Membuang Undi di Gereja

Alkitab menceritakan sejumlah keputusan yang diambil oleh orang percaya dengan membuang undi. Dalam Perjanjian Lama praktik ini terbilang lazim. Bahkan dalam pakaian imam besar ada dua batu tersembunyi (urim dan tumim) yang biasanya dipakai untuk menentukan sejumlah keputusan spiritual dalam keseharian kehidupan umat Israel.

Selain urim dan tumim, Kitab Taurat dan Para Nabi mencatat sejumlah praktik lain dari membuang undi. Semisal penentuan domba yang dikorbankan untuk Tuhan atau dilepas jauh dari perkemahan (Imamat 16:8), penentuan wilayah tiap suku Israel (Bilangan 26:55), penyelidikan atas pelanggaran Akhan (Yosua 7:14), pelanggaran sumpah oleh Yonatan (1 Samuel 14:42), hingga undian atas Yunus di kapal (Yunus 1:7).

Perjanjian Baru pun mengindikasikan bahwa praktik undi juga dilakukan oleh budaya lain semisal saat penentuan siapa yang memperoleh jubah Yesus oleh prajurit Romawi. Satu-satunya bentuk pengundian yang tercatat dilakukan oleh pengikut Kristus adalah saat para rasul memutuskan siapa pengganti Yudas Iskariot (Kisah para Rasul 1:23-26). Dimana mereka membuang undi atas Matias dan Yustus atau Barsabas, kemudian terpilihlah Matias.

Saat ini, di Gereja Katolik maupun kebanyakan gereja Protestan, praktik mengundi mungkin sudah hampir tidak ditemui. Tapi di gereja-gereja Ortodoks, praktik itu terkadang masih dipakai, terutama saat mengambil keputusan yang terbilang sulit. Pemilihan Metropolitian Tikhon sebagai Patriakh Gereja Ortodoks Rusia tahun 1917 adalah contoh penunjukan pejabatan gerejawi dengan pengundian, mengingat saat itu posisi pimpinan gereja Rusia pasa Revolusi Bolshevik, dinilai begitu berat. Demikian pula contoh terbaru, pemilihan Paus Tawadros II (November 2012) sebagai pemimpin Gereja Ortodoks Koptik di Mesir.

Di kalangan Pietis Protestan, praktik ini juga lazim dikembangkan di awal gerakannya. Persaudaraan Moravia, pimpinan Zinzendorf, bahkan sangat sering membuang undi untuk banyak perkara termasuk pemilihan tempat membangun gereja, penunjukkan misionaris, pemilihan penatua dan banyak hal lain. Praktik ini memang diputuskan untuk diakhiri sekitar abad ke-19, terutama selepas Sinode Moravia 1818. Namun, dalam tradisi kaum Amish, pengundian masih tetap dipraktikkan, terutama saat memilih kaum awam untuk menjadi pengkhotbah.

Hal itu menunjukkan dalam sejarah gereja, praktik membuang undi memang pernah dipakai, terutama untuk pemilihan jabatan gerejawi. Meskipun sekarang umumnya jabatan gerejawi disahkan dengan permufakatan atau pemungutan suara, namun petunjuk bahwa praktik pengundian pernah cukup massif dipakai memang jelas terlihat. Bahkan kata Yunani untuk undian, yaitu kleros, justru menjadi akar untuk turunanya klerus, cleric atau clergy yang erat kaitannya dengan pejabat gereja.

Meski kesannya serampangan, namun pengambilan keputusan dengan cara ini pun bisa dimaknai sebagai bentuk keberserahan jemaat pada kehendak Tuhan dan menghayati bahwa jabatan gerejawi bukanlah semata ambisi yang dikejar. **arms

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA