Menyelami Roh Kudus di Pentakosta

Momen Pentakosta sering menjadi refleksi ulang terkait peran Roh Kudus bagi kehidupan orang Kristen. Tak jarang warga jemaat GKI, merasa agak asing terkait ajaran tentang Roh Kudus. Sebab istilah-istilah seperti “pimpinan Roh Kudus”, “karunia roh,” “buah roh,” atau sejumlah istilah lain tidak digunakan sesering rekannya dari tradisi gereja lain.

Dalam keyakinan iman sebagaimana tertuang dalam konfesinya, GKI meyakini bahwa Roh Kudus bukanlah sekedar daya dari Allah, tapi Pribadi Allah dalam kerangka Trinitas. Keyakinan ini setidaknya berimbas dalam dua perspektif.

Pertama, Ia bukanlah sekedar sebagai sesuatu yang pasif, kadang terasa, kadang tidak terasa. Roh Kudus adalah Pribadi yang aktif. Hadir sebagai sumber kehidupan yang tidak lain adalah diri Allah yang penuh kasih bagi seluruh ciptaan. Roh Kudus juga meneguhkan hasrat beriman, menerangi hati dan budi manusia, serta menumbuhkan iman. Ia yang membuat seseorang beriman dan tetap tinggal dalam imannya.

Dalam diri Roh Kuduslah kita merasakan bagaimana Allah yang begitu jauh tak terjangkau menjadi begitu dekat dan bersama kita. Kita mengalami kedekatan yang susah dijelaskan tapi bisa dialami dan dirasakan. Sebagaimana dijanjikan Yesus yang tidak akan meninggalkan kita sendirian (Yohanes 14:16-18). Roh Allah senantiasa hadir, menolong untuk bertumbuh dan berbuah.

Kapan kita menerima Roh Kudus dalam konteks kedekatan yang demikian? Ketika kita percaya dan dibaptis. Dalam pemaknaan sakramental GKI, baptisan bukanlah simbol kosong, tapi sebuah pernyataan iman bahwa Allah menerima kita dalam persekutuan dengan Roh-Nya. Ini dapat kita imani dalam kehidupan doa. Dimana kita bisa meyakini bahwa Allah mendengar, doa kita bukan sekedar self talk yang memantul pada diri kita sendiri.

Perspektif kedua juga tak kalah pentingnya. Karena kita meyakini Roh Kudus adalah Pribadi Allah, maka karya-Nya pun adalah karya relasional Allah dalam kita. Menjadikan kita ambil bagian dalam misi Allah demi sejahtera bagi dunia. Ia tidak dibatasi hanya pada karya-karya yang spektakuler dan terlihat “wah” semata. Lebih jauh, Ia berkarya dalam relasi yang intim dan begitu keseharian di sepanjang hidup kita.

Konsekuensinya, kita lantas tidak mengotakkan pekerjaan Allah. Tidak terbatas pada bahasa lidah atau satu dua karya mujizat, tapi dalam konteks misi Allah menghadirkan sejahtera bagi dunia. Karena sifatnya relasional, maka penghayatannya ada pada kedekatan serta panggilan dan karunia bersama Tuhan.

Keindahan yang muncul bukanlah sekedar karena kita mengalami kepuasan pribadi tapi karena kita dibentuk dan bertumbuh. Karena kita menjadi bagian dari kerajaan dan karya Allah. Itulah yang kita yakini sebagai mengalami Roh Kudus. Kita melihat dengan sungguh, bahkan dalam hal yang kecil bagaimana sebenarnya kita tidak akan sanggup, tapi kita melihat dan merasakan Tuhanlah yang menolong.

Kedua pemaknaan ini mungkin terlihat amat bersahaja, namun dalam keyakinan GKI inilah yang memampukan kita menjadi rekan sekerja Allah dalam meneruskan pekerjaan-pekerjaan-Nya yang baik bagi seluruh ciptaan. **arms

Disarikan dari: Uraian Pdt. Merry Malau (GKI Gunung Sahari) di Rubrik SEKATA RPK FM 16 Mei 2018.

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA