Refleksi tentang Keselamatan (2)

Saat orang Kristen ditanya terkait mereka diselamatkan dari apa, jawaban yang segera muncul adalah dari dosa. Jawaban itu terbilang amat populer, meski terkadang juga ada tambahan seperti dari maut atau dari kuasa Iblis.

Dalam konteks agama-agama Abrahamik, narasi kekudusan Tuhan, sebagai Pribadi yang tidak bisa membiarkan dan tidak menyukai dosa menjadi pesan yang cukup kuat ditekankan. Hal ini langsung menjadi pembeda dengan narasi agama lain yang lebih menyorot kebebasan dari derita dan kemelekatan (misal Buddhisme) atau harmoni dengan sesama dan semesta (misal di Hindu, Konfusianisme dan Taoisme).

Meski demikian, konsepsi tentang dosa dalam agama-agama Abrahamik pun punya perbedaan penekanan. Soal dosa turunan atau dosa asal, misalnya, konsep ini memang cukup berkembang dalam teologi Gereja Barat, namun kurang ditemui di gereja-gereja Timur atau lebih jauh lagi di Yudaisme dan Islam, yang lebih memandang manusia yang baru lahir bersih dari dosa. Perbedaan itu tentu memberi pengaruh pada jawaban atas pertanyaan lain terkait keselamatan, terutama soal bagaimana keselamatan itu diperoleh.

Kekristenan, terutama yang dipengaruhi tradisi Calvinis, meyakini manusia tidak memiliki kemampuan berbuat baik dalam dirinya, akibat dosa yang telah merasuk dan menulari seluruh umat manusia. Rusak susu sebelanga akibat nila setitik. Ayat-ayat dari Surat Roma yang seling ditekankan misalnya kenyataan bahwa semua orang telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3: 23). Atau penekanan bahwa manusia tidak mampu melakukan apa yang baik (Roma 3: 10 – 18), sehingga penebusan melalui hukum dan pengetahuan agama tidak mampu menyelamatkan manusia. (Roma 3: 19 – 20).

Dalam narasi ini, semua hal-hal yang ditekankan dalam narasi lain, dinilai sebagai dampak dari dosa. Hubungan yang harmonis antara manusia dengan Allah, alam, manusia lain dan dirinya sendiri, akhirnya menjadi rusak karena manusia jatuh kedalam dosa. Itulah yang menyebabkan penderitaan, bahkan kematian. Hakikat dosa adalah memisahkan manusia dari Allah, ciptaan harus terpisah jauh dari Sang Pencipta, sumber kehidupan, serta merusak pula hubungannya dengan yang lain.

Pandangan ini bukannya tidak memiliki kelemahan. Salah satu kritik terhadap pemahaman yang hanya menekankan sisi diselamatkan dari dosa, adalah memunculkan sikap hanya menekankan masuk sorga atau menghindari neraka. Atau dalam trend kekristenan yang lebih kekinian adalah supaya lepas dari derita dan menerima berkat-berkat duniawi. Kritik ini tidak sepenuhnya salah, karena memang banyak orang Kristen yang bersikap demikian dalam mendasari pekerjaan baik mereka.

Namun, sebenarnya Kekristenan tidak melulu menekankan sisi keselamatan hanya dalam pengertian negatif, yaitu diselamatkan dari dosa. Ada juga sisi pengertian yang positif, yaitu bahwa orang diselamatkan untuk melakukan hal-hal yang baik. Seperti yang diungkap dalam Surat Efesus: “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus, untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau supaya kita hidup di dalamnya.” (Efesus 2:10).

Keselamatan disini dipahami sebagai pembebasan kita dari perbudakan dosa dan kedagingan, dan hidup dalam pemulihan hubungan dengan Allah dan berkarya untuk kemuliaan Allah dan kebaikan semua ciptaan. Dalam bahasa khas konfessi GKI ditekankan bahwa kita diselamatkan untuk menjadi rekan sekerja Allah.

Sumber: Disadur dari Bahan Pembinaan GKI Taman Aries

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA