Ada Apa dengan Tubuh (1)

“Semoga semakin banyak jiwa-jiwa yang diselamatkan ya.”
“Sebagai orang Kristen kalian harus bisa membawa jiwa-jiwa baru kepada Kristus.”
”Puji Tuhan, gereja yang saya layani bertumbuh dengan adanya 500 jiwa lebih yang bersekutu.”

Tiga pernyataan di atas terbilang sering diucapkan oleh orang Kristen, saya sendiri mendengarnya dalam beberapa kesempatan. Kira-kira apa yang dimaksud dengan kata jiwa pada pernyataan-pernyataan di atas? Apakah sekedar sebagai majas pars pro toto, yakni penggunaan kata yang menunjuk sebagian (jiwa) untuk menunjuk pada keseluruhan (diri manusia)? Ataukah menonjolnya pemikitan bahwa dalam hidup ini, urusan tentang jiwa (atau roh) yang terpenting?

Umumnya, ketika orang Kristen lebih menaruh perhatian terlalu besar pada hal yang terkait dengan jiwa (atau hal rohani), akan menganggap kegiatan-kegiatan tertentu, seperti: mengikuti persekutuan doa, pemahaman Alkitab, kelas pembinaan, kelas penginjilan, dan kegiatan lain yang sejenis, sebagai kegiatan yang lebih penting dari yang lainnya. Ayat Alkitab yang kerap dipakai untuk menganggap kegiatan-kegiatan tersebut sebagai yang lebih penting adalah ”Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu,” (Mat. 6:33).

Tanpa bermaksud menafikan kebenaran ayat tersebut, saya tidak setuju dengan pemahaman dualistis yang menganggap yang jiwa atau roh jauh lebih penting daripada yang lainnya. Setidaknya ada dua keberatan utama terhadap pemahaman dualistis tersebut.

Pertama, menganggap urusan tentang jiwa sebagai yang terpenting, bisa membuat orientasi manusia mengarah melulu pada kehidupan nanti dan di sana. Artinya yang dipentingkan adalah hal-hal atau kegiatan yang bisa menggiring manusia meraih keselamatan kekal itu. Padahal karya keselamatan yang Allah kerjakan juga mencakup aspek kini dan di sini. Itulah yang Yesus kerjakan juga selama hidup-Nya: memberi makan orang banyak, menyembuhkan orang sakit, atau bercakap-cakap dengan mereka yang termarjinalkan secara sosial.

Kedua, menganggap urusan tentang jiwa sebagai yang terpenting, bisa membuat manusia merasa tidak perlu memerhatikan dengan sungguh unsur diri manusia yang lainnya, seperti: tubuh. Padahal tubuh merupakan bagian diri manusia yang dengannya Allah dirasakan, dikenali, dan lalu dimuliakan. Atau, kalaupun perhatian terhadap tubuh sudah dilakukan, pertanyaannya adalah, ”Sudahkah ia dikaitkan dengan panggilan dan peran spiritual dari tubuh?

Dalam Alkitab, memang terdapat suatu ajakan atau panggilan untuk memuji atau memuliakan Allah dengan jiwa kita. Dalam Mazmur misalnya, terutama pada pasal 103 dan 104, ada sejumlah ayat yang menyatakan, ”Pujilah TUHAN, hai jiwaku!” Sementara dalam Perjanjian Baru, panggilan untuk memuliakan Tuhan nampak dalam Magnificat (nyanyian pujian Maria) sebagaimana ketika dikatakan, ”Jiwaku memuliakan Tuhan.

Namun tidak hanya disitu. Sebab pada bagian Alkitab lainnya, panggilan untuk memuliakan Allah itu dimiliki juga oleh tubuh, misalnya surat Korintus yang berbunyi, ”Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!

Dari uraian di atas, nampaklah bahwa panggilan untuk memuliakan Allah itu mencakup keseluruhan diri kita. Bukan hanya jiwa yang penting dalam memuliakan Dia, sebab tubuh pun memiliki panggilan yang sama. Itu artinya, perhatian hidup kita, tidak boleh melulu ditujukan pada apa-apa yang berkaitan dengan jiwa, melainkan juga terhadap keseluruhan unsur diri kita.

Mungkin karena ketimpangan pemahaman yang melebihkan unsur jiwa, ada baiknya kita mulai mengkaji dan memberi perhatian khusus pada panggilan dan upaya apa saja yang bisa kita lakukan untuk memuliakan Allah di dalam dan melalui tubuh kita…

Penulis: Pdt. Natanael Setiadi (GKI Kayu Putih)

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA