Mengimani Trinitas Membangun Komunitas

Penghayatan iman sangat mempengaruhi cara pandang dan berelasi seseorang dalam kehidupan. Penghayatan yang benar akan melahirkan cara pandang dan cara berelasi yang benar dengan semua orang.  Sebaliknya, pertumpahan darah yang menewaskan jutaan insan di seluruh dunia seringkali terjadi akibat penghayatan yang salah dan kemudian dipertahankan dengan cara yang salah. Untuk itulah, kita perlu memiliki penghayatan yang benar tentang Allah dan memegang ajaran-ajaran dalam perspektif cinta-kasih dan kebaikan bagi seluruh kehidupan di dunia.

Menurut Kalender Gerejawi, minggu setelah Pentakosta kita rayakan sebagai Minggu Trinitas. Minggu Trinitas mengajak kita untuk kembali memahami konsep dasar iman Kristen pada Allah Trinitas. Para teolog Yunani pada masa gereja mula-mula, memahami Allah Trinitas dengan konsep perikhoresis (peri = berputar-putar, khoresis = tarian). Secara sederhana, perikhoresis dipahamai sebagai tarian cinta bersama-sama antara tiga pribadi ilahi (Bapa-Anak-Roh Kudus) yang saling terjalin kuat satu sama lain.

Allah digambarkan seperti penari yang bergandengan tangan, menari berputar-putar dalam kebebasan, menciptakan harmoni dalam kehidupan dan menghadirkan sukacita tanpa batas. Ketiga pribadi ilahi ini saling mempengaruhi dan saling memberi diri. Allah Bapa memberi diri melalui Anak dan semakin dikenal melalui karya Anak. Anak memberi diri melalui Roh Kudus dan semakin dikenal melalui pimpinan Roh Kudus. Roh Kudus juga memberi diri melalui Bapa dan Anak, sehingga Allah yang adalah Roh itu hanya bisa dipahami melalui karya Bapa dan karya Anak.

Kehadiran dan karya Bapa, Anak dan Roh Kudus terungkap dengan sangat gamblang dalam paparan-paparan teks Alkitab. Misalnya dalam Yesaya 6:1-8, ketika TUHAN (terjemahan Ibrani Yahweh, nama diri Allah) memperlihatkan diri kepada Yesaya. Yesaya melihat TUHAN duduk di tahta surgawi yang agung dan dikelilingi para malaikat kudus. Penglihatan itu membuat Yesaya sangat takut dan gentar, sebab ia merasa begitu kotor dan najis oleh karena dosa-dosanya.

Akan tetapi, TUHAN memperlihatkan diri bukan untuk membinasakannya, melainkan untuk menyatakan kasih-Nya kepada manusia berdosa. TUHAN, melalui malaikat-Nya, lalu menghampiri Yesaya dan menyucikan dirinya serta melayakkannya menjadi nabi-Nya.

Kasih TUHAN tidak hanya terungkap melalui pengalaman Yesaya. TUHAN, yang bertahta di surga itu, juga mengasihi manusia dengan jalan menjadi  Anak Manusia. Anak Manusia itu adalah Yesus Kristus. Dalam Yohanes 3:16, Yesus Kristus mengutarakan asal-usulnya, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

TUHAN sangat mengasihi manusia. Ia sampai rela menjadi manusia dengan lahir melalui kandungan Maria, yang dikenal dalam diri Yesus Kristus. Kehadiran TUHAN dalam diri Yesus bukanlah untuk memerangi manusia berdosa. Ia hadir justru untuk menyelamatkannya (Yoh 3:17).

Pasca pelayanan-Nya di muka bumi ini, Tuhan Yesus kembali ke sorga. Ia lalu mengutus Roh Kudus-Nya untuk melanjutkan pelayanan-Nya atas dunia dan manusia. Roh Kudus hadir untuk memimpin manusia kepada Allah. Itu sebabnya, firman Tuhan berkata bahwa “Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah… Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah” (Rm 8:14,16). Jadi Roh Kudus yang diutus Yesus Kristus akan menuntun kita kepada Allah, sehingga kita semuanya akan menjadi anak-anak Allah.

Karya dan relasi Bapa-Anak-Roh di atas kiranya menjadi contoh dan pola bagi kita dalam membangun komunitas kita. Penghayatan terhadap Allah Trinitas kiranya mewarnai relasi, sikap dan interaksi kita di dalam keluarga, gereja dan masyarakat.

Sebagai anak-anak Allah, kiranya kita juga mampu membangun harmoni dengan semua orang. Kita semakin mencintai kehidupan dengan terus-menerus berbagi kasih dan kebaikan yang membangun kehidupan. Kita tidak membiarkan diri dipisahkan dan dicerai-beraikan oleh niat dan kuasa Iblis. Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus menghendaki kita tumbuh dalam persekutuan kasih bersama semua orang. Untuk itu, mari dalam semangat dan keyakinan kepada Allah Trinitas, kita terus membangun keluarga, gereja dan bangsa menjadi komunitas yang penuh kasih, sukacita dan kebaikan.

Penulis: Pdt. Marto Marbun (GKI Perniagaan)

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA