Menilik Drama Paskah di GKI

Kalau mengikuti rangkaian ibadah Paskah di GKI belakangan ini, kemungkinan besar kita akan bersua dengan sejumlah drama bertema Paskah. Sebenarnya kebiasaan mementaskan drama di kebaktian GKI bukanlah eksklusif milik ibadah-ibadah Paskah. Momen bulan keluarga, apalagi perayaan Natal, juga kerap dipenuhi dengan pementasan drama. Namun pementasan drama saat Paskah di kebanyakan GKI itu memang mempunyai tantangan tersendiri, karena perayaan Paskah sering ada di tengah kesibukan pergantian majelis atau rapat tahunan gereja.

Drama Paskah yang ditampilkan ada yang merupakan visualisasi kisah Alkitab. Sengsara Yesus di Jumat Agung, sebagai pelengkap prosesi Jalan Salib merupakan bagian yang paling banyak dipentaskan. Baik dalam bentuk drama dengan dialog, namun lebih sering dalam bentuk tablo yang lebih minim dialog. Di GKI Delima misalnya, jalan salib berisi drama sengsara ditampilkan di kebaktian pagi Jumat Agung (30/3). Meski tidak banyak, kisah Alkitab lain semisal kisah perempuan di kubur Yesus, juga pernah dipentaskan, seperti yang dilakukan di GKI Pos Ciranjang, Cianjur pada Minggu Paskah (1/4).

Tapi ada pula drama Paskah yang lebih bertema terkini. Semisal pada Minggu Paskah lalu, GKI Nurdin menampilkan drama dengan tema ibadah itu sendiri Dari Keputusasaan Menuju Perayaan. Kisahnya justru amat keseharian. Seorang perempuan yang baru saja ditinggal ibunya, bersua dengan sekian banyak orang yang punya masalah masing-masing namun tetap menumbuhkan harapan. Di dalam drama itu ada pesan tentang hidup di tengah keberagaman agama, perhatian pada orang berkebutuhan khusus dan juga mereka yang miskin dan lemah.

Drama Paskah GKI Pos Ciranjang Cianjur

Ada lagi yang berinovasi dengan kreatif menggabungkan konteks waktu, cerita Alkitab dikaitkan dengan kekinian, biasanya dengan warna yang lebih humoris. Ada pula yang lebih serius, karena merupakan dari rangkaian liturgi dan melibatkan jemaat dalam nyanyian dan doa. Dengan segala kelebihan-kekurangan, dari segi persiapan, kostum, peralatan dan hal teknis lain, drama-drama Paskah di GKI telah hadir dan menuai apresiasi.

Mengapa banyak tim acara Paskah, juga perayaan momentumal lain, lebih memilih bentuk drama? Alasannya mungkin beragam. Ada yang sekedar ingin memberi variasi di tengah kemeriahan momen hari raya. Ada pula yang menjadikannya sarana untuk membuat jemaat lebih partisipatif dan merasa memiliki ibadah di gerejanya, serta mengembangkan talentanya. Ada lagi yang memang berharap bisa menghadirkan makna Paskah dengan lebih hidup dan visual, terutama untuk ibadah anak. Lagi pula drama Paskah, bisa jadi merupakan bentuk dramatisasi yang paling tua dalam ibadah Kristen, kalau kita mau anggap prosesi jalan salib, atau bahkan kebaktian Kristiani itu sebagai bentuk drama pula.

Tentu saja, tanpa persiapan yang baik alur dan tampilan drama bisa jadi hanya jadi tempelan di kebaktian. Di sisi lain, dramatisasi kisah Alkitab mungkin bisa membiaskan, atau setidaknya mematok tafsiran, yang harusnya bisa lebih mendalam dan luas.

Drama pada peran asalinya tidaklah sekedar menggambarkan suatu pertistiwa, tapi juga dituntut untuk sanggup menghadirkan kenyataan baru, dalam arti menghasilkan refleksi yang mendalam dan mengunggah perubahan pikir. Di tengah banyak drama Paskah yang kita sudah simak, kita boleh bertanya apa drama dibuat jemaat GKI sudah seperti itu?

Pertanyaan berikutnya yang patut dicatat adalah haruskah ber-“drama”? Apakah liturgi GKI itu kurang dramatis, sehingga perlu dibuat “drama” lagi di dalam liturgi yang pada hakikatnya adalah juga suatu dramaturgi, suatu tatanan dan praktik ber-drama? Apakah makna abstrak dalam simbol-simbol dan khotbah di ibadah kita harus selalu dibuat tafsirnya sevisual mungkin dalam drama, karena kita sekarang cenderung lebih visual?

Pertanyaan-pertanyaan tadi tentunya bukanlah kritik tajam atau penolakan untuk mempraktikkan ibadah di GKI yang diisi drama. Tapi menantang kapasitas tiap tim penyelenggara ibadah untuk terus bertumbuh, baik dalam penghayatan spiritual maupun dalam hal teknis. Serta merenung ulang pula tentang prioritas yang ditekankan dalam ibadah. **arms

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA