Refleksi tentang Keselamatan (1)

Pada dasarnya setiap agama berbicara tentang atau menjanjikan keselamatan. Dalam teologi Kristen kita mengenal kata soteriologi, yang berasal dari kata soter (soteria = menyelamatkan) dan logos (ilmu). Kata yang kemudian diadopsi dalam studi agama-agama untuk menyebut kajian yang mempelajari tentang gagasan keselamatan.

Dalam bentuk sehari-hari dan lebih sederhana, pertanyaan terkait dengan keselamatan ini jelas sering muncul. Pertanyaan seperti “Apakah orang yang berbeda agama dari kita juga akan masuk sorga?”atau “Jika agama lain juga menjanjikan keselamatan, mengapa saya harus beragama Kristen?” Adalah contoh lazim yang sering muncul di tengah jemaat, termasuk di lingkup GKI.

Kadang kita melihat bahwa keselamatan menjadi klaim agama, semacam upah dan hasil akhir yang dijanjikan, sekaligus semacam hak eksklusif dari pemeluk agama tertentu. Ini pula yang membuat orang berani mengorbankan nyawa orang lain atau diri sendiri, karena meyakini bahwa ada keselamatan yang dijanjikan.

Tak jarang fenomena tadi memunculkan kritik dari kelompok non-religius terkait apa perlunya manusia dalam agama meyakini dan mengajarkan konsep keselamatan. Filsuf besar Nietzshe, misalnya, mengkritik hal seperti itu sebagai punishment and reward mentality, hal yang harusnya ditinggalkan oleh manusia bebas. Atau Karl Marx yang menganggap konsep itu sebagai hal yang ditanamkan kelas penguasa agar kelas bawah betah dalam penindasan dan penderitaan hidup, karena punya harapan soal upah atau kebahagiaan di waktu dan tempat nanti.

Kalangan religius pun mengkritik konsep yang menjanjikan keselamatan sekedar sebagai upah. Bagi kalangan yang menjalani tradisi asketis (semacam pertapa, sufisme, atau jalur mistis-religius lain) keselamatan dimaknai sebagai kembalinya ciptaan kepada Sang Pencipta. Kerinduan itu dinilai lebih luhur ketimbang “upah kesenangan.”

Gagasan tentang keselamatan dapat dibagi dalam berbagai kategori. Tiap kategori merupakan berdasarkan faktor pembeda, yang bisa diajukan dalam pertanyaan. Seringkali beberapa pertanyaan ditonjolkan di satu keyakinan, namun tidak di keyakinan yang lain. Kadang pula pertanyaan itu diajukan dengan cara yang berbeda atau dijawab dengan konsep yang sama sekali berbeda.

Dalam upaya dialog dengan agama lain, maupun antar aliran dalam kekristenan, setidaknya ada enam pertanyaan yang lumayan sering diajukan terkait keselamatan yang diyakini oleh iman Kristen. Pertanyaan itu adalah:

  1. Diselamatkan dari atau kepada apa?
  2. Keselamatan itu bersifat individual atau sosial?
  3. Kapan dan di mana terjadinya keselamatan itu?
  4. Siapa yang diselamatkan?
  5. Siapa pelaku keselamatan?
  6. Bagaimana metode memperoleh kesalamatan?

Sumber: Disadur dari Bahan Pembinaan GKI Taman Aries

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA