta rakyat. Dilakukan untuk menyambut musim semi, sehingga lazim disebut Sin Cia dalam Bahasa Hokkien (Mandarin: Chun Jie). Bagi masyarakat Tiongkok waktu itu, awal musim semi identik dengan harapan akan kesejahteraan dan kemakmuran, sebagaimana diungkap dalam ucapan yang lazim digunakan seperti Gong Xi Fa Cai (Semoga bertambah makmur).

Bagi Winanto, banyak hal baik yang bisa terus dipelajari umat Kristiani dari tradisi ini. Seperti silaturahmi dan bakti terhadap orang tua, upaya menjaga harmoni dengan alam dan sesama, serta seruan untuk bekerja keras demi orang-orang yang dicintai.

Hal senada juga diungkap pendeta GKI Gunung Sahari, Pdt. Suta Prawira. Meski memang ada hal-hal tertentu yang perlu ditelaah dan disesuaikan dengan iman Kristiani, Pdt. Suta meyakini tradisi baik dalam perayaan Imlek tetap perlu dipertahankan sebagai bagian yang terpisahkan dari identitas budaya seseorang. **arms

Disarikan dari Rubrik SEKATA GKI Gunung Sahari di RPK FM, Rabu (28/2).

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA