Mudah Mulia: Islam sangat Menghormati Yesus

Nama Isa Al-Masih disebutkan 25 kali dalam Al Quran. Bahkan ada satu surah dalam Al Quran yang diatribusikan dengan nama ibundanya, yaitu Surah Maryam. Dalam Islam juga wajib menghormati dan memuliakan semua nabi, termasuk Isa Al-Masih. Sebagai muslim, kami tidak diperkenankan untuk menghina Isa Al-Masih atau merendahkan pengikutnya.

Dr. Siti Musdah Mulia mulai menyampaikan pesan-pesan ini saat sudah memasuki pertengahan presentasinya. Setelah sebelumnya lebih banyak mengajak peserta untuk mengutamakan penghargaan kemanusiaan saat beragama dan menjalankan misi agama, Musdah kemudian masuk ke inti tema seminar, yaitu soal bagaimana Yesus ditinjau dari sudut pandang Islam.

Pembicaraan mendalam itu terjadi saat Sekretaris Jendral Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) ini hadir dalam seminar yang diadakan oleh GKI Kayu Putih pada Jumat (13/4). Seminar yang sebenarnya merupakan bagian dari kelas katekisasi pemuda dan remaja GKI Kayu Putih itu memang dibuka untuk jemaat dan simpatisan dewasa.

Musdah mengaku senang sekali bisa berbagi tentang tema yang terbilang sensitif ini pada generasi muda, sekaligus bersama orang tuanya. Perempuan yang juga merupakan ketua Lembaga Kajian Agama dan Jender (LKAJ) itu menyadari kesempatan perjumpaan seperti ini masih terbilang langka, padahal sangat dibutuhkan dalam bangsa dan dunia kita yang majemuk dan amat beragam ini.

Saya menyampaikan apa yang secara umum Islam pahami tentang Yesus atau Isa Al-Masih. Meski tidak mungkin mewakili seluruh umat Islam, karena di Islam sendiri ada banyak perbedaan pandangan.  Jelas sekali, bahwa Islam sangat menghargai Isa Al-Masih, juga ibundanya. Ada banyak kesamaan dengan yang diyakini umat Kristiani. Tentu ada pula perbedaan misalnya terkait penyaliban atau keilahiannya. Tapi bisa mendiskusikan persamaan dan perbedaan itu dalam suasana bersahabat, tentu menjadi hal yang sangat indah,” lanjut Musdah.

Musdah lantas menyampaikan bahwa Al Quran sebenarnya memberi petunjuk soal prinsip menyampaikan ajarannya. Yaitu hikmah (santun dan bijak), maw’izati hasanah (nasehat yang lembut) dan mujadalah bi’l-lati hiya ahsan (secara singkat berarti debat yang sejuk).

Jadi sebenarnya ada ruang yang cukup besar untuk menerima perbedaan. Baik di internal agama Islam sendiri maupun dengan umat beragama lain. Juga menerima keberagaman, tidak mesti satu warna. Inilah sikap aktif dan penghargaan terhadap keberagaman, atau disebut sekarang pluralisme. Ini bukan sekedar tahu ada pluralitas, lalu diam saja. Tapi hidup dan berdialog dalam keberagaman itu,” tutup Musdah. **arms

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA