Himne di Perjanjian Baru

Teks kitab suci yang berupa himne tidak hanya terdapat dalam Perjanjian Lama, seperti pada Kitab Mazmur, Kidung Agung atau Ratapan. Dalam teks-teks Perjanjian Baru, kadang kita juga menemukan bagian yang berbentuk himne atau madah pujian.

Nyanyian-nyanyian ini kemungkinan besar merupakan nyanyian paling tua yang dinyanyikan oleh gereja. Dalam kitab-kitab Perjanjian Baru, kita memang melihat dengan jelas betapa kidung pujian menjadi ciri utama jemaat Kristiani awal. Himne memang selalu ada di setiap pertemuan orang Kristen. Selain menyanyikan pujian yang sudah lazim di jemaat Yahudi, jemaat Kristiani pun akhirnya mengembangkan kidungnya sendiri.

Dalam teks Perjanjian Baru Yunaninya himne memang bisa diketahui dengan sejumlah ciri. Antara lain dari bentuk sastranya, ritmenya, kosakatanya yang tidak begitu lugas, tata bahasa atau susunannya. Disadari sepenuhnya bahwa membedakan himne dengan narasi biasa tidak selalu mudah. Himne tersebut mungkin digubah langsung oleh penulis kitab-kitab atau surat-surat dalam Perjanjian Baru, namun mungkin pula merupakan kutipan sebagian atau bahkan keseluruhan himne yang sudah ada sebelumnya.

Bahasa sebuah himne tentu saja tidak sama dengan prosa, melainkan lebih dekat dengan puisi, atau lebih tepatnya, merupakan kidung pujian. Makna kata-katanya dapat lugas, namun seringkali begitu simbolik. Dalam himne tentu terdapat pribadi atau sesuatu yang menjadi subjek pujian atau ucapan syukur.

Contoh himne yang dapat dikenali adalah penggalan surat Korintus yang pertama (1 Korintus 1:22-24, 30-31). Disini ada indikasi bahwa Paulus mengidentifikasi Yesus sebagai Hikmat karena hal itu terdapat di awal surat. Dapat dikatakan bahwa ayat-ayat tersebut merupakan dasar utama bagi kristologi hikmatnya. Ini sangat lekat dengan kidung pujian tentang hikmat, yang merupakan representasi Firman Allah dalam diri Mesias yang ada dalam tradisi rabbinik Farisi-Yahudi dan berkembang sekitar abad-abad awal Masehi.

Contoh lain adalah himne tentang kenosis (pengosongan diri) Kristus di Filipi 2:5-11, yang memang begitu jelas ciri puitiknya. Dimana seruan agar hidup bersama dalam jemaat dipatronkan pada teladan Yesus yang telah mengosongkan diri.

Beberapa himne sampai sekarang masilh dipelihara dalam kidung gerejawi, meski tentu saja nada dan iramanya sudah berbeda. Antara lain mada pujian Maria yang dikenal dengan Magnificat, Jiwaku Memuliakan Allah (Lukas 1:46-55), atau lagu pujian Malaikat Gloria in excelcis (Lukas 2:14). **arms

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA