Menelisik Warisan Perang Salib di GKI Sudirman

Video singkat buatan Nina Paley itu sangat menggugah. Dengan karikatur yang penuh ironi ia mencoba merangkum sejarah bangsa-bangsa yang pernah menduduki wilayah Israel-Palestina. Mulai dari era manusia gua, bangsa-bangsa awal Kanaan, masuknya bangsa Israel, perang salib hingga pertikaiannya di era modern ini. Tiap-tiap bangsa itu menarasikan dalam lagu, bahwa tanah itu adalah miliknya. Uniknya, di akhir video bertajuk This Land is Mine itu, pembuat video sengaja menampilkan hanya Malaikat Kematian lah yang tinggal. Menyanyikan lagu itu sampai habis…

Tampilan reflektif itu menjadi salah satu sajian pembuka untuk materi pembinaan GKI Sudirman, Bandung. Dalam acara di Lobby SMP BPK Penabur 5, Sabtu malam (26/5) itu, Pdt. Yusak Soleiman, PhD mengajak jemaat yang hadir untuk menelisik sejarah perang salib dan kaitannya dengan perkembangan kekerasan atas nama agama.

Meski mengandung sejarah yang terbilang pahit, rektor STFT Jakarta yang akrab dipanggil Pdt. Yos itu dengan lugas mengajak peserta pembinaan untuk jujur menggali sejarah kekerasan dalam agama, termasuk dalam kekristenan.

Bagi kekristenan di Barat, misalnya, perang salib merupakan awal merasuknya gagasan adanya Perang Suci. Dalam sejarah kekristenan kuno, ide ini tidak pernah populer. Namun, selepas perang salib propaganda ini berhasil memanipulasi unsur-unsur kekerasn yang ada dalam teks-teks kitab suci untuk kepentingan ekspansi,” Pdt. Yos mencontohkan.

Propaganda keagamaan merebut tanah suci yang didengungkan selama perang salib itu pun seringkali dibingkai oleh kepentingan ekonomi dan motif-motif dunawi lainnya. Sebagai contoh saat perang salib keempat (1202–1204) yang justru malah menyerang dan menjarah wilayah Byzantium yang merupakan kekristenan Timur.

Sisi buruk lainnya perang ini juga mengakibatkan munculnya perasaan terancam di tradisi Barat dalam perjumpaan dengan agama-agama lain. Hal serupa juga terjadi di dunia Islam, dimana kecurigaan terhadap kekristenan menjadi sangat menguat. Banyak prasangka keterancaman yang sampai sekarang terus berkembang, mengambil titik dari sejarah perang panjang ini,” lanjutnya.

Pdt. Yos mengingatkan bahwa agama memang bisa menjadi api, sekaligus juga bensin untuk dipraktikkannya kekerasan. Untuk itu kita perlu terus jujur menelisik cara kita beragama dan bersikap di tengah pergaulan, apalagi dalam dunia sekarang yang amat beragam.

Kalau kita tidak hati-hati dalam menyikapi kitab suci, cara kita beragama, pergaulan dan prasangka, bisa jadi kita mengulangi kesalahan yang sama,” tutup Pdt. Yos. **arms

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA