Seri Dapur Sejarah: GKI Guntur

Semangat penginjilan warga jemaat Tiong Hoa Kie Tok Kaw Hwee (THKTKH) Bandung memang sudah terlihat sejak awal pembentukannya. Sepuluh tahun selepas mereka merintis kebaktian khusus bagi warga Tionghoa di jalan Kebonjati, jemaat ini mulai mencoba membuka tempat ibadah baru di wilayah Bandung yang ada di sisi Timur.

Adalah keluarga Shie Ing Gwan dan Loe Kian Gwan yang memprakarsai dibukanya tempat kebaktian baru dengan memakai rumah yang mereka diami. Itu terjadi di awal tahun 1944 di wilayah yang saat itu dikenal sebagai Jalan Papandayan. Tiga tahun berselang, kebaktian ini pun menjadi pos resmi THKTKH Bandung Timur, meski gereja induknya di Kebonjati sempat harus berpindah tempat ibadah, mengingat revolusi fisik yang saat itu terjadi.

Dalam perkembangan berikutnya, tempat kebaktian Pos Penginjilan Bandung Timur ini kemudian dipindahkan ke rumah keluarga Pang Sin Hong di tahun 1953, di Jalan Guntur 11, tak jauh dari lokasi kebaktian sebelumnya, di Jl. Papandayan 65. Rumah itu akhirnya dibeli dan menjadi milik jemaat, ditandai dengan perayaan syukur pada kebaktian Natal pertama pada 1954. September 1955 gereja ini diresmikan menjadi salah satu jemaat dalam THKTKH Jawa Barat. Selepas perubahan nama THKTKH Jawa Barat menjadi GKI Jawa Barat, jemaat ini pun dikenal sebagai GKI Jl. Guntur.

Unsur kekeluargaan menjadi hal yang begitu merekatkan jemaat GKI Guntur, hingga menjadi begitu besar selama hampir 63 tahun perkembangannya. Adanya kedekatan beberapa keluarga dari Indramayu yang kemudian merantau ke Bandung, serta keluarga yang telah lama ada di Bandung memang membentuk kedekatan tersendiri. Kedekatan itu pun menular kepada keluarga-keluarga, yang baru bergabung kemudian.

Para pendeta yang melayani jemaat sejak era pertama, Pdt. Pouw Boen Giok, selalu dianggap sebagai sosok yang seperti keluarga dekat. Contohnya saat pendeta pertama mereka itu harus berpisah karena menerima panggilan untuk mengajar di Thailand di tahun 1964. Saat itu, jemaat melepas dengan rasa kehilangan yang besar.

Tak hanya untuk Pdt. Pouw Boen Giok, hampir semua pendeta yang melayani jemaat ini, memang begitu terlibat kedekatan emosional dengan jemaat. Pnt. Asep Andi Rahmat, salah seorang majelis GKI Guntur saat ini, juga mengaku sangat merasakan ikatan kekeluargaan itu.

Sejak pindah dari jemaat Indramayu di era 1980-an, saya merasakan ikatan yang demikian,” komentar Pnt. Asep Andi. “Saya ingat Pendeta Sasabone (Pdt. M. A. M.  Sasabone, pendeta kelima GKI Guntur), bahkan sampai hafal nama semua anggota keluarga dari tiap warga jemaat, bahkan meski anggota keluarga itu bukan anggota GKI Guntur,” kenangnya.

Inovasi anak muda di bidang seni juga telah lama dikembangkan di jemaat ini. Degung, reog, teater hingga orkestra, yang sering ditampilkan dalam kebaktian, malam madah dan sabda atau hari raya gereja, menjadi warna tersendiri GKI Guntur.

Saat ini GKI Guntur telah berkembang dengan sekitar 3.000 anggota jemaat, dengan tiga kali kebaktian umum, kebaktian pemuda-remaja, anak dan dua pos jemaat di Ujung Berung dan Kopo Permai. Jemaat ini telah mendewasakan satu jemaat yaitu GKI Gatot Subroto, yang berkembang dari pos jemaat Padasuka. Serta turut pula mendampingi pendewasaan jemaat GKI Pamanukan.

Tidak semua selalu berjalan mulus, tentu saja…

Saat membangun pos jemaat di Ujung Berung, misalnya, gedung yang dipakai untuk kebaktian di Jl. Ujung Berung 202, pernah dirusak pada malam hari 11 Oktober 1990, hal yang membuat jemaat yang beribadah disini terpaksa dipindahkan ke gereja yang ada di Kompleks Yonif Zippur Pangdam Siliwangi.

Demikian pula, statistik keanggotaan jemaat yang sejak pertengahan dekade 2000-an menunjukkan piramida yang menua. Transisi dari sekolah minggu ke remaja dan pemuda tidak selalu berjalan lancar. Stagnasi sempat begitu terasa di kebaktian remaja maupun pemuda, meski sekarang tengah diupayakan untuk dibangun kembali.

Tantangan memang akan terus ada. Namun bagi GKI Guntur, kebersamaan sehampir 63 tahun itu, tentu terus mengupayakan diri untuk tidak hilang, namun terus meluas. **arms

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA