Mendaki dan Mengenal Gunung Sampah

Gunung sampah bukanlah hal yang indah atau menarik bagi sebagian besar orang. Sebaliknya, malah dilekatkan dengan istilah jorok, kotor, bau, dan sebagainya. Begitulah kesan tentang Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, nama yang tidak asing di telinga masyarakat Bekasi dan Jakarta. Tempat yang mungkin hanya dianggap sebagai ‘tong sampah’ terakhir.

Benarkah demikian? Berangkat pagi hari dengan pikiran: “Bagaimana jika bau?” atau “Tempatnya pasti amburadul!” Begitulah perasaan ‘wajar’ orang yang harus pergi ke sana. Maklum, tidak ada orang yang respek kalau belum tahu di dalamnya.

Sampai di gerbang TPST Bantar Gebang, gunungan 8.000 ton sampah yang ditimbun tiap harinya menjadi pemandangan pertama. Tetapi, walau hanya rongsokan, banyak yang menarik dari timbunan ini. Seringkali orang yang berkunjung ke sini tidak memperhatikan bahwa ada sebuah pipa gas yang memisahkan dan menyalurkan gas metan yang berbahaya. Juga jarang orang mengetahui, bahwa di bawah timbunan sampah tersebut ada sebuah pipa hitam berlubang dan bermantelkan pipa putih yang menjaga air sampah menjauh dari sumber air tanah.

Tentu, jarang orang yang tahu. Bagaimana dengan air sampahnya? Apakah dibuang begitu saja? Tidak. Tidak ada yang terbuang begitu saja di sini. Di TPST Bantar Gebang, terdapat instalasi bernama IPAS (Instalasi Pengolahan Air Sampah). Di sini air diolah dengan saksama, disaring, diberi penjernih air, dan jika belum aman untuk dibuang, maka proses tersebut akan diulang kembali. Sebuah fun fact yang jarang diketahui bukan?

Lalu bagaimana dengan sampahnya sendiri? Ada beberapa pilihan untuk dilakukan: ditimbun, dimusnahkan, atau dimanfaatkan. Sederhananya, jika masih aman, akan ditimbun, jika tidak dapat ditimbun lagi atau merupakan sampah yang berbahaya, maka akan dimusnahkan. Jika sampah tersebut dapat diolah, maka akan diolah menjadi pupuk. Menarik bukan?

Sampah-sampah itu akan dipisahkan, digiling, dihaluskan, dan disaring sehingga menjadi pupuk. Melihat jumlah sampah tersebut, tak dapat dibayangkan berapa kilo atau bahkan berapa ton pupuk yang telah dihasilkan di sana. Walaupun TPST Bantar Gebang adalah “rumah” bagi sampah, bukan berarti tidak eco-friendly.

Berdampingan dengan sebuah kampung pemukiman, TPST Bantar Gebang tentu tidak bisa sembarangan mendempet tetangganya. Maka, dibuatlah green belt, batas yang berupa tanaman-tanaman hijau yang tentunya subur karena pupuk sampah yang diolah sendiri. Sulit dipercaya, di green belt hawanya segar dan tidak terlalu bau. Bahkan terdapat sebuah kolam ikan yang jernih dan menyejukkan mata, sangat menarik berada di tempat pembuangan.

Di TPST Bantar Gebang juga terdapat kisah mengharukan. Kisah tentang anak-anak yang mengais sampah, rela berhenti sekolah dan membanting tulang demi membantu orangtua. Ini bukan fiksi belaka. Banyak anak-anak di sana yang butuh perhatian, bantuan, dan solidaritas kita. Kita bisa mendoakan dan memberi bantuan, agar kehidupan mereka di sana menjadi lebih baik dan lebih layak.

Ternyata, gunung sampah bukan sekedar onggokan sampah yang tak berguna. Ada banyak manfaat dan pelajaran yang dapat kita petik dari sana. Kita dapat belajar untuk mensyukuri dan memanfaatkan apa saja yang Tuhan berikan bagi kita. Kita diingatkan bahwa apa saja dapat menjadi berguna, selama diolah dengan penuh kesabaran dan keikhlasan dalam menggunakan waktu maupun tenaga. Dan ternyata, TPST Bantar Gebang tidak seperti yang orang kira. TPST Bantar Gebang bukan tempat yang amburadul dan berantakan, melainkan tempat di mana sampah diatur, ditata, dan juga dimanfaatkan dengan sangat saksama.

Akhir kata, sejorok apa pun, sekotor apa pun, sedekil apa pun, dan sebau apa pun, sampah memberi manfaat tersendiri. Mari kita selalu mensyukuri, mengolah dan memanfaatkan setiap pemberian Tuhan dengan sebaik-baiknya.

Penulis: Aryo Pangemanan, peserta Pelatihan Menulis Reportase yang diadakan oleh Tim Perpustakaan GKI Kemang Pratama (28 November 2016). Tulisan ini merupakan praktik reportasenya yang dimuat dalam Buletin Mercusuar GKI Kemang Pratama Edisi 44.

Foto: Aryo dan Daily Mail

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA