Kapal Theseus

Ray North penjahat ulung internasional. Kali ini kliennya menuntut agar ia mencuri kapal pesiar terkenal, Theseus. Kapal pesiar tersebut merupakan tempat kejadian perkara terbunuhnya seorang miliarder media dan temannya seorang musisi muda yang sedang naik daun.

Dan sekarang Ray sedang berada di dok kering dimana kapal tersebut baru saja menyelesaikan perbaikan besar. Ia kebingungan karena dihadapannya terdapat dua kapal pesiar yang sama persis.

Ia menoleh kepada salah seorang penjaga keamanan yang dibuat tidak berkutik di bawah todongan senjata anak-buahnya. “Jika engkau ingin tetap hidup, katakanlah sekarang juga yang mana Theseus yang asli,” tuntut Ray kepadanya.

“Jawabannya sangat tergantung,” terdengar jawaban gugup dari sang penjaga.

“Begini ceritanya, ketika kami mulai memperbaiki kapal tersebut, ternyata ada banyak sekali bagian kapal yang perlu diganti. Bahkan, sepertinya seluruh bagian kapal ini akhirnya digantikan dengan bagian-bagian yang baru. Kami tidak membuang sama-sekali barang-barang bekas penggantian tersebut. Sehingga ketika kami selesai, kami berpikir untuk menggunakan seluruh bagian bekas tersebut dan membangun kembali sebuah kapal darinya. Jadi inilah yang ada di hadapan kita. Di sebelah kiri Anda adalah Theseus yang telah diperbaiki dengan sepenuhnya barang baru, dan di sebelah kanan adalah Theseus yang dibangun dari bekas-bekas bagian yang lama.”

“Jadi yang mana Theseus yang asli?” Sekali lagi Ray bertanya. “Hanya itulah yang bisa aku katakan kepadamu!” Jerit sang penjaga, sementara rekan-rekan Ray menekan dirinya dengan lebih keras lagi. Ray menggaruk kepalanya dan mulai berpikir bagaimana ia bisa memecahkan perkara ini. (Disederhanakan dari: Leviathankarya Thomas Hobbes – 1651).

Manakah yang merupakan Theseus yang asli? Ternyata jawaban atas pertanyaan ini sangat relatif. Jika Anda merupakan seorang detektif yang berupaya untuk mencari bukti-bukti forensik tentang kematian seorang miliarder muda dan temannya, maka tentu Anda akan memandang kapal yang dibangun dari bagian-bagian bekas itu sebagai Theseus yang asli. Hal serupa juga akan terjadi apabila Anda merupakan seorang kolektor yang mengumpulkan benda-benda dengan nilai sejarah.

Namun, dalam kasus sengketa kepemilikan misalnya, maka kapal yang telah direnovasi baru itulah yang akan dipandang sebagai Theseus yang asli. Itulah kapal yang akan diserahkan kepada pemiliknya yang sah. Bayangkan Anda menyaksikan rekaman proses reparasi tersebut, dimana kapal yang masuk untuk diperbaiki kemudian secara bertahap dikerjakan, dan akhirnya selesai dalam bentuknya yang baru.

Itulah Theseus yang asli dari sudut pandang ini. Kapal ini merupakan kelangsungan dari kapal yang sebelumnya, sementara kapal yang dibangun dari barang-barang bekas tersebut baru ‘lahir’ kemudian.

Bukankah manusia menyerupai kisah Theseus ini? Ketika kita menjalani kehidupan, sel-sel dalam tubuh kita terus-menerus mati dan digantikan dengan yang baru. Pemikiran kita juga berganti, sehingga sedikit sekali (atau bahkan sudah tidak ada lagi) pemikiran yang ada di kepala kita saat berusia sepuluh tahun yang masih tersisa, ketika Anda sudah berusia dua puluh tahun.

Ada begitu banyak pikiran, kenangan, keyakinan, dan sikap hidup kita secara bergantian, digantikan dengan yang baru ketika kita bertumbuh dewasa. Jika demikian halnya, apakah kita tidak dapat mengatakan kita masih adalah orang yang sama dengan diri kita sepuluh tahun yang lalu? Bukankah pertanyaan tentang jati diri Theseus ini juga merupakan refleksi tentang cara pandang kita tentang jati diri kita yang senantiasa berubah seiring dengan waktu?

Demikian pula halnya dengan gereja, ajaran, kebiasaan, tradisi, dan berbagai dinamika kehidupan di dalamnya. Permasalahan Theseus ini menjadi bahan perenungan tentang identitas kita dalam hidup ini.

Di satu sisi, perubahan dan pembaruan tidak semata-mata berarti penyangkalan terhadap identitas kita; sementara di sisi lain, mempertahankan atau memugar kembali yang sudah ada juga tidak serta-merta berarti mempertahankan otentitas identitas kita.

Dalam perspektif iman Kristen, kita diingatkan melalui nasehat Paulus. Roma 12:2b “… tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Seperti Theseus yang keasliannya ditentukan oleh perspektif mana yang harus kita gunakan.

Maka dalam kehidupan ini, yang menentukan jati diri kita (sebagai pribadi, keluarga, gereja, maupun bangsa) yang asli, ditemukan dalam kemampuan kita untuk membedakan mana kehendak Allah: mana yang baik, mana yang berkenan kepada-Nya, dan mana yang sempurna.

Penulis: Pdt. Roy A. Surjanegara

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA