Seberapa Konkrit Seruan Gereja Bisa Mewujud?

Dalam merespon banyak isu, lembaga gereja memang sering mengeluarkan apa yang disebut sebagai seruan atau pernyataan sikap. Bisa jadi itu lahir lewat momen persidangan yang memang rutin, atau dikarenakan munculnya suatu isu yang harus segera direspon.

Ini merupakan tradisi yang sudah sedemikian lazim ketika kepemimpinan gereja sudah begitu terorganisasi dengan perangkat-perangkat strukturalnya. Saat memang ada jarak – karena jumlah, waktu dan tempat – antara pimpinan gerejawi dengan keseluruhan umat warga gerejanya.

Seruan itu bisa jadi dikeluarkan satu gereja sebagai bentuk penggembalaan, yang dominan berupa petunjuk atau penegasan ajaran, sebagaimana lazim kita lihat dalam ensiklik Kepausan atau sejumlah sinode yang bergaya Injili. Bisa pula dengan nada yang sifatnya lebih ke himbauan atau seruan keprihatinan bersama, sebagaimana lazim di organisasi kesatuan gereja, semisal PGI. Atau lebih mengarah pada seruan yang sifatnya memandu, sebagaimana kita juga jumpai di Sinode GKI.

Apakah seruan-seruan tersebut efektif dijalankan di tengah umat?

Tentu ada perbedaan terkait sifat seruan, struktur pengambilan keputusan di gereja, kelekatan permasalahan dengan kehidupan jemaat, serta kesiapan sosio-kultural gereja untuk menampung isu tersebut. Sayangnya, memang terkadang banyak sekali seruan yang baik dan amat progresif bagi gereja dan masyarakat, justru kurang terdengar gemanya. Di sisi lain, terkadang satu atau dua seruan terkait isu yang sensitif justru malah menyebar dengan sangat massif, tak jarang ditandai dengan kesalahpahaman.

Terkait seruan yang dikeluarkan PGI misalnya, jika ditanyakan pada warga awam Kristiani belakangan ini, seruan PGI mana yang paling mereka ingat. Umumnya akan lebih banyak menyoroti Pernyataan Pastoral PGI tentang LGBT, yang dikeluarkan Juni 2016. Sayangnya hal yang diingat pun lebih banyak menyangkut kontroversinya, ketimbang semangat yang ingin didorong dalam pernyataan pastoral tersebut.

Padahal, PGI sebelum dan sesudah pernyataan pastoral itu, sebenarnya cukup banyak menyerukan isu-isu penting lain semisal kesatuan gereja, penegakan HAM, sikap terhadap pemilihan pemimpin negara, kepedulian dan kesederhanaan, simpati pada korban kemanusiaan di sejumlah tempat, serta banyak seruan penting lain. Namun umumnya hanya berujung pada sekilas pemberitaan.

Mengambil contoh, kita bisa melihat seruan yang baru saja dikeluarkan PGI dan merupakan pesan dari Sidang Majelis Pekerja Lengkap PGI (MPL-PGI) bulan lalu (26-30/1) di Palopo. Pada bagian ajakan untuk warga gereja (poin ke-5), PGI menyerukan umat Kristiani untuk:

  1. Berpartisipasi aktif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara terutama untuk ikut mengatasi masalah-masalah kemiskinan, ketidakadilan, radikalisme dan kerusakan lingkungan melalui program-program yang konkrit sesuai dengan kebutuhan setempat;
  2. Menggemakan semangat keugaharian dimana gereja-gereja diharapkan mampu menjadi contoh pola hidup sederhana/bersahaja, melawan kerakusan/ketamakan, menolak perilaku koruptif, dan menanamkan nilai-nilai kejujuran yang diawali dari dalam keluarga dan gereja;
  3. Menumbuh kembangkan nilai-nilai persaudaraan dan saling menghargai di tengah masyarakat majemuk, mulai dari kehidupan keluarga, jemaat dan masyarakat; d) Mengembangkan etika berkomunikasi yang santun, terutama dalam pemanfaatan teknologi informasi yang semakin canggih dan media sosial;
  4. Mendorong semua warga gereja untuk menggunakan hak pilihnya secara bertanggung jawab, jujur, adil, berdasar pada hati nuraninya dan tidak terkontaminasi oleh politik uang;
  5. Memberikan pendampingan bagi para calon legislatif dan eksekutif pada semua lingkup untuk ikut dalam kontestasi secara jujur dan bermartabat.

Sangat baik bukan? Namun tentu seringkali sukar untuk menjauhkannya dari jerat kesan seremonial-normatif. Tanpa partisipasi yang jelas dalam tataran tiap sinode, lebih lagi di tiap jemaat lokal, seruan baik tadi mungkin hanya akan menjadi arsip yang kapan-kapan baru diakses lagi.

Semua pihak sebenarnya sadar, bahwa perubahan pola pikir dan peralihan perhatian memang tidak serta-merta bisa langsung terjadi di jemaat Kristiani. Bahkan di jemaat yang sangat singular, seperti Gereja Katolik pun, dimana seruan Paus punya otoritas yang lumayan besar, tidak selalu seruan itu direspon dengan tanggap.

Namun, tentu tidak pas pula jika seruan kelembagaan gereja pun hanya jadi pajangan dan arsip. Selagi lembaganya menyeru “ini, anu, dan apa,” masakkan jemaatnya malah sibuk dengan yang “itu-itu” saja? **arms

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA