Penolong yang Sepadan

Tradisi Yahudi memiliki tafsiran yang sangat menarik untuk pengertian perempuan sebagai e’zer k’negdo, penolong yang sepadan. Dalam Talmud dikatakan bahwa perempuan itu adalah ”seorang penolong, jika pria itu layak, sekaligus seorang lawan yang seimbang jika pria itu pantas mendapatkannya.

Tambahan lagi, para rabbi menjelaskan pentingnya kesepadanan itu dengan analogi seperti pentingnya kekuatan yang sama dari sepasang sapi yang membajak sawah. Jika salah satu sapi terlalu lemah, pembajakan hanya akan berputar-putar di satu tempat, karena gandar bajaknya miring. Untuk mencegah hal itu, biasanya para petani akan membuat sepasang sapi tadi dibesarkan bersama sejak kecil. Lalu diberi makanan dan perlakuan yang nyaris sama, bahkan sering dibiarkan saling beradu.

Agaknya mereka menyadari bahwa kesepadanan itu berbicara tentang kesetaraan serta upaya saling mengisi peran dan saling membentuk. Tidak tercipta begitu saja tanpa dikerjakan, tanpa niatan. Prinsip tadi juga menjelaskan, bahwa pernikahan khas Yudaisme, yang diyakini dirancang oleh Allah, hendaknya pula menuju pada tujuan ilahi pula. Sehingga segala pergumulan saat berinteraksi, betapapun keras benturannya, dimaknai sebagai pembentukan demi mencapai tujuan itu.

Pada kenyataannya dalam perkembangan zaman, pernikahan dalam tradisi Yudaisme dan banyak tradisi sosio-religius lain, sempat terseret ke dalam makna yang begitu patrialistik. Peran perempuan sering dianggap tidak setara dengan lelaki. Bahkan tak jarang menjadi korban kekerasan, baik secara fisik maupun verbal. Juga karena pandangan tegas bahwa pernikahan dianggap sebagai ketetapan Tuhan, sering kali malah menjadi belenggu untuk terus terikat dalam keterpaksaan.

Pembaruan pemaknaan lewat gerakan emansipasi perempuan, telah membawa sejumlah perubahan. Termasuk menyentuh sejumlah tafsir keagamaan. Dalam Kekristenan, bahkan Yudaisme itu sendiri, kini berkembang tafsir yang lebih akomodatif dan memberi perhatian yang besar pada posisi perempuan.

Meski demikian, tafsir kuno e’zer k’negdo tadi sejatinya punya makna lain, secara khusus terkait perkawinan. Tafsiran kuno itu hendak menegaskan realitas yang harusnya tidak diabaikan. Bahwa pernikahan dua individu yang saling mencintai itu bukan melulu bicara romantisme, seolah tak bakal menghadapi konflik. Konflik dan benturan, bukanlah hal yang aneh, justru bisa dianggap sebagai sarana pembentukan.

Tentu saja tafsiran mengenai konfliknya bukanlah brutalisme fisik atau verbal. Sesaleh apapun dua individu, ada perbedaan-perbedaan pemikiran, kebiasaan dan banyak hal lain yang saling berbentur. Disini posisi laki-laki dan perempuan adalah setara, diproses untuk menjadi dewasa dalam mengelola perbedaan-perbedaan itu. Hasil akhirnya mungkin amat beragam, seunik karya Tuhan untuk tiap kita. **arms

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA