Hupomone

Alkitab beberapa kali memakai kata hupomone untuk ketabahan. Hupomone secara sederhana dapat diterjemahkan sebagai “kemampuan untuk bertahan pada suatu posisi melampaui batasan waktu yang diharapkan.” Ia bukan saja berarti “bertahan,” namun terlebih “bertahan untuk bertahan.

Sikap bertahan ini bukanlah sekadar sebuah kesabaran yang pasif sembari menanti persoalan akan usai dengan sendirinya, seiring dengan berjalannya waktu. Ketabahan adalah sebuah sikap aktif yang bersedia berjalan maju dan memperjuangkan apa yang kita yakini sebagai kebenaran. Karena itu, ketabahan atau ketekunan adalah sebuah kebajikan Kristiani yang sangat luhur.

Dalam pengertian hupomone, selain kesabaran, juga ada unsur continue yang mengandaikan serangkaian tindakan yang terus menerus dilakukan. Dalam tindakan yang terus-menerus ini jelas terlihat semangat yang tidak mudah dipadamkan, termasuk juga kerajinan yang tidak mudah merasa bosan. Putus asa merupakan suatu keadaan yang berlawanan dengan hupomone.

Pdt. Joas Adiprasetya pernah mengungkapkan, ada tiga catatan penting mengenai ketabahan atau ketekunan di dalam Alkitab.

Pertama, ketabahan atau ketekunan bukan hanya dipandang sebagai sebuah kebajikan yang patut diperjuangkan oleh orang Kristen, melainkan juga merupakan respon iman terhadap ketabahan Kristus sendiri. Dalam surat Tesalonika, misalnya, Paulus memanjatkan sebuah doa, “Kiranya Tuhan tetap menunjukkan hatimu kepada kasih Allah dan kepada ketabahan Kristus” (2 Tesalonika 3:5).

Kita dapat hidup dalam ketabahan dan ketekunan tak lain karena ketabahan Kristus menjadi model dan modal perjuangan kita. Sebagai model, ketabahan Kristus dapat kita teladani; sebagai modal, Kristus yang tabah akan memberikan ketekunan kepada kita.

Kedua, dalam banyak ayat Alkitab, ketabahan kerap muncul dalam kaitannya dengan iman. Surat Yakobus secara eksplisit menegaskan bahwa ketabahan adalah hasil dari ujian atas iman. Orang yang bersedia menyerahkan dan memercayakan diri pada Allahlah yang memperoleh kekuatan untuk tabah dan tekun. Kristus yang telah tekun menjalani penderitaan itu menjadi pengharapan Kristiani yang membuahkan ketekunan dan ketabahan.

Ketiga, ketabahan bukanlah sebuah laku batin yang dinikmati di dalam kenyamanan hidup atau justru yang dijalani sebagai sebuah cara menghindari kerumitan dunia. Ketabahan sungguh bermakna sebaliknya, sebab ia barulah bertumbuh subur di dalam penderitaan dan tekanan hidup.

Dalam pemahaman seperti ini, mengutip William Barclay, hupomone selain adalah sebuah sikap yang tabah dalam menjalani penderitaan, tetapi juga berusaha mengubah hal yang sedang terjadi, yaitu penderitaan, menjadi hal yang mulia dan luhur.

Dalam keseharian kita menjalani panggilan hidup sebagai murid Kristus, pastinya banyak kesulitan dan tantangan yang dihadapi. Karena itu kita membutuhkan spiritualitas yang tidak mudah dipadamkan oleh situasi apa pun juga. Spiritualitas itu bernama ketabahan, dengan ketabahan kita akan dimampukan untuk menyelesaikan setiap tugas dan tanggung jawab kita.

Penulis: Ishak Boty Buifena (TPG GKI Kebonjati)

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA