Merawat Keberagaman Bersama Ibu Shinta

Kursi roda yang dipakai Shinta Nuriyah sempat sedikit diangkat melalui beberapa bagian yang tidak rata. Dituntun oleh asisten dan juga kawalan pasukan Paspampres, ia naik panggung untuk memulai tausyiah jelang buka puasa. Hari itu Jumat (18/5), istri almarhum Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini memulai tur untuk sahur dan buka puasa keliling Indonesia dari kota Bandung.

Mengambil tempat di Balai RW 12, Kelurahan Bababkan, Babakan Ciparay, Bandung Ibu Shinta membuka puasanya di hari itu bersama ratusan warga dari berbagai latar belakang agama, etnis dan profesi. Tidak hanya di tempat ini, di pagi hari Sabtu (19/5), Ibu Shinta juga menggelar sahur bersama di desa Jelegong, Kabupaten Bandung. Untuk kemudian bertolak menggelar acara serupa di wilayah Garut dan puluhan kota lainnya di Indonesia.

Ini memang program yang telah rutin dijalankan selama belasan tahun oleh Shinta Nuriyah. Dimana ia berbuka puasa dan sahur bersama berbagai kelompok masyarakat, terutama mereka yang berasal dari kelas bawah.

Kami hanya ingin bersilaturahmi menyapa saudara-saudari kami semua dengan baik, menanyakan bagaimana puasanya, dan apa yang menjadi kesulitan dalam kehidupannya. Kami banyak mendapatkan masukan, bagaimana kehidupan mereka, bagaimana mereka berjuang untuk mencari sesuap nasi,” kata Shinta Nuriyah menjelaskan tujuannya.

Dipilihnya wilayah kelurahan Babakan sebagai tempat acara di tahun ini juga merupakan apresiasi atas inisiatif warga dan pemerintah yang menjadikan wilayah ini sebagai salah satu kampung toleransi di Bandung.

Ibu Shinta dalam tausyiahnya mengedepankan bagaimana puasa dihayati sebagai bentuk pembentukan karakter pribadi, umat maupun masyarakat. Sesuai dengan tema tahun ini yang menyerukan agar dengan berpuasa kita mengembangkan kearifan, kejujuran dan kebenaran dalam kehidupan berbangsa.

Dalam mengerjakan ini semua, Yayasan Puan Amal Hayati yang menjadi penggagas dan pelaksana kegiatan ini tidak bekerja sendiri. Mereka menggandeng sekian banyak lembaga dan juga berbagai organisasi keagamaan. Untuk acara sahur dan berbuka puasa di Bandung misalnya, acara ini didukung oleh Komisi Keadilan dan Perdamaian Keuskupan Bandung, Yayasan Percik Insani, GKI Klasis Bandung, GKP Bandung, GKJ Bandung, GP Anshor Bandung, PMII, GMKI, PMKRI, Wanita Buddhis, serta banyak lembaga lain. Tak ketinggalan unsur dari warga dan pemerintahan setempat.

Rm. Fabianus Muktiyarsa, Pr, penanggung jawab kegiatan ini di Bandung mengaku sangat berbahagia bisa terus bekerjasama dengan sekian banyak elemen masyarakat yang ada untuk menggelar acara ini. Hal yang diharapkannya untuk terus tumbuh demi merawat keberagaman. **arms

Foto: Suherman Tjandra (GKI Kebonjati)

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA