Tentang Gereja yang Dibom di Surabaya

Barangkali bagi jemaat GKI Diponegoro, Surabaya, juga segenap warga GKI, tidak ada yang tampak terlalu istimewa saat membuka hari di Minggu pagi ini (13/5). Ini adalah Minggu Paskah VII atau sering juga disebut minggu setelah Kenaikan Kristus. Tinggal satu minggu lagi, kalender gereja akan ditandai dengan perayaan Pentakosta, momen yang dianggap sebagai lahirnya gereja sedunia. Dalam konteks GKI, perayaan Pentakosta minggu depan itu biasanya akan ditandai dengan ibadah kebangsaan dan persembahan syukur tahunan.

Mestinya minggu kali ini masih dalam tema sukacita dan syukur. Tambahan lagi, biasanya akan ada persiapan yang cukup sibuk. Lewat sejumlah tampilan dan tema ibadah, lewat kegiatan-kegiatan sosial, lewat sejumlah program lain, GKI dengan segala daya yang ada, akan terus berupaya menunjukkan komitmennya sebagai gereja yang meng-Indonesia. Pun, biasanya menjelang bulan Ramadhan, GKI punya sejumlah program kebersamaan dengan rekan-rekan Muslim dan umat beragama lain.

Tapi, kali ini ternyata ceritanya agak berbeda… Duka dan keprihatinan menyeruak lebih dari semua agenda dan tema rutin itu. Sekitar pukul delapan pagi, sebagaimana dikutip dalam keterangan awal Kabid Humas Polda Jawa Timur, Kombes Frans Barung, terjadi ledakan bom di GKI Diponegoro. Dalam waktu yang berdekatan ledakan pun terjadi di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela Jl. Ngagel, Surabaya dan Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) Jemaat Sawahan Jl. Arjuno, Surabaya.

Kabar duka itu segera memenuhi pemberitaan minggu pagi ini. Di televisi, di situs berita online dan banyak kabar berita media sosial, sejumlah keterangan segera bermunculan. Beberapa orang bahkan terlalu bersemangat, hingga menyampaikan informasi yang masih belum matang, terkait jumlah korban, kronologi, maupun keterangan soal gereja.

Kombes Frans Barung membenarkan ada korban jiwa, meski demikian ia meminta masyarakat untuk percaya pada keterangan aparat kepolisian. “Kita akan terus melakukan update, tapi media dan kawan-kawan harus juga mengerti bahwa identifikasi tidak boleh dilakukan asal-asalan. Kita perlu mengedepankan fakta dan obyektivitas,” ungkap Kombes Frans.

Nampaknya respon yang paling bijak adalah melandaskan pada kabar yang faktual serta percaya pada kinerja aparat kepolisian dan pemerintahan dalam melindungi warganya. Hal tersebut pun diaminkan oleh komentar sejumlah tokoh, termasuk para pengerja GKI. Dari sekian banyak komentar yang diunggah, umumnya menegaskan agar warga jemaat GKI, umat Kristiani, maupun rakyat Indonesia secara keseluruhan tidak takut pada teror, tetap menjaga komitmen untuk persatuan bangsa, serta selalu bijak dalam menyebarkan berita. **arms

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA