Bicara Kebangsaan di 2018

Belum genap seratus hari tahun 2018 berjalan, kita sudah disuguhi berita yang bertubi-tubi tentang ditangkapnya beberapa kepala daerah, baik walikota, bupati, anggota DPRD dan pejabat-pejabat daerah lainnya, mereka terjerat Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Sementara itu penegak hukum lainnya yaitu Polisi, juga melakukan banyak penangkapan terhadap beberapa artis dan selebritas terkait penggunaan, kepemilikan bahkan peredaran narkotika dan obat obatan terlarang.

Awal yang memprihatinkan di tahun 2018 ini. Para pemimpin dan public figure yang diharapkan menjadi suri tauladan masyarakat, perilakunya malah menjadi cibiran banyak orang.

Tahun ini juga disebut sebagai tahun politik, dengan akan diselenggarakannya Pilkada serentak di banyak daerah, apalagi tahun 2019 nanti Pemilihan Umum menjadi agenda besar rakyat dalam memilih Kepala Negara dan wakil-wakil rakyat di Parlemen. Suhu politik pasti akan menghangat menuju panas, seperti halnya Pilkada DKI tahun lalu, segala macam berita yang bermuatan ujaran kebencian, SARA dan hoax akan bertebaran terutama di media sosial. Hal ini sangat potensial akan mengoyak tenun kebangsaan yang dengan susah payah telah dirajut oleh pendiri bangsa ini.

Pada saat kita secara kasat mata dapat menyaksikan bertumbuh suburnya tempat-tempat ibadah di pelbagai sudut kota, gereja dari berbagai denominasi bermunculan bahkan di bangunan ruko dan menyewa ruangan di pusat perbelanjaan, tentu hal ini diharapkan juga secara linier akan meningkatkan kualitas kehidupan rohani umat dan akan berujung pada kemampuan masyarakat memilih nilai-nilai hidup yang benar.

Tidak semua harapan terwujud dengan mudah, ternyata tidak ada korelasi yang langsung atas maraknya kehidupan religius dengan meningkatnya spiritualitas seseorang. Seringkali kita mengambil jalan pintas dan instant untuk meraih keberhasilan duniawi yang biasanya ukurannya adalah harta.

Meskipun keberadaan kita sebagai orang-orang yang percaya dan beriman kepada Kristus, adalah minoritas di negeri ini, sebagai individu maupun gereja kita wajib terus menerus menyuarakan suara kenabian yang mengutamakan kebenaran, kejujuran, cinta kasih namun tetap berani mengoreksi hal-hal yang tidak benar. Para pendeta dan pengkhotbah juga diharapkan untuk tidak ragu dan lebih berani menyampaikan dan memberikan edukasi melalui mimbar, hal-hal berkaitan dengan kehidupan berbangsa dan situasi politik saat ini.

Tidak sedikit gereja juga sibuk dan bekerja keras mengumpulkan dan menimbun “berkat” dari Tuhan demi kemegahan dan kemewahan gedung gerejanya, sehingga mengabaikan hakikat misi gereja menjadi terang dan garam dunia, menjadi saluran berkat untuk orang dan golongan di masyarakat yang berkekurangan, “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku.” (Lukas 4 : 18).

Gereja Kristen Indonesia, melalui Badan Pekerja Majelis Sinode Wilayah GKI Sinode Wilayah Jawa Barat sejak tahun lalu, tepatnya pada 1 Juni 2017 telah membentuk unit pelayanan dengan nama Gerakan Kebangsaan Indonesia. Besar harapan tentunya dari badan ini, bersama jemaat-jemaat GKI di manapun, selain misi utamanya yaitu gerakan nasionalisme dan Bhinneka Tunggal Ika, juga bisa menggagas gerakan moral untuk menangkal segala macam berita-berita fitnah, ujaran kebencian, intoleransi serta perang terhadap narkoba, demi menjaga keutuhan bangsa.

Sebagai penutup, ada baiknya kita mengutip pesan dari tokoh Kristen yang berkiprah di pemerintahan tahun limapuluhan dan enampuluhan yaitu Dr. Johannes Leimena, “Umat Kristen tidak dapat membagi kehidupannya dalam dua lapangan yang terpisah sama sekali: kehidupan batin dan kehidupan politik. Kerajaan Allah harus dikabarkan dalam semua lapangan kehidupan, juga dalam lapangan politik.

Penulis: Pnt. Eko Setiawan (GKI Samanhudi)

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA