Pdt. Roy dan Kecenderungan Memaknai Ulang

Ia berbicara dengan tempo sedang. Beberapa kali memberi jeda, mencari istilah yang lebih pas untuk mengungkapkan pemikiran. Tidak jarang, pertanyaan sederhana dijawabnya dengan amat mendalam. Menunjukkan kompleksitas yang coba untuk diurai dari sekian lama ia menjalani pelayanan.

Kesan itu begitu terasa saat berbicara dengan Pdt. Roy Alexander Surjanegara. Meski dalam suasana yang santai dan bersahabat, pendeta GKI Maulana Yusuf itu selalu mengajak lawan bicaranya menelisik jauh ke dalam.

Mungkin karena itu, saya jadi suka mengajar,” ungkap Pdt. Roy sembari tersenyum. Baginya momen-momen seperti khotbah di ibadah minggu, kelas katekisasi, pembicara di persekutuan, atau berbicara secara personal adalah hal yang selalu menyenangkan. Ia mengaku, selalu mempersiapkan dengan serius setiap kesempatan untuk berkhotbah atau mengajar.

Dalam mempersiapkan khotbah, misalnya, saya selalu memikirkan kemungkinan bahwa bisa jadi itu kali pertama orang mendengar khotbah dan dia bisa melakukan sesuatu karenanya. Sayang sekali kalau khotbah yang dia dengar tidak dipersiapkan dengan baik,” lanjutnya.

Bagi pria kelahiran Jakarta 39 tahun silam ini, peran mengajar memang begitu vital. Tidak hanya terwujud dalam bentuk khotbah atau kelas katekiasi. Ia memberi contoh persidangan gerejawi atau perencanaan program-program juga merupakan cara gereja menunjukkan bagaimana kita menghidupi firman yang diwartakan di mimbar.

Sayangnya, selama ini kita seringkali banyak berkutat di hal yang terlalu teknis, yang sebenarnya bisa dibuat lebih efektif. Seringkali energi kreatif habis, sehingga tidak bisa lagi membahas yang esensi. Padahal menurut saya peran utama yang tersirat, bagi seorang pendeta dan penatua, bukan sekedar menjadi administrator, tapi menjadi katalisator sebuah persekutuan atau komunitas, yang terkadang bahkan tidak sebatas wilayah anggota jemaatnya saja,” kritik ayah tiga anak ini lembut.

Kritik konseptual dan ajakan untuk melihat yang utama, nampaknya mengesankan bahwa Pdt. Roy gemar sekali memaknai ulang segala sesuatu. Lulusan STT Jakarta dan Protestantse Theologische Universiteit – Kampen itu, santai saja bila dianggap demikian. Ia menegaskan tujuan utamanya bukanlah untuk sekedar mengacak-acak kebakuan, tapi mengajak pada refleksi mendalam. Agar gereja selalu revelan dengan realitas. Juga agar kita tidak sekedar mengikuti bentuk dan trend yang ada.

Obrolan dengan SELISIP di Jumat siang (11/5) itu memang menunjukkan kecenderungan serupa. Bicara panjang lebar soal hukum dan tata gerejawi, pengorganisasian bidang-bidang pelayanan GKI hingga gap antar generasi yang terjadi di gereja, Pdt. Roy dengan konsisten menyajikan beberapa alternatif sudut pandang yang begitu segar dan kaya. Yang jelas, menjadi penyeimbang untuk hal-hal yang selama ini sudah dianggap baku, terutama di lingkup GKI.

Di satu sisi memang hal yang baku itu baik bagi stabilitas. Tapi stabilitas juga bisa berarti kita nggak bergerak kemana-mana dan tidak mau berubah. Saya rasa itu tidak baik. Di medsos saya suka menyarankan refind, refine and redefine,” ungkapnya.

Ia memberi contoh terkait hukum dan tata gerejawi, salah satu yang juga menjadi concern studinya. Alih-alih menghayatinya sebagai sangkat atau pagar pembatas, Pdt. Roy menyarankan agar kita melihatnya sebagai kerangka yang memberi kesempatan pada jemaat untuk bertumbuh dan mengisi ruang.

Lihat saja, jemaat kita ibadah minggu di GKI. Selasanya mungkin ikut persekutuan lain. Lalu ikut retreat di rumah doa Katolik. Mereka menikmati itu semua dan bertumbuh. Kalau dahulu, katakanlah disiplin gereja itu terkesan ditakuti, tapi sekarang orang dengan mudahnya berpindah. Bukan berarti hukum gerejawi berubah, tapi penerapannya membutuhkan refleksi tentang apa yang paling utama dan harus dipertahankan. Kita nggak bisa lagi sekedar meregulasi kehidupan gerejawi internal. Punishment juga bukan lagi cara efektif untuk mendorong perubahan,” ia mencontohkan.

Pemikiran seperti ini mungkin dianggap nyeleneh oleh mereka yang suka stabilitas. Pdt. Roy pun memaklumi itu. Namun, ia merasa perlu memberi suara penyeimbang. Sehingga muncul ketegangan antara fleksibilitas dan stabilitas.

Seringkali itu merupakan psikologi orang yang takut,” ungkap Pdt. Roy. “Namun kita perlu memakluminya sembari mendorong sudut pandang yang lain. Bahwa hukum dan tata gereja itu bukanlah hukum positif yang harus ditaati kaku. Karena kalau begitu yang kita butuhkan adalah penegak hukum, bukan persidangan gerejawi,” lanjutnya sambil tertawa. Ia mengingatkan bahwa peran majelis jemaat bukanlah dipanggil menjadi penegak hukum, tapi untuk menggumuli kehendak Allah dalam situasi yang dihadapi saat ini.

Meski cukup sering menelurkan ide dan pemaknaan ulang, Pdt. Roy tidak lantas mendapuk diri sebagai perintis. Baginya perintis itu bukan soal mau tidak mau. Satu ide tetap lebih besar dari orang, perubahan bisa saja terus berlanjut, meski orang yang menggagasnya ditolak di awal. Hal serupa pun ia maknai dalam hal keteladanan.

Bagi saya seorang pendeta itu bukanlah mengejar keteladanan by design. Ia harus punya karakter dan otentik. Perkara kemudian orang meneladaninya itu adalah imbas yang mengikuti. Seringkali karena mengejar keteladanan by design, kita malah menghasilkan keteladanan pabrikan. Seolah-olah ada cetakannya dan yang keluar dari cetakan itu adalah produk reject,” ungkapnya dibarengi tawa.

Dalam tawa dan lontaran idenya itu terlihat jelas Pdt. Roy terus berusaha memaknai ulang serta merefleksikan esensi tiap pelayanan yang ia gumuli. **arms

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA