Jika Anak Bertanya tentang Pengeboman Gereja

Ledakan, kengerian dan anak-anak…

Kita ingat peristiwa bom molotov ke Gereja di Sengkotek, Samarinda November dua tahun lalu. Intan Olivia Marbun meninggal serta sejumlah rekannya mengalami luka kritis. Pun dalam kasus pengeboman tiga gereja di Surabaya pagi ini (13/5), ada korban anak. Vincencius Evan adalah seorang anak yang paling pertama diidentifikasi polisi sebagai korban yang meninggal. Putra Katolik di Paroki Santa Maria Tak Bercela Ngagel itu mengalami luka bakar dan patah yang amat parah. Adiknya Nathanael, juga ada dalam kondisi kritis.

Apa yang bisa kita katakan? Peristiwa itu begitu nyata, tak mungkin ditutup-tutupi. Media massa dan media sosial kini begitu brutal dalam keterbukaan dan ketergesaan. Banyak foto dan video yang cukup mengerikan beredar. Unggahan tentang pengeboman Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, Jl. Ngagel, GPPS Jl, Arjuna dan GKI Jl. Diponegoro itu menjadi begitu viral.

Anak-anak dan remaja kita tentu sangat mungkin mendengar dan melihat itu semua. Lantas bagaimana jika mereka bertanya tentang itu? Sebagai umat Kristiani kita tentu ingin, agar mereka tidak takut untuk datang ke gereja, untuk bergaul dengan rekan-rekannya yang berbeda, juga untuk sekedar keluar rumah. Tapi cukupkah dengan berkata: “Jangan takut”?

Pada kenyataannya kita mesti sadar akan reaksi manusiawi. Alih-alih langsung menelurkan jargon yang terlihat spiritual soal jangan takut, ada baiknya kita lebih dahulu bertanya soal apa yang mereka rasakan saat mereka terpapar berita itu. Psikolog Cary Cooper, pernah menuliskan pentingnya memberi ruang bagi anak dan remaja untuk menunjukkan reaksi dan perasaan-perasaan yang berkecamuk dalam benaknya. Tidak langsung meredamnya dengan kalimat-kalimat pamungkas atau larangan.

Mungkin saja, anak dan remaja kita tidak sekedar takut. Bisa jadi mereka juga marah dan benci. Atau mungkin, jika mereka sudah cukup memahami konteks, mereka mungkin merasa agak putus asa, atau bingung soal peran dan identitas yang melekat padanya sebagai anak beragama Kristiani di masyarakat sekitarnya dan di Indonesia.

Pertanyaan semacam: “Kenapa orang Kristen diserang?”… “Apakah orang Muslim memusuhi kita?”… “Apakah kita bisa kena hal serupa?”… “Apakah kita aman tinggal disini?”… dan banyak ungkapan jujur serta prasangka lainnya tentu sangat mungkin muncul. Jawaban dan respon yang mereka hadapi akan pelan-pelan membentuk paradigma, pola pikir dan prasangka-prasangkanya atas realitas itu. Tidak jarang akan sangat mempengaruhi sikapnya setelah dewasa nanti.

Disinilah ada dua hal penting yang perlu dipertimbangkan orang tua. Pertama, terkait kemampuan afeksi dan bicara kita untuk menyampaikannya dalam bahasa sederhana dan mereka mengerti. Memahami perasaan mereka dan mencoba menjelaskan duduk perkaranya.

Namun, yang justru jauh lebih penting adalah yang kedua, terkait teladan sikap kita sendiri. Sikap apa yang kita pilih atas peristiwa itu adalah hal yang lebih mudah dilihat dan dirasakan oleh anak. Lebih dari sekedar ucapan atau doa formal yang kita daraskan.

Apakah kita mengakui ketakutan namun mencoba untuk percaya dan menghidupi pengharapan Kristiani serta kebangsaan Indonesia, ataukah kita malah memilih untuk takluk pada rasa takut, kebencian, keputusasaan atau amarah, atau kita sendiri masih bingung harus bersikap bagaimana – semua itu akan segera terasa dan mengetuk relung hati anak…

Sangat mungkin siang ini, sudah banyak anak dan remaja GKI yang menanyakan soal peristiwa pagi tadi pada orang tua, guru sekolah minggu atau warga dewasa lain di jemaat ini. Lantas bagaimana dan apa jawab kita? **arms

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA