Ada Apa dengan Tubuh (3)

Bukankah ada ayat-ayat Alkitab yang memberi kesan merendahkan tubuh?

Beberapa kali rasul Paulus pernah menulis betapa keinginan daging dan mausia kedagingan itu memang posisinya dipertentangkan dengan manusia rohani. Hal ini diulang oleh sejumlah Injil dan penulis surat perjanjian baru. Semuanya menekankan betapa lemah dan rendahnya tubuh fisik dibandingkan kerohanian.

Yesus sendiri pernah berkata ”Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?” (Matius 6:25).

Jika ditinjau lebih jauh ada dua kata Yunani yang dipakai di ayat tadi, yakni soma (tubuh) dan psukhe (diterjemahkan sebagai hidup, namun bisa juga diartikan sebagai jiwa atau diri [self]). Yesus tidak hendak memisahkan antara soma dan psukhe, sebab Yesus hidup dalam alam pikir Yahudi yang memahami kesatuan fisik-jiwani manusia.

Injil Matius, ditujukan untuk suatu komunitas campuran yang terdiri dari orang Kristen Yahudi dan orang Kristen Yunani. Mereka nampaknya tinggal di daerah perkotaan, kemungkinan di Antiokhia, Syria (perhatikan penggunaan kata ”kota” tidak kurang dua puluh enam kali, sementara kata ”kampung” hanya empat kali dalam Injil ini). Nampak bahwa penulisan kembali pengajaran Yesus dalam Kotbah di Bukit itu tertuju kepada orang-orang kaya, apalagi ayat yang mendahului ”Hal Kekuatiran” (Mat. 6:25-34) didahului oleh ajaran Yesus tentang ”Hal Mengumpulkan Harta” (Mat. 6:19-24).

Budaya populer kaum berada pada waktu itu amat dipengaruhi kosmpolitan Helenisme. Ada kemungkinan besar komunitas sasaran Injil Matius berhadapan dengan pengaruh filsafat Cyrenaik yang menekankan kesenangan tubuh, di mana salah satu cara pengungkapannya adalah lewat makan dan minum pesta-pora.

Jadi, kekuatiran disini tidak terkait dengan kekurangan, melainkan kebingungan di tengah kelimpahan dan pengaruh gaya hidup sekelompok masyarakat Helenis yang mengutamakan kesenangan tubuh. Di sinilah kita dapat mengerti apa maksud pengajaran ”hidup lebih penting daripada makanan dan tubuh lebih penting daripada pakaian.

Kedua, kita perlu juga mempertimbangkan pemikiran Paulus – penulis sebagian besar surat-surat rasuli dalam Perjanjian Baru. Paulus menggunakan dua kata Yunani untuk mengungkapkan keberadaan manusia, yakni sarx (biasa diterjemahkan sebagai ”daging”) dan soma (”tubuh”). Kata sarx dipakai untuk menunjukkan area dari keberadaan manusia yang tidak berorientasi Allah, yang tidak memiliki tujuan melakukan kehendak Allah. Itulah sebabnya, dalam surat-surat rasuli, muncul frasa ”keinginan daging”, dalam nuansa yang negatif.

Sementara kata soma dipakai Paulus untuk mengungkapkan dimensi fisik dari eksistensi manusia dalam kepenuhannya sebagai sesuatu yang diciptakan untuk kemuliaan Allah. Tubuh dalam pengertian soma juga dijadikan ilustrasi hubungan Kristus dan gereja. Dari pemahaman tentang soma tersebut, tidak heran jika Paulus menasihatkan jemaat Roma untuk mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan kepada Allah, atau ajakannya kepada jemaat Korintus yang digoda oleh bahaya percabulan, untuk memuliakan Allah dengan tubuh.

Ilustrasi tubuh yang positif juga ada dalam tulisan Paulus lainnya. Nampak bahwa istilah ”melatih tubuh”, ”berlari-lari” bahkan ”memuliakan Allah dengan tubuh” yang digunakan Paulus menunjuk pada perilaku dan kehidupan yang dijaga sesuai kehendak Allah.

Penulis: Pdt. Natanael Setiadi (GKI Kayu Putih)

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA