Ada Apa dengan Tubuh (2)

Ya Allah, Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau, jiwaku haus kepada-Mu, tubuhku rindu kepada-Mu, seperti tanah yang kering dan tandus, tiada berair,” (Mazmur 63:2).

Ayat ini menunjukkan secara sederhana bahwa tubuh pun memiliki panggilan dan peran spiritual yang tidak kecil.

Perlu diketahui, kata ‘tubuh’ yang dipakai dalam ayat ini adalah basar yang lebih tepat diterjemahkan sebagai ‘daging.’ Dalam Alkitab Perjanjian Lama, terdapat 80 bagian tubuh yang disebutkan, namun tidak ada satu kata Ibrani pun yang merujuk pada keseluruhan tubuh. Kata basar itulah yang paling dekat maknanya dengan tubuh.

Mengapa demikian? Alasan utama mengapa orang Ibrani tidak memiliki kata yang spesifik untuk tubuh adalah bahwa bagi mereka manusia bukanlah suatu jiwa yang terpenjara atau terinkarnasi, melainkan suatu tubuh yang hidup (an animated body). Manusia tidak memiliki suatu tubuh, justru manusia itu adalah suatu tubuh. Jadi, orang Ibrani memandang manusia sebagai satu kesatuan antara yang fisik dan jiwani (psycho-physical). Tubuh dapat dikatakan menjadi jiwa dalam bentuk di sebelah luarnya.

Sebagaimana kata basar menunjuk keseluruhan makhluk hidup, kata nephesh (jiwa) dan ruach (roh) – yang dapat dipakai dalam beragam makna (nephesh = tenggorokan, leher, perut, makhluk hidup; ruach = angin, nafas, kekuatan yang sangat penting) – juga dapat menunjuk pada keseluruhan makhluk hidup dan tidak menunjuk pada sesuatu yang nonmaterial, zat diri yang terpisah dari tubuh. Karena itu, ketika pemazmur mengatakan, ”Jiwaku haus kepada-Mu,” maka itu berarti bukan hanya jiwa si pemazmur saja yang merasakan haus itu, tapi keseluruhan dirinya.

Pemahaman tentang kesatuan diri manusia, juga nampak dalam narasi penciptaan. Manusia diciptakan oleh Allah sebagai kesatuan fisik-jiwani dan baik adanya (Kejadian 1:26-31). Bahkan, jika teks kedua tentang Penciptaan dilihat, yakni Kejadian 2:7, kita dapat melihat adanya kesatuan tubuh dan jiwa (nafas hidup). Tubuh bukanlah sesuatu yang buruk, sebab Allahlah yang membentuk ’tubuh’ manusia dari debu tanah. Pun begitu dengan jiwa manusia, Allahlah yang menghembuskan nafas kehidupan kepadanya. Jadi, kita melihat bahwa baik tubuh maupun jiwa adalah baik.

Sementara dalam Perjanjian Baru, kita pun dapat menemukan pemahaman akan kesatuan diri manusia. Pertama, kita akan melihat catatan Injil. Injil-injil memiliki sikap yang positif terhadap tubuh. Dalam Injil Yohanes, Yesus digambarkan sebagai Firman yang menjadi daging (Yohanes 1:14).

Di satu sisi, hal ini sebenarnya sejalan dengan pemahaman orang Yahudi tentang kesatuan fisik-jiwani manusia. Di sisi lain, dengan fakta bahwa Firman (sesuatu yang baik) menjadi daging, maka ini menjadi pembeda yang tegas dengan alam pikir Yunani yang didominasi pemikiran dikotomis antara tubuh dan jiwa, di mana ada yang menganggap tubuh (materi yang jahat) sebagai penjara jiwa (materi yang baik).

Kita dapat melihat sikap positif tersebut lewat tindakan Yesus terhadap tubuh manusia. Misalnya saat Yesus memulihkan dan menyembuhkan penyakit fisik. Ada juga berbagai kisah bagaimana Yesus memelihara tubuh lewat tindakan, misalnya saat Yesus makan dengan pemungut cukai dan orang-orang berdosa, Yesus memberi makan 5000 orang atau ketika Ia beristirahat…

Penulis: Pdt. Natanael Setiadi (GKI Kayu Putih)

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA