Pemuda: Masa Depan (?) Gereja

Beri aku 10 pemuda, maka akan kuguncang dunia!” Demikianlah cuplikan dari sebuah pidato presiden kita yang pertama. Bagi sebagian orang, mungkin kata-kata ini terdengar berlebihan. Mana mungkin sepuluh pemuda cukup untuk mengguncang dunia? Tetapi, masakkan tidak ada nilai kebenaran sama sekali dalam kalimat yang diucapkan oleh Bung Karno, Proklamator kita?

Dua mingguan lalu, tepatnya Sabtu (24/3), ada sebuah unjuk rasa besar di Amerika Serikat. Unjuk rasa berjudul March for Our Lives ini dilaksanakan di Washington, D. C. bersamaan dengan 845 tempat lainnya di berbagai penjuru Amerika Serikat. Aksi ini menuntut adanya perubahan sistem kepemilikan senjata karena banyaknya penembakan massal di sekolah. Hal yang menarik adalah, para pencetus gerakan ini adalah para remaja, khususnya para pelajar dari Stoneman Douglas High School. Emma Gonzales, salah satu sosok yang viral di berbagai media sosial misalnya, baru berusia 18 tahun ketika ia menyampaikan pidatonya yang menggugah hati banyak orang.

Lebih dari itu, sesungguhnya dalam kekristenan kita mengenal sosok seorang pemuda yang dampak dari perbuatan dan ajarannya dirasakan orang di segala penjuru dunia. Sosok itu tidak lain adalah Yesus Kristus sendiri! Mungkin, kalau kita melihat gambar-gambar Yesus yang terpajang di mana-mana, lengkap dengan janggutnya, kita mendapat kesan bahwa Yesus berusia cukup dewasa. Padahal, Ia memulai pelayanan-Nya di usia tiga puluh tahun, dan menyelesaikannya tiga tahun setelahnya. Sebagian dari kita sangat mungkin sudah berusia lebih dari itu.

Dua contoh ini mengangkat satu poin yang penting: orang-orang muda bukanlah sekadar masa depan – mereka juga masa kini. Kehadiran mereka seharusnya memberikan dampak bagi kehidupan orang-orang di sekitarnya bahkan sejak saat ini.

Pertanyaannya, apakah kita semua menyadari hal ini? Atau jangan-jangan, kita terjebak pada pola pikir, bahwa mereka hanyalah pemimpin masa depan, yang pada saat ini “belum waktunya” untuk berkontribusi? Buah dari pemikiran tersebut mungkin sudah dapat kita rasakan hasilnya. Mari kita hitung bersama, berapa persen anggota Majelis Jemaat kita berasal dari golongan pemuda – yang katakanlah berusia 30-an tahun?

Kenapa pemuda perlu untuk mewarnai kepemimpinan gereja pada saat ini? Rasanya tidak salah bila untuk menjawabnya, saya mencuplik sebuah ungkapan Karl Barth, ecclesia semper reformanda est – gereja harus selalu bereformasi. Gereja senantiasa hidup dalam ketegangan antara nilai-nilai Kristiani dan budaya yang berkembang di sekitarnya. Oleh karena itu, gereja harus senantiasa peka terhadap perubahan budaya serta nilai-nilai masyarakat, serta menanggapinya dengan nilai-nilai Kristiani yang dianutnya selama ini.

Apabila gereja kurang peka terhadap perubahan ini, maka peran gereja sebagai filter nilai-nilai masyarakat pun akhirnya melemah dan bisa terjebak pada satu dari dua ekstrim: menolak semua perubahan yang ada di masyarakat karena dianggap bertentangan dengan nilai-nilai Kristiani, atau justru menerimanya bulat-bulat. Tentu, keduanya bukan pilihan yang bijak.

Pada bagian inilah sosok seorang pemuda dibutuhkan! Secara umum, dalam perkembangan psikologis, masa-masa remaja dan pemuda adalah masa-masa ketika seseorang memiliki pemikiran yang kritis. Segala nilai yang mereka anut semasa masa kecil mereka kini dibenturkan dengan realita yang berbeda. Tidak mengherankan, apabila pada masa-masa ini, mereka jadi cukup tertarik untuk mencoba-coba “gereja” yang berbeda (dan mungkin tertarik olehnya).

Mereka ini seharusnya menjadi kelompok yang sangat penting untuk pengembangan gereja! Bila mereka segera dicap “sesat,” tanpa adanya percakapan lebih lanjut, bukan tidak mungkin kita kehilangan kesempatan untuk memperbarui gereja. Dengan memberi perhatian pada hal ini kita tidak sekedar menempatkan pemuda sebagai masa depan, tapi juga masa kini gereja.

Kiranya Tuhan membantu dan menyertai kita semua dalam segenap pelayanan yang kita kerjakan! Soli Deo Gloria!

Penulis: Pnt. Christian Elbert Budiman (GKI Wahid Hasyim)

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA