Yeremia: Peratap yang Marah

Bahasa Perancis punya kata jérémiade, yang kemudian diserap ke dalam Bahasa Inggris menjadi jeremiad. Kata itu kira-kira berarti ratapan atau kemarahan yang penuh duka. Dalam Bahasa Inggris maknanya sedikit lebih luas, punya nuansa seruan moralitas dengan nada duka dan meresahkan kehancuran suatu masyarakat. Kata ini sempat menjadi favorit kelompok puritan berbahasa Inggris. Dalam khotbah klasik tokoh revivalis Amerika, Jonathan Edwards, misalnya. Sinners in the Hands of an Angry God memuat cukup banyak kata jeremiad.

Mudah sekali ditebak, kata itu berasal dari asosiasinya dengan nabi Yeremia. Nabi yang menyeru sekaligus meratapi kehancuran Yerusalem. Sosok ini dianggap paling pas menggambarkan semangat kaum puritan masa itu, yang mengkhawatirkan dekadensi moral dunia, serta menyedihkan kehancuran yang bakal diterima bangsanya. Tak heran varian nama Yeremia (Jeremy, Diarmaid, Dermot) sempat menjadi nama depan yang paling populer di kalangan puritan Amerika dan Inggris Raya.

Namun, Yeremia bukanlah sebatas peratap atau pemarah. Tradisi Yahudi meyakini selain kitab Yeremia dan Ratapan, Yeremia juga menulis kitab Raja-raja. Hal ini ingin menekankan bahwa Yeremia adalah bagian dari kronik bangsanya. Ia bukanlah seorang dari luar yang meratap, marah atau menubuatkan kehancuran. Namun seseorang yang amat cinta dan memahami jati-diri bangsanya. Kemarahan dan kesedihannya justru muncul karena ia seolah tak berjarak dari apa yang dimarahi dan diratapinya.

Lebih jauh, Yudaisme bahkan meyakini paralelisme antara Yeremia dengan Musa, sosok pembebas bangsa Israel. Mereka sama-sama berkarya bagi bangsanya selama 40 tahun, sama-sama berasal dari keturunan imam (suku Lewi), sama-sama ditentang oleh rekan sesukunya, dan banyak paralelisasi lainnya. Dalam perspektif ini, para rabbi melihat bahwa Yeremia dan pembuangan ke Babel justru menjadi jalan pembebasan yang baru bagi Israel.

Kekristenan pun memaknai Yeremia dalam konteks pembaruan perjanjian dan karya Allah. Istilah “perjanjian yang baru” untuk menyebut kitab-kitab Injil dan surat rasuli, memang merujuk pada nubuat Nabi Yeremia (lihat Yeremia 31:31). Dalam Perjanjian Baru, setidaknya ada 40 pesan yang merujuk pada nubuatan Nabi Yeremia, terutama terkait penggenapan karya Mesias Yesus (terutama di Injil Matius), nubuatan akhir zaman tentang kehancuran Babel sebagai lambang kejahatan (di kitab Wahyu) atau pemenuhan perjanjian yang baru (dalam Surat Ibrani).

Maka bagi kekristenan tampaklah bahwa ratapan dan kemarahan Yeremia bukanlah sekedar keputusasaan akan kehancuran dan kematian. Ia selalu menyimpan sifat Sang Ilahi yang membangun dan mencipta kehidupan baru serta memunculkan harapan. Memberi teladan pada umat Kristiani untuk tidak sekedar meratap dan marah, namun mengerjakan karya kehidupan dan harapan. **arms

Ilustrasi: Nabi Yeremia Meratap karya Michelangelo di Kapel Sistine

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA