Barukh bin Neria: Penolong di Kala Krisis

Tahun 1975, ditemukan satu bulla yang dikabarkan merupakan segel materai dengan nama Barukh bin Neria. Bulla itu dipublikasikan oleh arkeolog Israel, Nahman Avigad, atas izin kolektornya. Menurut sang kolektor bulla itu ditemukan di Yigal Shiloh. Ditulis dengan huruf Ibrani kuno (bentuk yang lebih mirip aksara Fenesian), bulla itu kini disimpan di Museum Israel di Yerusalem.

Tentu saja banyak perbedaan pendapat soal keaslian bulla itu sebagai segel Barukh sang juru tulis untuk Nabi Yeremia. Apalagi di tahun 1996 juga ditemukan bulla dengan segel serupa. Meski demikian, peran Barukh sebagai juru tulis yang nampaknya berasal dari keluarga aristokrat di Kerajaan Yehuda, sangat memungkinkan sekian banyak dokumen yang ditandai dengan segel namanya sebagai penulis, masih tertinggal.

Sejarawan klasik Yahudi, Yosephus, mencatat bahwa Barukh bin Neria, sama seperti Nabi Yeremia, berasal dari keluarga Lewi yang dekat dengan penguasa Yehuda. Saudara kandungnya Seraia bin Neria dicatat pula sebagai bendahara kerajaan, di masa pemerintahan Zedekia, raja terakhir dinasti Daud.

Keberanian dan keteguhan hati Barukh untuk selalu menolong Nabi Yeremia adalah hal yang paling dikenali dari seluruh penceritaan tentang sosoknya. Barukh dengan patuh menuliskan seluruh perkataan Tuhan yang disampaikan Yeremia. Ia pun membacakannya di Bait Allah meskipun tindakan itu mengandung risiko untuk nyawa dan jabatannya.

Barukh dikabarkan menyaksikan sendiri kehancuran Yerusalem, saat penyerangan kedua (± 586 SM) yang membungihanguskan sepenuhnya kerajaan Yehuda. Sejumlah tradisi Yahudi menyebutkan ia turut dalam pembuangan ke Babel, dimana disana ia tetap menjadi pengajar Taurat. Ketekunannya mengajar inilah yang melahirkan generasi baru pemimpin Yahudi seperti Ezra dan Nehemia.

Atas dasar tradisi itu, nama Barukh cukup sering dijadikan nama depan anak laki-laki Yahudi. Sebagai bentuk tekad ketekunan umat Yahudi yang terserak di penjuru dunia, untuk terus memelihara Taurat. Lagi pula, nama Barukh (Ibrani: baruk, yang diberkati/diberkatilah) memang memiliki arti yang indah, seperti juga nama ayahnya Neria (Ibrani: neriyahu, Tuhan adalah pelitaku). Sosok Barukh dianggap sebagai orang yang tenang dan teguh dalam krisis, serta tahu memprioritaskan hal yang benar-benar utama.

Sebagian tradisi kekristenan juga mengakui Kitab Barukh sebagai kanon Kitab Suci. Kitab ini memuat sejumlah refleksi historis dan teologis yang matang atas nasib bangsa Israel. Kitab ini ditujukan bagi umat Yahudi di Yerusalem dan diaspora.

Meski tidak ditemui dalam versi Ibraninya, Septuaginta memang memuat Kitab Barukh ini sebagai bagian utuh dari Kitab Nabi Yeremia bersama Ratapan dan Surat Yeremia. Versi Yunani yang ada memang mengindikasikan bentuknya merupakan terjemahan dari bahasa Ibrani. Hal itu juga diakui oleh sejumlah Bapa Gereja awal seperti Athanasius, Kyrillius dari Yerusalem, dan Agustinus dari Hippo. **arms

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA