Masakan Cinta Tante Tiang Bie (2)

Biasanya kalau kami berdoa dan makan, tante Tiang Bie tidak ikut makan. Dia makan paling belakang. Itu sebab saya mempertanyakan diri sendiri, mengapa sejak mahasiswa teologi sampai banyak tahun setelah ditahbis jadi pendeta, dalam makan bersama di gereja saya selalu paling pertama. Oh ya, tentu karena semua orang mempersilahkan saya makan lebih dulu. Celakanya saya merasa senang dihormati seperti itu.

Belakangan saya mulai mengembangkan second opinion. Saya mulai menolak makan paling pertama. “Saya adalah pelayan, pelayan makan belakangan, bukan duluan.

Sesudah saya mantap, saya mengajarkan kepada kader pendeta GKI beberapa angkatan. “Kalau kalian mau jadi pendeta GKI generasi baru, jangan makan paling pertama. Dahulukan orang-orang yang kalian layani. Karena angkatan pendeta GKI sebelum ini selalu makan duluan.

Saya kurang monitor apakah nasihat saya dituruti atau tidak. Namun sudah jelas pelayan makan belakangan, pejabat makan duluan! Ajaran Yesus Kristus begitu bukan? Tante Tiang Bie makan belakangan, saya makan belakangan, kami adalah para pelayan. Namun tolong jangan hakimi kalau pendeta Anda makan duluan, yang menyebabkannya jemaat juga. Jadi dalam hal ini, jemaat mengajari pendeta bukan sebaliknya.

Sudah saya sebutkan tante Tiang Bie membuat biaya makan kami murah. Selain itu, beliau juga tidak mau menerima upah. Dia memberi keahliannya, tenaganya, waktunya dengan rela demi pelayanannya dan pelayanan komunitas berjalan. Ini biasa disebut pengurbanan, bukan pengorbanan, (korban = victim, kurban = sacrifice). Banyak masalah di gereja karena orang tak dapat membedakan kurban dari korban. Lebih banyak orang merasa jadi korban ketimbang memberi kurban.

Sudah saya sebutkan juga bahwa memasak bagi tante Tiang Bie atau si ramen chef seperti sebuah ritual. Sebetulnya kegiatan makan juga dapat menjadi ritual. Orang-orang Indian di benua Amerika punya kearifan lokal menghormati hewan buruan mereka. Mereka menghormatinya karena hewan-hewan tersebut telah memberi makan keluarga mereka.

Itu sebabnya suku-suku Indian ini memakai kulit hewan buruan mereka sebagai pakaian dan asesori. Mereka mengidentifikasi diri dengan rusa atau beruang atau hewan lainnya, karena hewan-hewan ini memberi makan keluarga mereka. Banyak suku-suku nelayan di negeri kita juga menghormati ikan-ikan yang mereka tangkap, karena memberi makan keluarga mereka. Sayang sekali kearifan lokal macam ini lama kelamaan lenyap tergerus oleh komersialisasi.

Dalam masakan tante Tiang Bie, ada hewan-hewan yang tercabik-cabik beberapa kali. Tante Tiang Bie sendiri membelinya sudah dalam keadaan tercabik. Dalam proses masak dipotong dan dicabik lagi. Ketika kami makan, mereka juga tercabik lagi dalam mulut kami. Hewan-hewan tercabik ini memberi kita kehidupan.

Para petani di Jawa Barat menghormati hasil ladang karena memberi makan keluarga mereka. Beras, melebihi panen lainnya, dihormati karena itulah yang paling menyokong dan memberi kehidupan kepada mereka. Ada kearifan lokal dimana ketika mengambil beras untuk ditanak, mereka mengambilnya sambil bersujud tanda hormat.

Jadi jika Anda vegan, vegetarian karena menghormati hewan berjiwa, analogi tadi tetap berlaku karena baik beras, biji-bijian maupun sayuran tercabik-cabik juga untuk kehidupan kita. Sayuran dirajang dan tercabik. Cabaipun tercabik di cobek, bukan?

Kita menerima kehidupan karena ada yang harus mati tercabik-cabik. Kita makan dan ada yang tercabik juga. Oleh sebab itu, saya teringat kepada analogi ini. Tubuh Yesus juga tercabik-cabik supaya kita selamat dan hidup. Kita merayakannya dalam perjamuan kudus.

Jika Anda tidak memandang analogi ini terlalu naif, maka kegiatan makan kita dapat menjadi ritual, dimana sensori fisik dibarengi dengan sensori spiritual. Andaikata demikian, penghayatan makan menjadi ritual bahkan sakramental. Tak akan ada lagi, seperti banyak saya saksikan, sehabis mengucapkan syukur dalam doa makan, orang segera mengeluh karena makanan tak cocok selera atau keluhan lain. Mungkin orang tak menyadarinya. Namun hal itu mengkhianati doa syukurnya, yang kemungkinan hanya doa klise.

Bukankah kita belajar bahwa selain ada cinta dalam makanan, ada kosmos kecil ciptaan Tuhan pada piring makan kita, ada kurban yang tercabik untuk memberi kehidupan kepada kita? Makan secara spiritual menghubungkan kita dengan Tuhan dan sesama, bukan hanya dengan makanan.

Penulis: Pdt. Em. Kuntadi Sumadikarya

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA