Tetap Berbuah di Ulang Tahun 150 Tahun Penginjilan Patekoan

Engkong Lim Siauw Hin, marah-marah. Ia sangat tidak setuju kalau cucu kesayangannya Sherly harus pindah jemaat dari GKI Perniagaan, ikut calon suaminya, Anton, di GKI Samanhudi. Sebaliknya di keluarga Anton, Oma Mei Hwa juga tak kalah sengitnya. Ia ngotot agar Anton tetap berjemaat di GKI Samanhudi, bukan ke GKI Perniagaan.

Engkong dan Oma yang sudah sepuh ini agaknya masih menyimpan pengalaman pahit, saat terjadi persitiwa Patekoan 1953. Saat itu jemaat di wilayah Jl. Patekoan (sekarang Jl. Perniagaan) Jakarta mengalami perselisihan yang berujung perpisahan dua jemaat. Namun siapa sangka, ternyata saat bertemu untuk lamaran, Engkong Lim baru sadar, ternyata Oma Mei Hwa, nenek Sehrly, adalah orang yang jadi kekasihnya di masa lalu…

Tepat di fragmen itu, tawa dan tepuk tangan penonton sontak memenuhi ruangan!

***

Drama di atas adalah bagian dari refleksi kreatif dalam Ibadah Perayaan 150 Tahun Penginjilan Patekoan yang berlangsung di Balai Samudera, Kelapa Gading, pada Kamis (10/10). Dikemas dalam nuansa khas Betawi, event yang dihadiri 2000-an lebih jemaat dan undangan itu memang menjadi perayaan monumental serta dipersiapkan cukup lama oleh GKI Perniagaan dan GKI Samanhudi.

Tahun peringatan yang diambil untuk perayaan ini mengambil titik refleksi pada peristiwa sejarah tahun 1868 saat jemaat ini dirintis. Tahun dimana ada 17 warga Tionghoa yang diinjili oleh Ev. Gan Kwee dan dilayani baptisannya oleh Ds. de Gaay Fortman. Namun, untuk tanggalnya, 10 Mei, merujuk pada tanggal peristiwa Patekoan yang sempat memisahkan jemaat ini dan serta tanggal momen rekonsiliasi diterimanya kembali Jemaat Perniagaan sebagai bagian dari GKI Jawa Barat.

Bagi kedua jemaat, momen 150 tahun kali ini punya kesan tersendiri, karena bertepatan dengan Hari Raya Kenaikan Kristus. Hal yang jadi refleksi mendalam karena momen perpisahan di Peristiwa Patekoan 10 Mei tahun 1953 juga terjadi pada saat Hari Raya Kenaikan Kristus, sebelum akhirnya kembali direkonsiliasi di tahun 1960.

Dalam khotbah di kebaktian perayaan, Ketua BPMSW GKI SW Jawa Barat, Pdt. Seph Davidy Jonazh, mengingatkan betapa pentingnya jemaat untuk terus bertumbuh dan berbuah. Baginya sejarah Patekoan adalah pergumulan alamiah gereja yang meski mengalami konflik, namun mengupayakan rekonsiliasi sembari terus menghasilkan buah-buah pelayanan.

Jemaat Patekoan dan jemaat GKI memang bukan yang paling tua di Indonesia, namun usianya sudah cukup matang. Seringkali karena sudah mapan, kita agak lalai dalam penginjilan dan meneruskan buah pelayanan, sibuk dengan urusan internal. Namun firman Tuhan mengingatkan kita bahwa orang benar akan seperti pohon korma dan pohon aras, yang tetap berbuah pada masa tua dan terus menghasilkan ranting segar,” pesan Pdt. Davidy menukil Mazmur 92:13-16 yang menjadi tema perayaan ini.

Pesan itu tentu begitu relevan mengingat perjalanan panjang kedua jemaat, serta sekian banyak jemaat baru yang menjadi rintisannya. Selepas 150 tahun berjalan menghidupi persekutuan dalam Kristus, kedua jemaat ditantang untuk tetap berbuah dalam arti selalu bertumbuh dan relevan dengan zaman. **arms

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA