Bedah Buku NU di GKI Cimahi

Ya Lal Wathon Ya Lal Wathon Ya Lal Wathon

Hubbul Wathon minal Iman…”

Syair lagu itu menggema dan dinyanyikan dengan semangat oleh sekumpulan pemuda berbaju hijau, sementara rekan-rekannya yang lain memandang takjub. Mungkin itu kali pertama mereka mendengar lirik dan nada dari lagu Syubbanul Wathon (Cinta Tanah Air) yang berasal dari gubahan KH Wahab Chasbullah, salah satu pendiri Nahdlatul Ulama itu. Lagu itu itu mungkin sudah sering dikumandangkan di momen pertemuan-pertemuan para nahdliyin, tapi kali ini lagu yang sama berkumandang di gereja…

Sabtu Sore (2/6) benar-benar menjadi momen yang unik. Di ruang Lantai 1 GKI Cimahi, ada ruang temu. Seratusan kaum muda dari berbagai agama hadir mengikuti acara yang digelar PC NU Cimahi, Gerakan Pemuda untuk Inklusi (GRADASI) Cimahi, GKI Cimahi dan Kanisius. Hari itu digelar bedah buku NU Penjaga NKRI sekaligus kegiatan buka bersama dari berbagai elemen lintas agama di Cimahi.

Buku yang disunting IIp D. Yahya ini memang tak hanya cerita soal kiprah Nahdlatul Ulama. NU Penjaga NKRI adalah cerita tentang Indonesia. Bukan tak disengaja kalau penerbitannya dikerjakan oleh penerbit Kanisius, yang lekat dengan karya-karya teolog Katolik. Demikian pula saat buku itu di banyak tempat dibedah oleh orang dari berbagai latar agama.

Seperti yang terjadi di Cimahi kali ini. Selain Iip sebagai editor, tampil pula para pembedah seperti Pdt. Susanto Teddhy (GKI Cimahi), Frater Yohanes Subroto (Keuskupan Bandung) dan K.H Enjang Nasurllah (PC NU Cimahi). Semuanya menandakan ruang temu yang begitu intens dimunculkan. Sama seperti kiprah NU di tengah keragaman Indonesia.

 

Iip menandaskan buku ini diniatkan untuk melihat kembali perjalanan NU secara lebih santai. “Melihat berbagai capaian intelektual para aktivisnya, dan menengok juga perkembangan NU secara global,” ujarnya.

Buku tersebut juga diharapkan menjadi bahan penyegaran kembali pemahaman pembaca tentang NU. “Buku ini merupakan jawaban dari pertanyaan orang-orang di luar diri NU, mengapa NU begitu spartan mempertahankan NKRI,” lanjut Iip.

Pdt. Susanto Teddhy mengaku sangat mendapat inspirasi soal kebangsaan saat membaca kumpulan tulisan ini, Baginya kumpulan tulisan tentang kiprah NU meneladankan bagaimana kecintaan pada tanah air menjadi penghayatan iman, bukan cuma sekedar laku politik praktis. **arms

Foto: Pnt. Yavet Sulle Konda (GKI Cimahi)

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA