Takut Bergantung pada Alam

Beras bukanlah makanan asli Indonesia. Sejarah lebih tua menunjukkan bila sagu telah lama menjadi makanan pokok di Jawa, sebelum nasi dikonsumsi dengan massif. Itu terpahat di Candi Borobudur, misalnya, ada empat palma yang menjadi sumber kehidupan, yaitu nyiur, lontas, aren dan sagu. Persentuhan dengan kerajaan-kerajaan Indialah yang memperkenalkan konsumsi dan budidaya padi di Indonesia.

Pendapat itu dengan sangat meyakinkan diajukan Prof. Dr. Nadiman Haska dalam sejumlah kesempatan. Selain tinjauan historis itu, pendapat itu pun tersirat dalam kata untuk penganan pokok di Bahasa Jawa dan Sunda. Kata sego maupun sangu, memang lebih dekat pada sagu.

Yang terjadi adalah saat pola konsumsi bergeser, masyarakat Pulau Jawa pun tidak tergantung lagi pada sagu. Imbasnya jelas, pohon sagu pun perlahan mulai hilang dari tanah ini. Padahal 95% pertumbuhan sagu itu sangat alami, tidak perlu terlalu banyak intervensi manusia. Konsumsi lahannya juga tidak harus seluas sawah padi. Sangat potensial untuk kebutuhan pangan masa depan.

Pola pergeseran itu tidak hanya soal penganan. Tapi terjadi dalam banyak hal lain. Bangunan misalnya. Yu Sing, salah satu arsitek muda ternama di Indonesia mencontohkan banyak daerah yang dulunya sangat subur dengan pohon bambu dan kayu perlahan berkurang seiring bangunan sudah mulai beralih pada beton. Begitu dirasa bambu dan kayu tidak lagi dibutuhkan, keberadaannya pun pelan-pelan lenyap. Padahal kayu dan bambu amat potensial untuk bangunan yang asri dan tahan gempa.

Polanya jelas, saat kita tidak lagi bergantung pada alam. Kita akan mulai merusak. Awalnya mungkin terlihat gagah, kita seolah telah menaklukkan alam, namun perlahan kita menyadari kita kehilangan banyak hal berharga,” ungkap Yu Sing yang belakangan dikenal sebagai penggagas arsitektur yang ramah lingkungan dan sustainable.

Masyarakat kita sekarang sebenarnya masih mempunyai kesempatan untuk melakukan sejumlah perbaikan. Namun ide kembali bergantung pada alam bukanlah sesuatu yang tampak mudah saat ini.

Soal rumah Yu Sing mencontohkan, kita merasa lebih praktis berumah beton, dengan konsumsi air yang rakus menyedot tanpa pernah mengembalikan, penerangan dan pendingingan ruangan yang sepenuhnya tergantung pada listrik, sampai pada yang terbilang sepele seperti takut serangga dan malas merawat tanaman hijau.

Itu tentu terjadi pada banyak hal lain. Kita memang seolah sulit untuk kembali bergantung pada alam. Hasrat untuk memenuhi dan menguasai itu kelihatannya lebih dominan ketimbang memelihara dan mengusahakan. Tapi bukankah kedua sisi itu adalah panggilan kita sebagai manusia? **arms

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA