Roh Kudus Mengokohkan Kebhinekaan

Pentakosta adalah hari kelima puluh, hari dimana Roh Kudus dicurahkan ke atas para murid Yesus. Pada hari itu juga terjadi peristiwa luar biasa, yaitu dengan satu bahasa, para murid bisa berbicara kepada orang-orang dengan bahasa yang berbeda-beda. Itu merupakan kuasa untuk mereka bisa menjadi saksi Kristus mulai dari Yerusalem sampai ke ujung bumi.

Kalau kita bandingkan dengan peristiwa Babel, terdapat kesamaan, yaitu keduanya adalah tindakan Allah terhadap manusia, dan sama-sama bertujuan agar mereka tersebar keseluruh bumi. Tetapi perbedaannya, kalau di Babel Tuhan mengacau-balaukan bahasa mereka, tetapi di hari Pentakosta justru Tuhan berlaku sebaliknya. Satu bahasa bisa dimengerti banyak bangsa. Jadi, secara konseptual bhineka tunggal ika nampaknya sudah dimulai sejak Pentakosta.

Manusia cenderung melihat kebhinekaan atau kepelbagaian atau keberagaman sebagai sesuatu yang kurang positif. Ini karena ketidak pahaman manusia akan bahasa dan budaya, seperti dikatakan oleh Suzy Kassem, pemahaman akan bahasa dan budaya yang berbeda akan membangun jembatan. Pemahaman ini merupakan cara tercepat untuk merekatkan dunia dan mendekati kebenaran. Lewat pemahaman orang akan mampu melihat kesamaan di hadapan sekian banyak perbedaan.

Disinilah peran Roh Kudus dalam menolong para murid dan kita semua untuk bisa menjadi saksi Kristus di dunia yang plural, dunia yang beragam, bukan dunia yang seragam. Roh Kudus berkuasa mengokohkan kebhinekaan, sehingga kita bisa bersama dalam perbedaan. Kalau ada motto “Berbeda itu Indah,” maka yang terlebih indah adalah ”Bersama dalam Perbedaan,” karena itulah justru esensi dari keindahan, bersama dalam kebhinekaan. Ini sesuai dengan bhineka tunggal ika, semboyan kita dalam hidup berbangsa dan bernegara.

Mungkin masih tersisa sebuah pertanyaan: Mengapa manusia sulit hidup dalam dunia yang plural, dunia yang penuh dengan keberagaman? Joseph Fort Newton pernah mengatakan orang terlalu banyak membangun tembok, namun terlalu sedikit membangun jembatan. Manusia tak henti-hentinya membangun sekat-sekat, membangun tembok pemisah, bukannya membangun relasi dan harmoni.

Nah, pada hari pencurahan Roh Kudus, semua hambatan bahasa diterobos, semua keterbatasan para murid dari segi latar belakang budaya, pendidikan, status sosial, kemampuan komunikasi, semuanya diatasi dalam sekejap. Semua itu karena kuasa Roh Kudus yang mengokohkan dan memampukan para murid hidup dan bersaksi di tengah-tengah dunia yang beragam dan penuh dengan tantangan.

Kiranya semangat Pentakosta tetap hidup dan membakar hati kita semua untuk menjadi saksi – saksi Kristus di dunia. Selamat Hari Pentakosta!

(Tim Bina Jemaat GKI Gunung Sahari)

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA