Strategi Digital Kaum Muda untuk Isu Kebangsaan

Di tengah presentasinya Savic Ali menampilkan satu video pendek berisi iklan dari situs penjualan online terkemuka, Amazon. Video yang dirilis untuk iklan komersial Natal dua tahun lalu itu begitu menyentuh. Bercerita tentang persahabatan seorang pendeta gereja Anglikan dan seorang imam masjid di London, yang sudah agak lanjut usia. Mereka sama-sama mengeluhkan kondisi lututnya. Uniknya, karena sama-sama peduli mereka saling menghadiahkan knee-pad (pelindung lutut). Hal yang sangat membantu tugas pelayanan mereka masing-masing, yang beberapa kali melibatkan posisi berlutut.

Siswa-siswi SMAK BPK Penabur Kota Wisata Bogor, yang mendengar presentasi Savic, langsung bertepuk tangan begitu video pendek itu selesai. Mereka mengaku tersentuh oleh iklan yang sedemikian sederhana namun sangat mengena itu.

Nah, di Indonesia kita masih kurang iklan yang begini, kan?” Tanya direktur situs NU Online itu pada 200-an siswa-siswi dan kaum muda. “Tugas kawan-kawan dan kita semua bisa menghasilkan hal-hal kreatif yang menyentuh dan mempersatukan seperti ini. Ini sebenarnya iklan komersial, tapi bisa menyentuh juga sisi sosial. Di banyak hal lain ada banyak celah yang bisa diisi.

Savic kemudian menyoroti fenomena hoax yang begitu memecah-belah, bahkan terkadang melampaui rasionalitas dan cenderung punya hasrat yang besar untuk menghina, mencemooh atau menjatuhkan. Itu terjadi di semua kalangan, termasuk anak-anak muda.

Seringkali itu tidak bisa diatasi dengan bantahan yang rasional. Orangnya tetap ngeyel. Mereka memang harus ditegur, tapi mungkin proses berpikirnya sedang tidak sinkron, karena berkutat di satu informasi atau pergaulan saja. Nah jangan ditinggal, tapi terus kita temani dalam keseharian dan berikan pengalaman yang berbeda,” usul Savic.

Bahasan ini juga diceritakan dengan cara yang berbeda oleh Gildas Deograt Lumy dari Forum Nasional Bhinneka Tunggal Ika. Menurut Gildas, kaum muda perlu lebih mawas diri dalam teknologi informasi. Perlu bisa membedakan dengan kritis agar apa yang ditampilkan dalam dunia maya dan keseharian itu selaras, serta tidak bertentangan dengan nilai-nilai yang dianut.

Kedua praktisi media digital itu mengisi sesi kedua Seminar Kebangsaan bertajuk Garuda Pancasila Akulah Pendukungmu pada Sabtu (3/3) di Aula SMAK BPK Penabur Kota Wisata, Bogor. Sesi ini merupakan sesi yang lebih mengarah pada tindak lanjut dan aplikasi dalam acara yang diinisiasi oleh Gerakan Kebangsaan Indonesia itu.

Para peserta diharapkan dapat menghasilkan sekian banyak konten kreatif (foto, meme, tulisan, vlog, dll) yang bertema kebangsaan) di sejumlah platform media sosial populer, serta mengorganiasi diri dalam semangat yang sama, menyerukan kecintaannya pada bangsa. **arms

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA