Mengapa Rabu Harus Pakai Abu?

Beberapa tahun belakangan, banyak jemaat di GKI ikut menyelenggarakan ritual Rabu Abu. Respon anggota jemaat cukup beragam. Ada yang langsung menolak tanpa merasa perlu bertanya. Sebaliknya, ada yang menganggap tidak perlu perlu bertanya, pokoknya setuju. Hebatnya, mereka merasa terberkati dengan diselenggarakannya ritual ini. Ada lagi yang kritis-positif model Thomas, murid Tuhan Yesus itu. Mereka mengajukan rentetan pertanyaan dengan maksud supaya memahami dengan jelas ritual Rabu Abu.

Mengapa Rabu?

Mengapa dimulainya hari Rabu? Mengapa tidak pilih Kamis saja? Apakah Rabu itu hari ‘keramat’? Sebenarnya, tidak ada tradisi Alkitab tentang hari Rabu. Jadi tidak ada yang special dari hari Rabu.

Lalu mengapa Rabu? Pada masa lalu, gereja menerapkan masa penyesalan dan pertobatan menjelang Paskah dengan menjalani puasa selama 40 hari, yaitu selama 6 minggu. Setiap Minggu cuma berpuasa 6 hari, minus hari Minggu.  Mengapa hari Minggu tidak menjalani puasa? Jawabnya karena hari Minggu adalah hari kemenangan, hari Kebangkitan Yesus. Dalam hari kemenangan harusnya pesta, bukan berpuasa!

Jadi, karena masa Puasa Pra-Paskah berlangsung selama 6 minggu, setiap minggu 6 hari, jumlahnya menjadi 36 hari. Agar genap puasanya 40 hari, harus ditambah 4 hari. Akibatnya, hari pertama puasa jatuhnya selalu pada hari Rabu.

Mengapa abu?

Penjelasan terkait abu tentu saja terkait dengan tradisi masyarakat Yahudi. Dalam tradisi Yahudi, abu adalah symbol atau tanda yang menyediakan banyak makna. Abu punya makna penyesalah dan pertobatan, perkabungan, tetapi juga punya makna keterbatasan atau ketidakabadian manusia.

Cerita tentang abu ini banyak dijumpai dalam Kitab Suci. Muncul pertama kali dalam kisah penciptaan. Melalui kisah penciptaan itu diingatkan bahwa kita semua diciptakan dari abu atau debu tanah (Kejadian 2:7). Suatu saat nanti kita semua akan mati dan kembali menjadi abu. Oleh karena itu, ketika seorang Pendeta memimpin ritual penguburan, ia akan menaburkan tanah di pekuburan, sebagai tempat peristirahatan terakhir, sambil berkata: “Kamu adalah debu dan akan kembali menjadi debu.

Selanjutnya ada kisah Mordekhai mengenakan kain kabung dan abu ketika ia mendengar perintah Raja Ahasyweros untuk membunuh semua orang Yahudi dalam kerajaannya (Est 4:1). Ayub menyatakan sesalnya dengan duduk dalam debu dan abu (Ayub 42:6). Daniel yang berkabung menyatakan “Lalu aku mengarahkan mukaku kepada Tuhan Allah untuk berdoa dan bermohon, sambil berpuasa dan mengenakan kain kabung serta abu.” (Dan 9:3). Yunus menyerukan agar orang berbalik kepada Tuhan dan bertobat, lalu kota Niniwe memaklumkan puasa dan mengenakan kain kabung, dan raja menyelubungi diri dengan kain kabung lalu duduk di atas abu (Yun 3:5-6).

Yesus pun menyinggung soal penggunaan abu: kepada kota-kota yang menolak untuk bertobat dari dosa-dosa mereka meskipun mereka telah menyaksikan mukjizat-mukjizat dan mendengar kabar gembira, Kristus berkata, “Seandainya mukjizat-mukjizat yang telah terjadi di tengah-tengahmu terjadi di Tirus dan Sidon, maka sudah lama orang-orang di situ bertobat dengan memakai pakaian kabung dan abu.” (Mat 11:21).

Semua cerita di atas menunjukkan bahwa abu digunakan sebagai simbol perkabungan penyesalan dan pertobatan.

Gereja Perdana mewariskan tradisi penggunaan abu sebagai symbol penyesalan dan pengampunan Tuhan. Tertulianus (160-220 M) menulis bahwa pendosa yang bertobat haruslah “hidup tanpa bersenang-senang dengan mengenakan kain kabung dan abu.” Eusebius (260-340 M) bercerita tentang seorang bernama Natalis datang kepada Paus Zephyrinus dengan mengenakan kain kabung dan abu untuk memohon pengampunan sekaligus tanda penyesalan dan pertobatan.

Penutup

Rabu Abu memiliki makna yang sangat dalam yang berakar pada tradisi Alkitabiah. Dalam ibadah, umat (yang bersedia dan bukan paksaan) dipersilahkan maju ke depan secara urut bergantian menuju pendeta yang sudah berdiri di depan mimbar untuk ditorehkan abu pada kening mereka.

Penorehan abu mengingatkan kita akan keterbatasan kita sebagai manusia.  Kita harus bertobat dari dosa yang telah kita lakukan. Tidak seperti Adam yang bersembunyi, kita memberanikan diri datang kepada Tuhan dan dengan segala kerendahan hati mengakui segala kelemahan dan dosa kita.

Melalui Rabu Abu kita nyatakan dengan tulus kepada Tuhan bahwa kita ingin bertobat. Kita ingin menjadi manusia baru! Kita tidak ingin lagi ego berkuasa tetapi Tuhan. Bukan kehendakku, tetapi kehendakMu.

Rabu Abu mengingatkan kita bahwa kini kita hidup dalam masa cinta kasih dan pengampunan Allah. Itulah sebabnya sebagai manusia baru kita bertekad membagi cinta kasih Allah ini kepada sesaama dan kepada dunia ini. Jadi, saudara semua diundang hadir untuk datang dan membarui kembali relasi dengan Tuhan dan dengan sesama.

Penulis: Pdt. Albertus Patty (GKI Maulana Yusuf)

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA