Persembahan Syukur di Pentakosta

Setiap hari Pentakosta, biasanya di kebaktian GKI, kita diundang maju ke depan untuk menyerahkan persembahan syukur tahunan kita kepada Tuhan. Apa yang kita lakukan ini berakar pada tradisi bangsa Israel dalam merayakan hari Pentakosta (hari kelimapuluh, yaitu hari kelima puluh setelah pesta Paskah mereka dalam merayakan kelepasan dari perbudakan di Mesir).

Dalam kitab Ulangan 16 : 15, kita dapat melihat bahwa hari Pentakosta bagi bangsa Israel merupakan hari yang penuh bahagia, hari dimana mereka bersukaria atas penyertaan dan berkat Tuhan dalam setahun kehidupan mereka. Pada hari ini, umat Israel mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Tuhan atas berkat panen gandum dan sekaligus menyatakan rasa takut dan hormat kepada Tuhan.

Memang dalam perkembangan kekristenan kemudian, hari Pentakosta diperingati sebagai hari turunnya Roh Kudus kepada para murid. Roh Kudus inilah yang memampukan mereka untuk memberitakan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat bagi umat manusia. Namun, kebiasaan untuk memberikan syukur tahunan atas berkat dan penyertaan yang Tuhan berikan tidak hilang begitu saja. Hanya penekanan lebih dititikberatkan kepada turunnya Roh Kudus kepada para murid.

Sampai sekarang banyak gereja (termasuk di dalamnya GKI), mengikuti apa yang dilakukan oleh umat Israel. Ada gereja-gereja tertentu yang pada hari tersebut mengajak warga jemaatnya membawa hasil pertanian yang kemudian dilelang di halaman gereja, hasil penjualannya lalu diserahkan kepada gereja. Tetapi ada juga gereja yang jemaatnya memberikan persembahan syukur tahunannya dalam bentuk uang.

Dalam memberikan persembahan syukur tahunan hendaknya kita melandasinya dengan pemahaman yang benar. Dasar kita memberikan persembahan syukur tahunan kita tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh bangsa Israel. Kita memberikan syukur kita karena kita mensyukuri apa yang telah Tuhan berikan kepada kita selama setahun. Dan terlebih lagi Tuhan telah datang menjadi manusia dan menebus segala dosa kita melalui kematian-Nya di kayu salib.

Oleh sebab itu, sebenarnya tidak ada alasan bagi kita untuk tidak bersyukur kepada Allah. Salah satu bentuk ungkapan syukur itu ialah dengan menyiapkan dan memberikan persembahan syukur kita kepada Allah melalui gereja-Nya.

Uang persembahan yang kita kumpulkan selama setahun dalam sebuah dompet (dompet syukur tahunan) hendaknya bukan uang sisa: sisa belanja, sisa naik angkutan kota, sisa uang jajan dan sebagainya. Tetapi memang merupakan uang yang kita siapkan untuk kita simpan setiap bulannya dimana kita menyisihkan (bukan menyisakan) untuk persembahan tersebut. Sebagaimana umat Israel memberikan yang terbaik kepada Tuhan dalam persembahan syukurnya itu demikian juga kita menyiapkan persembahan syukur kita.

Sangat baik kalau persembahan itu tidak diberikan secara mendadak pada hari Pentakosta. Persembahan syukur tahunan kita hendaknya merupakan uang yang kita siapkan dengan baik. Sebab kesiapan kita dalam memberikan persembahan syukur tahunan ini menandakan keseriusan kita dalam memberi kepada Tuhan.

Marilah kita mempersiapkan persembahan syukur tahunan kita dengan baik. Sehingga persembahan kita berkenan di hadapan Tuhan. Dan persembahan itu sendiri nantinya akan bermanfaat bagi perkembangan pelayanan bagi warga jemaat yang kita cintai ini.

Selamat mempersiapkan persembahan syukur. Tuhan memberkati kehidupan saudara!

Penulis: Pdt. Jotje Hanri Karuh

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA