Yu Sing: Arsitektur itu Merusak!

Menjumpai pria 42 tahun ini terbilang tidak mudah. Yu Sing cukup disibukkan dengan sejumlah aktivitas luar kota, baik terkait proyek aristektur maupun edukasi. Tapi, di tengah hari Selasa (3/4) itu, dengan ramah ia menyempatkan waktu berbagi. SELISIP menjumpainya jelang keberangkatan sang arsitek ke Jakarta, untuk keesokan harinya terbang ke Toraja.

Orang awalnya mengenal Yu Sing sebagai arsitek untuk rumah murah. Belakangan, lewat Studi Akar Anomali (AKANOMA), ia juga merambah isu arsitektur yang ramah lingkungan, rekontekstualisasi arsitektur lokal nusantara, rumah mikro serta kampanye untuk mengurangi dampak negatif dari arsitektur modern. Desain ikonik Menara Phinisi Universitas Negeri Makassar, barangkali adalah contoh yang paling dikenal orang atas filosofi berarsitektur Yu Sing.

Namun bagaimana jalan cerita, hingga ia sampai pada titik ini?

Menara Phinisi Kampus UNM (unm.ac.id)

Awalnya saya pilih masuk arsitektur itu ya karena malas,” senyum ayah seorang putra itu sambil sesekali menyibak rambutnya yang agak panjang. Ia menerawang momen saat sejumlah seniornya bertandang ke SMAK 1 BPK Penabur Bandung, mempresentasikan jurusan-jurusan dari berbagai kampus. Yu Sing tertarik pada jurusan teknik arsitektur, ia mengira disana tidak akan terlalu ribet dengan rumus, hafalan atau kesibukan mengerjakan tugas.

Tentu saja ia salah. Perkuliahan di jurusan Teknik Arsitektur ITB di tahun 1994 terbilang sangat menyita waktu. Bahkan ia baru sadar kekurangannya dalam kemampuan spasial ternyata menjadi penghalang yang cukup besar dalam mengikuti kuliah.

Boleh dibilang saya mengalami depresi. Saya menurunkan standar dan ego. Hanya menjalani perkuliahan dengan seadanya. Tapi itu titik yang membuat saya bisa mempertanyakan hal-hal esensial seperti apa yang saya cari, apa tujuan saya hidup. Apalagi di persekutuan kampus dan di gereja ada penekanan soal misi dan visi dalam hidup,” kenang anggota jemaat GKI Anugerah Bandung ini.

Meski sempat terlibat aktif dalam persekutuan di kampus maupun Komisi Pemuda GKI Anugerah di masa itu, Yu Sing menilai bahwa kesibukan gerejawi seperti itu bukanlah tempatnya. Ia meyakini tidak efektif jika melayani sekedar diartikan meluangkan waktu. Baginya, lebih baik jika minat, pekerjaan sekaligus misi hidup seutuhnya dijadikan sarana untuk melayani. Ini yang justru menjadikan pelayanan itu relevan.

Saya tidak berani bilang ini lebih spiritual dibanding pelayanan dalam gereja. Tapi perlu direfleksikan juga, bisa jadi karena kekurangan dalam menghayati hal seperti ini menjadikan pelayanan gereja tidak relevan.

Ia lantas menegaskan bagaiamana ia bisa bergaul dengan banyak kalangan, tanpa harus khawatir dengan identitasnya yang begitu terlihat sebagai seorang etnis Tionghoa maupun umat Kristiani. “Ya, karena kita membicarakan dan mengusahkan hal yang relevan. Menjadi kebutuhan semua orang,” ungkapnya lembut.
**
Tak mau terlalu banyak menyindir gereja, Yu Sing lantas bercerita lebih jauh soal dunia yang digelutinya. Ia melihat bahwa perjalanan profesinya memang sebuah pembelajaran yang terus berlanjut.

Memang seperti mengalir begitu saja. Mulanya, desain murah untuk rumah kami sendiri. Lalu kantor bantu seorang kerabat staf mendesain rumah murah. Pernah diliput di majalah arsitektur. Lalu saya mulai diminta nulis disana. Awalnya saya menulis soal peran arsitek untuk semua, kemudian diminta lagi menulis dan saya nulis soal impian rumah yang murah, namun dengan desain yang baik,” kenangnya.

Memang bagi masyarakat Indonesia peran arsitek masih dikategorikan mahal. Tak ayal begitu mulai mencanangkan arsitektur untuk rumah murah itu, Yu Sing dibanjiri sejumlah kontak dan permintaan, bahkan dari berbagai daerah di Indonesia.

Istri saya sempat bertanya: ‘Apa masih bisa dapat uang kalau terlanjur dikenal arsitek rumah murah?’” Ungkap penulis buku Mimpi Rumah Murah ini kalem.

Tapi karena permintaan dari berbagai daerah itu, Yu Sing justru bisa belajar banyak soal lokalitas. Lebih jauh saat berkenalan dengan teknologi arsitektur lokal yang dekat dengan alam, ia justru bisa mengembangkan arsitektur yang ramah lingkungan. Menyadari isu global terkait kerusakan alam dan semakin sempitnya lahan, Yu Sing justru semakin bisa mengkombinasikannya untuk mengembangkan arsitektur yang memberdayakan masyarakat serta tidak banyak merusak.

Arsitektur itu kan pada hakikatnya memang merusak. Seringnya arsitek ada di pekerjaan para pemodal besar, yang secara ekologis dan ekonomis menyingkirkan alam dan penduduknya. Yang bisa kita lakukan memang mengurangi dampak merusaknya. Apa yang kami kerjakan, dengan segala kekurangan yang masih ada, sedang menuju kesana,” aku Yu Sing.

Dengan bersemangat ia menunjukkan sejumlah proyek dan edukasi yang dikerjakan bersama sejumlah komunitas. Mereka memang mendampingi beberapa desa untuk mengembangkan ekowisata secara mandiri. Juga mengembangkan sendiri arsitektur berbahan kayu dan bambu yang berprinsip bergantung pada alam.

Senada dengan nama studionya akar dan anomali, Yu Sing dan rekan-rekannya berkolaborasi untuk berkomitmen mengakar di masyarakat dan alam, meski dianggap anomali diantara upaya pembangunan yang terbilang merusak. **arms

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA

One thought on “Yu Sing: Arsitektur itu Merusak!

Comments are closed.