Amos Nabi Peternak

Aku ini bukan nabi dan aku ini tidak termasuk golongan nabi, melainkan aku ini seorang peternak dan pemungut buah ara hutan…” (Amos 7: 14).

Bagi umat Israel, kata-kata pertama kali justru menjadi penanda, bahwa Amos adalah nabi sejati. Ia bukan berasal sekolah golongan para nabi. Ia tidak segolongan dengan nabi-nabi palsu, yang bernubuat demi uang dan kepentingan para penguasa. Fenomena menyeret-nyeret nabi dan pemimpin spiritual ke kisaran politik kepentingan memang terjadi begitu massif di zaman Amos. Ada sekian banyak orang, seperti imam Amazia, yang memakai nama Tuhan untuk mendukung tindakan politis penguasa.

Meski berasal dari desa Tekoa di wilayah selatan Yehuda, Nabi Amos justru lebih banyak menyampaikan pesan Tuhan terkait kesepuluh suku di kerajaan Israel Utara, terutama di Samaria dan Betel. Kerajaan Israel Utara di masa pemerintahan Yerobeam II itu sebenarnya terbilang di puncak kegemilangan. Raja ketiga belas sejak perpecahan Israel itu telah menaklukkan wilayah Syiria, Moab dan Ammon. Namun, justru di masa itu terjadi banyak praktik korupsi, ketimpangan sosial dan penindasan terhadap kaum miskin dan lemah.

Isu keadilan dan kesalehan sosial memang menjadi pesan utama pemberitaan Nabi Amos. Ia begitu menyorot keadaan Israel dimana ritual-ritual keagamaan dengan marak dilakukan dan dipamerkan, namun tanpa keadilan serta tidak memperhatikan mereka yang terpinggirkan. Ia pun menubuatkan kejatuhan Israel, Moab dan Syiria karena melalaikan keadilan dan kebenaran.

Amos bahkan menyampaikannya dengan sangat kontras. Ia menyatakan bahwa Allah membenci dan menghinakan perayaa umat Israel serta tidak senang kepada perkumpulan rayanya. Allah pun tidak suka dan tidak memandang semua persembahan orang-orang kaya Israel, bahkan jijik akan nyanyian pujian bangsa itu. Namun Allah mengharapkan keadilan melimpah, bergulung-gulung seperti air serta kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir (Amos 5: 21-24).

Pesan itu begitu tegas, tanpa basa-basi spiritual. Meski tetap menyampaikan pesan penuh harapan akan pemulihan Israel, Amos menghindari sejumlah basa-basi dan manis kata. Tampak jelas bahwa ia menjadi suara yang membela kaum tertindas dan mengkritik keras praktik ibadah yang mengabaikan keadilan. Suara kaum yang penuh beban, yang jika disuarakan pun akan tidak mengenakkan serta membebani penguasa. Makna yang justru identik dengan arti nama Amos itu sendiri, yaitu “beban.

Dalam pemaknaan ini penyebutan profesinya sebagai peternak dan pengumpul buah menjadi punya dimensi lain. Bahwa ia berada segolongan dengan peternak dan petani, kaum yang paling banyak mengalami beban penindasan kala itu. **arms

Ilustrasi: Patung Amos sang Nabi (karya Jörg Syrlin di Biara Benediktin Blaubeuren)

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA