Mengenal Mazmur (1)

Umat Kristiani, sama seperti umat Yahudi tentunya sangat mengenal kitab Mazmur. Kitab puisi yang dalam susunan kitab suci Kristiani ada di tengah-tengah Alkitab itu memang sangat sering dijadikan inspirasi untuk perenungan, doa atau kidung pujian. Dalam tradisi klasik Yudaisme bagian-bagian Mazmur selalu jadi salah satu menu di dalam ibadah harian maupun doa jemaat. Hal yang diteruskan dalam tradisi awal kekristenan.

Dibanding kitab-kitab lain di Alkitab, Mazmur bisa dikatakan sebagai kitab yang paling awal dibagi dalam pasal-pasal, karena terdiri dari nyanyian atau doa yang kebanyakan sudah terpisah satu sama lain. Dalam tradisi gereja Barat ada 150 pasal nyanyian atau doa yang terangkum dalam kitab ini. Sementara di gereja-gereja Timur umumnya 151 pasal, bahkan di gereja Syiria ada 155 pasal.

Namun apa sebenarnya kitab Mazmur itu?

Dalam Bahasa Ibrani Mazmur disebut sebagai Sefer Tehilim, atau buku pujian, sedangkan istilah mazmur itu sendiri diambil dari kata Ibrani mizmor, yang berarti nyanyian yang diiringi musik. Dalam terjemahan Yunani Septuaginta (LXX), kata yang dipakai adalah psalmoi, yang berasal dari kata psallo, kata yang digunakan untuk tindakan memetik dawai. Kedua kata terakhir ini sebenarnya merupakan kata yang juga lazim dipakai untuk menyebut nyanyian-nyanyian sekuler, tidak melulu nyanyian yang dipakai dalam ibadah.

Secara teologis terlihat bahwa Mazmur itu sangat manusiawi. Setiap nyanyian dan doa yang ada merupakan respons manusia terhadap karya Allah dalam berbagai situasi. Di Mazmur kita dapat melihat latar peritstiwa prahara seperti bencana nasional, musim panceklik, perang atau kekalahan. Juga sejumlah peristiwa bahagia seperti kelepasan dari bahaya, kelimpahan panen, kemenangan, kesembuhan, kesejahteraan, atau pesta.

Mazmur-mazmur awalnya dipakai dalam berbagai konteks ibadah dan baru ditulis dan dikumpulkan setelah didoakan dan dinyanyikan selama berabad-abad. Secara tradisional kepenulisan Mazmur memang dihubungkan dengan Raja Daud. Ada setidaknya 73 judul mazmur yang disematkan pada raja kedua Israel ini. Demikian pula ada setidaknya 13 mazmur yang dikaitkan dengan peristiwa yang dialami Daud. Bahkan dalam kitab Mazmur 151, yang ada di gereja-gereja Timur (tidak terdapat dalam kanon Gereja Barat), Daud dituliskan berseru: “Tanganku membuat harpa, jari-jariku membentuk suling…

Ada sebagian lagi nyanyian-nyanyian yang disematkan pada nama lain seperti Bani Korah (11 kali), nama ini merupakan nama klan dari keluarga yang menjadi penyanyi di Bait Allah (1 Tawarikh 6:22). Ada pula nama Asaf (12 kali), yang merupakan seorang anggota utama paduan suara bentukan Daud (1Tawarikh 6:39). Juga para penyanyi dari suku Lewi lainnya seperti Heman (Mazmur 88), Etan (Mazmur 89) dan Yedutun (Mazmur 39, 62 dan 77). Juga ada nama Salomo (Mazmur 72 dan 127) serta Musa (Mazmur 90), yang diperkirakan merupakan nyanyian tertua di Mazmur.

Selain itu ada 50 nyanyian yang tidak mencantumkan nama penulis, yang jika dipilah lagi ada setidaknya 46 nyanyian yang memang tidak beratribusi pada tokoh atau peristiwa terkait tokoh. Nampaknya nyanyian ini sudah lebih dahulu populer di umat Yahudi jauh sebelum kolektor Mazmur memasukkannya. **arms

Disarikan dari: Presentasi Pengenalan Kitab Mazmur Pdt. Anwar Tjen, PhD di GKI Kavling Polri.

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA

2 thoughts on “Mengenal Mazmur (1)

Comments are closed.