Seri Dapur Sejarah: GKI Kebonjati

Dua Natal
Hari itu, Selasa 25 Desember 1945. Bentrok senjata sengit terjadi di dekat perbatasan Utara dan Selatan kota Bandung. Ada pertempuran antara barisan pendukung kemerdekaan Indonesia yang berbasis di Bandung dan pasukan gabungan Sekutu. Ini bermula dari kedatangan Sekutu di Bandung Oktober 1945, yang berbuntut sejumlah insiden dan ultimatum Sekutu yang mengklaim bagian Utara kota Bandung. Hal yang kemudian berujung pada peristiwa Bandung Lautan Api di bulan Maret 1946.

Namun kita tahu, hari itu adalah hari Natal. Perayaan Natal tetap berlangsung sederhana di satu bangunan di Jalan Kebonjati 40 (sekarang No. 100), bagian agak tengah dari Kota Bandung. Sekumpulan kecil jemaat Tionghoa Bandung berkumpul untuk bersekutu merayakan Natal. Ada pula momen untuk upacara permandian kudus bagi keluarga Tjoa Soen Kwat.

Suasana yang ada bukan sekedar khusyuk, tapi juga mencekam di tengah desing peluru. Sebagian jemaat yang berdomisili di utara Bandung bahkan tidak bisa kembali ke rumahnya.

Natal 1945 itu sekaligus menutup sementara kebaktian di gedung ini. Gedung kebaktian di Jalan Kebonjati yang merupakan bekas bangunan Zending Hopsital (sekarang Rumah Sakit Immanuel) baru bisa digunakan lagi satu setengah tahun kemudian…
*
Tapi, Natal di tahun kemerdekan Indonesia itu bukan satu-satunya Natal bersejarah bagi jemaat Tionghoa di Jalan Kebonjati. Sebelumnya, di kebaktian Natal 25 Desember 1924, jemaat ini juga punya catatan tersendiri. Saat itulah mereka mulai memakai bekas gedung Zending Hospital untuk merintis kebaktian khusus bagi jemaat Tionghoa kota Bandung. Setelah sebelumnya di Maret 1924 majelis dan perangkat jemaat terbentuk.

Keberadaan jemaat Tionghoa di Bandung, memang sudah berlangsung sejak abad sebelumnya. Padahal, awalnya mereka tidak menjadi sasaran misi dari lembaga misi Belanda di Jawa Barat (Nederlandse Zendelings Vereeniging, NZV). Pencarian spiritual mandiri keluarga-keluarga Tionghoa di Bandung, yang justru yang mengantar mereka bergabung ke jemaat Kristen.

Cerita seperti Thung Goan Hok, anggota jemaat Tionghoa Bandung pertama di NZV, yang meminta sendiri untuk dibaptis pada Desember 1888 adalah contoh dari pencarian yang demikian. Jelang pergantian abad ke-19, sudah ada puluhan orang Kristen Tionghoa di Kota Bandung, yang bersekutu bersama di gedung gereja NZV Jl. Kebonjati 46 (sekarang No. 108, yang merupakan gedung Gereja Kristen Pasundan). Sebelum akhirnya mereka merintis kebaktian sendiri di Natal tahun 1924 tadi.

 Mengalami Semua Dinamika
Jelas bahwa jemaat Tionghoa di Jl. Kebonjati ini merupakan salah satu yang tertua di Jawa Barat. Pun terlibat dalam semua sepak-terjang pembangunan organisasi jemaat Tionghoa.

Jemaat Kebonjati terlibat mulai dari pembentukan Bond Kristen Tionghoa (BKT) 1926, Chung Hua Chi Tuh Chiao Hui (CHTCCH) 1938, hingga puncaknya bersama jemaat Tionghoa di Patekoan dan Senen, Jakarta serta jemaat Tionghoa di Indramayu dan Cirebon, jemaat ini membentuk Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee Kho Hwee Djawa Barat (THKTKH KHDB) pada 12 November 1938, yang kemudian diresmikan oleh NZV pada 24 Maret 1940. Organisasi yang sekarang kita kenal sebagai GKI Sinode Wilayah Jawa Barat.

Boleh dikatakan, jemaat Kebonjati mengalami semua perubahan struktural dan dinamika yang terjadi di lingkup GKI. Baik sejak ada di bawah struktur NZV, merintis kebaktian tersendiri untuk warga Tionghoa, berada sebagai bagian paralel dari Gereja Pasundan, membentuk kemandirian gereja bersama jemaat Tionghoa lain, hingga era keterbukaan dan pergantian nama, menjadi gereja yang meng-Indonesia.

Tidak semua mulus memang, namun jemaat ini terus bertahan…

Hal itulah yang menjadi refleksi panjang untuk gerak GKI Kebonjati di masa sekarang. GKI Kebonjati telah merintis sejumlah GKI lain di sekitar Bandung. Jemaat ini sekarang dilayani 6 pendeta, puluhan majelis serta anggota yang masuk hitungan ribuan, dengan menjalankan 9 kebaktian (3 kebaktian umum, 1 Kebaktian Pos, 2 Kebaktian remaja, 1 kebaktian pemuda dan 2 kebaktian sekolah minggu). Perkembangan itu bukanlah beban, namun justru bekal jalan yang amat kaya.

Pelayanan masyarakat yang sejak awal telah hadir sebagai buah pelayanan Kristiani di kota Bandung, tetap menjadi perhatian besar jemaat ini, lewat sejumlah bakti sosial dan berbagai acara lintas iman. Demikian pula sejumlah rintisan jemaat baru yang berasal dari kebaktian anak, remaja atau kaum muda (semisal GKI Cimahi, GKI Maulana Yusuf dan GKI Pasirkaliki), mengisyaratkan kepedulian gereja pada generasi berikutnya.

Kini menjelang genap tahun ke-94 keberadaannya di Bandung, GKI Kebonjati terus berjalan. Terus mengajak sebanyak mungkin jemaat untuk berbagi, peduli dan penuh sukacita melayani. **arms

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA

One thought on “Seri Dapur Sejarah: GKI Kebonjati

Comments are closed.