Belibet Lieur

Satu kali dalam sebuah ibadah pembukaan konven pendeta GKI Klasis Jakarta Utara, dinyanyikanlah lagu-lagu komunitas Taizé. Salah satu lagu Taizé yang dinyanyikan dalam ibadah pembukaan konven itu adalah terjemahan dari lagu Jerman berjudul Bleibet Hier, yang secara harafiah berarti tinggallah disini (dalam versi Indonesia lagunya jadi berjudul Tinggal Bersama Aku). Setelah ibadah selesai, seorang rekan pendeta mempelesetkan judul lagu itu menjadi belibet lieur. Frasa campuran Sunda dan Betawi yang kira-kira berarti kusut tak beraturan.

Lagu berlirik pendek itu sebenarnya sangat indah. Syairnya hanya berbunyi: “Tinggallah bersama Aku, di dalam doa, di dalam doa.” Lewat lagu ini, orang diajak untuk masuk ke dalam persekutuan dengan Tuhan di dalam kedamaian doa.

Namun pelesetan rekan pendeta itu membawa saya pada perenungan yang lebih mendalam, terkait kota Yogyakarta tempat saya sekarang melayani sebagai dosen…

Saya ingat pada masa lalu Yogyakarta dikenal sebagai kota yang tenang. Hal itu ditandai oleh penggunaan sepeda kayuh dan delman sebagai alat transportasi masyarakat. Kota ini pun memiliki jam belajar pada malam hari sehingga jalanan tampak lengang dan tenang pada jam-jam tersebut.

Kini Yogyakarta sudah berubah. Banyak pembangunan hotel, mal dan tempat kuliner. Kendaraan bermotor pun semakin memadati kota Yogyakarta. Ini membuat banyak pengguna sepeda kayuh tersingkir. Para pengguna sepeda kayuh tidak lagi merasa aman dan nyaman menempuh jalan raya. Para pejalan kaki juga merasa demikian. Selain oleh karena ruang gerak menjadi sempit akibat para pedagang kaki lima, tidak jarang pengguna sepeda motor melintas atau memarkir di trotoar.

Juga beberapa tahun lalu warga Yogyakarta dikenal ramah. Di dusun-dusun dan kota, orang-orang sering saling menyapa ketika berpapasan. Kebersamaan warga terasa hangat dan akrab. Lirik lagu Yogyakarta KLA Project melukiskan situasi kehangatan dan keakraban kota pariwisata ini: “… tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna.” Tapi kini, di kebanyakan daerah, apalagi di kota, banyak warga mulai bersikap sendiri-sendiri atau cari kesenangan sendiri saja.

Yogyakarta tidak lagi menjadi kota yang menawarkan ketenangan dan keramahan. Sudah belibet lieur

Merenungkan Yogyakarta dan pelesetan lagu tadi seolah menyadarkan bahwa dalam hidup yang serba cepat dan sarat penat, atau belibet lieur, banyak orang sebenarnya membutuhkan ruang dan waktu untuk menenangkan diri. Ruang dan waktu persekutuan yang penuh kedamaian dengan Allah dan sesama.

Lagu Bleibet Hier atau Tinggallah Bersama Aku itu memuat pesan yang penuh rahmat bagi kita, yaitu agar kita tinggal di dalam persekutuan dengan Allah yang membawa kedamaian sejati bagi kita dan sesama. Bukankah Tuhan Yesus Kristus berkata, “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. … Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku, kamu tidak dapat berbuat apa-apa…” (Yoh. 15:4-5)?

Semoga siapapun yang belibet lieur mau menyambut undangan bleibet hier dari Tuhan. Lalu menghidupi kehidupan yang mengundang orang lain yang belibet lieur untuk mereguk ketenangan dan rahmat…

Penulis: Pdt. Hendri M. Sendjaja (pendeta GKI Samanhudi dengan penugasan khusus ke Universitas Kristen Duta Wacana).

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA