Elia: Sang Nabi yang Kompleks

Dalam tradisi Yahudi, setiap kali berlangsung upacara penyunatan bayi (brit millah), selalu disediakan satu kursi, yang diberi keterangan: “Inilah kursi Elia (Ha kishe syel Eliyahu).” Menurut uraian para rabbi, tradisi ini merupakan jawaban atas keluhan Elia, yang mengira hanya dirinya sendirilah pelayan TUHAN di Israel (Lihat 1 Raja-raja 19: 10-18). Jadi setiap kali penyunatan, Elia dijadikan saksi bahwa masih banyak umat Israel yang memegang teguh perjanjian dengan TUHAN.

Tidak hanya itu, tradisi Paskah Yahudi juga menenekankan Elia sebagai utusan pendahulu Mesias. Ada cawan kelima yang dibiarkan kosong dan pintu yang dibuat terbuka, untuk kehadiran Elia, selama jamuan makan (seder) Paskah. Hal, yang kemudian dalam kekristenan diyakini telah digenapi oleh karya Yohanes Pembaptis, kemudian ditandai dengan kehadiran sosok Elia dalam peristiwa Transfigurasi.

Ketergantungan hidup sepenuhnya pada Tuhan serta kehidupan yang digambarkan amat saleh, membuat Elia banyak dijadikan teladan. Namanya dipakai dalam sejumlah gerakan keagamaan Kristiani. Mulai dari ordo Karmelit yang mengambil nama dari tempat Elia menantang nabi-nabi asing, hingga sejumlah gerakan kharismatik yang menekankan peran kenabian Elia.

Pada kenyataannya, penghormatan pada Elia bahkan tidak terbatas pada tradisi Kristiani dan Yudaisme. Agama Islam dan Baha’i juga memberi tempat khusus pada nabi ini. Peran Elia (Ilyas) sebagai utusan Allah yang saleh, dianggap punya keterkaitan spiritual dengan Zakaria, Yahya dan Isa dalam tradisi Islam. Demikian pula dalam tradisi Baha’i, peran Elia dianggap sama seperti peran Yohanes Pembaptis bagi Yesus dan Sang Bab bagi Bahaullah.

Beragam penghormatan ini pula yang membuat sosok Elia sering pula dianggap pemersatu. Di Bosnia-Herzegovina, misalnya, sejak pertengahan abad ke-18 sosok Elia dijadikan sebagai patron saleh pelindung dan pemersatu wilayah yang terdiri dari komunitas Muslim, Katolik, Ortodoks dan Yahudi itu. Anthropolog Bosnia, Safet HadžiMuhamedović, bahkan menunjukkan dalam kajiannya bagaimana sosok Elia (Aliadun/Iliadun) dianggap sebagai pengharapan pasca perang Bosnia, oleh komunitas Muslim dan Kristen disana.

Di sisi lain, karena cukup banyak narasi kitab suci yang menggambarkan situasi emosional pribadi Elia, kisah nabi besar Israel ini juga telah lama menjadi subyek kajian psikologis dan inspirasi untuk karya seni. Carl Jung menjadikannya sebagai salah satu sosok dalam Buku Baca-nya. Demikian pula komponis Jerman Felix Mendelssohn hingga novelis Paulo Coelho tak bisa melewatkan sosok Elia untuk karya besar mereka.

Nampaknya tidak ada nabi Israel, yang dihayati dengan begitu kompleks seperti Elia. Latar belakangnya yang misterius (hanya disebut berasal dari Tisbe), pemberitaannya yang frontal dan tanpa basa-basi dan berani berhadapan dengan penguasa serta pemimpin agama, kedekatan dan pembelaannya atas kaum lemah (seperti janda di Sarfat dan Nabot), namun juga sisi melankolisnya yang begitu kentara ditunjukkan – telah menjadikan kisah, teladan dan inspirasi Elia begitu populer. **arms

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA