Mengenal Mazmur (3)

Musa memberi Israel kelima jilid Taurat… Daud memberi kelima jilid Mazmur…

Demikian disebut dalam Midrash Tehilim. Komentar para rabbi yang sudah dikenal sejak abad ke-11 Masehi itu memang menggambarkan bahwa sejak dulu kitab Mazmur memang sudah disusun dalam lima jilid, mengikuti bentuk lima jilid kitab-kitab Taurat.

Kelima Jilid itu dalam penomoran Ibrani adalah: Mazmur 1-41 (Jilid I), Mazmur 42-72 (Jilid II), Mazmur 73-89 (Jilid III),Mazmur 90-106 (Jilid IV) dan Mazmur 107-150 (Jilid V). Tiap jilid pun kentara dengan diakhiri suatu doksologi.

Kelima jilid itu nampaknya dikompilasi oleh tangan atau setidaknya waktu dan tempat yang berbeda. Sebab ada terlihat mazmur yang paralel dan mirip ada di jilid yang satu, ternyata dimuat lagi di jilid yang lain, bahkan menjadi bagian yang menyusun mazmur lain. Seperti Mazmur 14 dengan Mazmur 53, Mazmur 70 dengan Mazmur 40:14-18, atau Mazmur 108 sebagian dengan Mazmur 57:8-12 dan sebagian lagi dengan Mazmur 60:7-14.

Mazmur juga melambangkan alur gerak yang mendalam. Tiap jilid biasanya diawali oleh alur yang terbilang reflektif, kemudian sejumlah mazmur sarat dengan beberapa keluhan dan seruan minta tolong, namun diakhiri dengan pujian.

Permainan kata-kata yang digunakan dalam tiap jilid mazmur terbilang bervariasi. Ada yang berbentuk parallelisme sering dalam bentuk keseimbangan gagasan antar-baris, tak jarang pula antar bait. Paralisme itu bisa berupa sinonim dimana antar-baris terdapat gagasan yang serupa, atau antitesis dimana antar-baris terdapat gagasan yang berlawanan bisa pula sintetis dimana baris kedua melengkapi yang pertama.

Permainan kata yang terbilang sulit terlihat dalam terjemahannya adalah bentuk khiasme, dimana ada untaian baris yang membentuk struktur simetris dibuka dengan satu ide, diikuti ide berikutnya lalu simetris dengan ide senada dengan penutupnya adalah yang senada dengan ide pertama tadi.

Contoh khiasme yang masih terlihat ada pada Mazmur 46, dimana ide tentang Allah sebagai perlindungan (A), disusul ajakan untuk tidak takut (B), lalu memperlihatkan kedaulatan Allah atas gejolak alam (C), dilanjutkan pernyataan bahwa Allah hadir (D), lantas bagaimana terjadi gejolak politik (E). Kemudian secara simetris Mazmur berseru bagaimana Allah lantas bersuara atas gejolak politik itu (E’), dilanjutkan pernyataan bahwa Allah hadir menyertai bangsa (D’), Ia berdaulat atas gejolak politik (C’), umat-Nya diseru untuk tenang dan berdiam (B’) sebab Allah adalah perlindungan dan kota benteng (A’).

Bentuk lain yang juga sangat indah namun juga sulit diterjemahkan adalah bentuk akrostik, dimana mazmur dibagi dalam sejumlah bait, dan tiap kata pertama baris pada bait itu dimulai dengan abjad Ibrani yang sama. Urutan abjad yang dipakai mengikuti urutan abjad Ibrani, yang dimulai oleh huruf aleph, lalu beth, gimmel dan seterusnya diakhiri huruf taw.

Mazmur 119 adalah mazmur akrostik yang lengkap memuat seluruh abjad Ibrani itu, dimana huruf aleph memulai tiap baris di ayat 1-8, huruf beth pada ayat 9-16 hingga taw pada tiap baris di ayat 169-176. Tidak semua mazmur akrostik memuat lengkap urutan abjad yang demikian. Kadang hanya ada beberapa abjad saja, juga ada dugaan seperti pada Mazmur 145 ada bagian urutan abjad yang hilang. **arms

Lihat bagian 1 dan bagian 2

Disarikan dari: Presentasi Pengenalan Kitab Mazmur Pdt. Anwar Tjen, PhD di GKI Kavling Polri.

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA