Pemboman Gereja: Kemana Pemuda GKI?

“Kemana pemuda GKI?”

Pertanyaan reflektif namun terkadang kurang enak didengar itu beberapa kali didengungkan dalam sejumlah status media sosial aktivis dan para pengerja GKI, selepas pemboman tiga gereja di Surabaya pada Minggu (13/11) lalu. Apalagi sebagian pertanyaan itu lantas membandingkannya dengan sejumlah respon kelompok pemuda terhadap peristiwa itu. Atau bahkan dengan pemuda Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) dan Orang Muda Katolik Keuskupan Surabaya yang dinilai “lebih responsif” dan cukup mengesankan “berada” bersama gereja di waktu itu.

Pemuda GKI sebenarnya sudah menyerukan sikapnya. Hastag #masihdigereja yang dipopulerkan Pemuda Remaja GKI Diponegoro yang menjadi sasaran pemboman, menandakan kepedulian mereka untuk sepenanggungan dengan gereja yang mereka cintai, sekaligus seruan bahwa mereka pun berkarya.

Bohong kalau kami bilang tidak takut. Kami takut. Banget. Tapi kami sadar hal itu justru ‘menggenapi’ cita-cita para pelaku: menyebar takut. Menjauhkan kita dari gereja maupun komunitas,” ungkap para pemuda ini di akun media sosial Komisi Pemuda Remaja GKI Diponegoro.

Dengan merogoh sisa-sisa keberanian, kami memutuskan untuk bertemu – di GKI Dipo – demi membagikan pesan bahwa kami masih di gereja. Banyak kawan-kawan kami belum berani keluar rumah dan berbagai bentuk trauma yang bikin hati ciut. Namun kami percaya kita semua bisa mulai memupuk dan memelihara keberanian, sambil berdoa dan berharap akan ada cinta, solidaritas, dan kebaikan yang dapat dituai. Bahwa cinta kasih dan segenggam keberanian untuk melakukannya akan menjadi awal baik bagi masa depan Indonesia.” lanjut mereka sembari menghantar sebuah video doa yang diunggah dua hari selepas kejadian itu (15/5).

Seruan itu pun kemudian dilengkapi dengan ikrar bersama pemuda GKI, yang diwakili para pemuda di lingkup Sinode Wilayah Jawa Timur. Di hari Sabtu (19/5) para pemuda ini berkumpul di GKI Pregolan Bunder, Surabaya menyerukan semangat Pemuda GKI Wani sembari menyatakan empat hal yang merupakan sikap mereka sebagai pemuda merespon pemboman tiga gereja dan Polrestabes Surabaya.

Keempat hal itu meliputi duka cita bersama seluruh warga Surabaya dan Indonesia, kecaman atas ideologi yang menyuburkan kekerasan, ajakan agar pemuda Kristiani untuk bangkit bersama serta peka terhadap krisis yang ada dalam masyarakat serta seruan agar pemerintah menangkal bibit-bibit kekerasan dan sektarianisme.

Tentu saja, seruan memang tidak cukup untuk menjawab permasalahan. Namun kepedulian yang ditunjukkan dalam seruan-seruan tadi setidaknya mewakili semangat pemuda untuk terus berkarya bagi gereja dan masyarakat.

**arms

Sumber foto dan video: Ignite GKI

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA