Bicara Kecil soal Pancasila

“Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!” — Galatia 5:14

Tidak semua setuju penetapan 1 Juni sebagai hari lahir Pancasila. Memang, tidak ada yang menampik pentingnya pidato Bung Karno di sidang BPUPKI itu. Namun, ada keberatan yang cukup masuk akal.

Alasan pertama, jika Pancasila mengacu pada 1 Juni 1945, kesan yang ditimbulkan seolah itu ide Bung Karno semata. Padahal Pancasila adalah kesepakatan para pendiri bangsa. Bung Karno memang dengan lihai merangkum perdebatan yang ada di persidangan, sembari dengan jenius menggali kekayaan pikir bangsa Indonesia sejak dulu kala.

Awalnya presiden pertama itu mengusulkan tiga versi dasar, yang terdiri dari lima, tiga (Sosio-nasionalisme, Sosio-demokrasi dan Ketuhanan) atau satu poin saja (Gotong-royong). Bahkan istilah ‘Pancasila’ (lima dasar) adalah anjuran dari Muhammad Yamin. Bung besar, seperti juga Dr. Soepomo yang turut berpidato di sidang itu, agak salah saat menyebutnya sebagai ‘Pancadharma’ (lima kewajiban).

Keberatan kedua, lebih mengarah pada proses. Rumusan 1 Juni itu belumlah final. Masih ada rumusan 22 Juni (Piagam Jakarta) yang sempat menimbulkan perdebatan. Baru 18 Agustus 1945 rumusan resmi Pancasila ada dalam bentuk yang kita pegang sekarang. Bersamaan dengan pedoman dasar, sejumlah aturan bernegara kita pun mulai dibuat dalam UUD 1945.

Bicara besar dan bicara kecil
Tanpa harus menggugat penetapan formal 1 Juni, sebenarnya ada yang bisa ditelisik dari keberatan itu. Kalau boleh beristilah, pidato Bung Karno 1 Juni itu bisa disebut “bicara besar” soal dasar negara. Sementara perdebatan Panitia Sembilan, PPKI, lalu aturan-aturan di UUD 1945 adalah gerak untuk mulai masuk ke “bicara kecil” soal bernegara.

Bicara besar memang sangat inspiratif. Obrolannya pun lebih mudah untuk disepakati. Itu juga menggelorakan semangat, karena kita diikat oleh nuansa persatuan. Di dalamnya terkandung cita-cita luhur, harapan dan rasa sepenanggungan.

Tapi, kita tetap perlu bicara kecil. Kita harus mengatur rumusan besar ke dalam elemen-elemen yang lebih praktis. Kita pun harus jujur membahas perbedaan-perbedaan dan ketidaksempurnaan yang ada dan bagaimana kita menghadapinya.

Sepanjang 73 tahun kita berbangsa dan bernegara, bicara kecil itu belumlah tuntas. Banyak aturan dan perilaku kita yang masih bertentangan dengan bicara besar Pancasila. Alih-alih menghargai ketuhanan dan kemanusiaan, kita sering mengabaikan hak-hak dasar mereka yang kecil. Bukannya menegaskan persatuan, kita terlalu memperjuangkan kepentingan golongan. Tidak sabar berdemokrasi, kita sering main hakim sendiri. Lebih utama lagi, bukannya berkeadilan sosial, ketimpangan dan keserakahan kian merajalela.

Bicara besar kita pun beberapa kali digugat. Ada yang punya niatan mengubah dasar negara. Tidak jarang teror dan intimidasi dipakai untuk melanggengkan. Itu masih kita lihat belakangan ini. Untunglah pemerintah mulai mengambil sikap tegas untuk melawan upaya pencideraan terhadap kesepakatan bersama itu.

Mulai bicara kecil
Tapi sayangnya, kebanyakan kita yang sepakat dengan Pancasila ternyata hanya puas dengan bicara besar. Menyeru “Pancasila sudah final,” “NKRI harga mati,” serta banyak jargon-jargon bicara besar lainnya. Seringkali abai bagaimana obrolan dan seruan yang besar itu dibentuk dengan cerita-cerita yang lebih kecil.

Apakah kita sadar bagaimana aturan-aturan di bawah undang-undang dasar kita mewujudkan bicara besar itu di berbagai bidang? Sudah adilkah kita terkait permasalahan agraria dan hak-hak buruh? Sudah demokratiskah aturan kita memilih pemimpin dan wakil rakyat? Sudah berwawasan persatuankah pendidikan nasional kita?

Mengecil sedikit, kita boleh meninjau hidup kita berjemaat, sebagai bagian utuh dari bangsa Indonesia. Apakah gereja kita punya sikap dan perilaku yang menopang kebhinekaan dan kebangsaan? Bagaimana bentuk praktisnya penghayatan itu?

Bicara yang lebih kecil itu pun bisa terus diturun-luaskan ke berbagai sendi kehidupan. Di keluarga, lingkungan bertetangga, bisnis, pergaulan, bahkan ke sikap hidup pribadi. Tentu saja dalam menelusuri ini, kita ditantang untuk melakukan pembaruan dan refleksi yang terus-menerus.

Saya belajar dari teman dekat saya soal salah satu bentuk bicara kecil yang kongkrit. Jika menghitung jumlah teman, teman saya lebih banyak darinya. Tetapi, soal care-nya berteman, saya kalah jauh. Jika temannya sakit, ia rela datang membawakan makanan atau mengantarkan temannya yang sakit itu ke rumah sakit. Sementara saya, paling mendoakan jika ada teman saya yang sakit. Ia lebih nyata berwelas kasih ketimbang saya. Tak peduli apa agama dan warna kulitnya.

Bagi generasi muda sekarang, ternyata bicara kecil itu jauh lebih berguna. Sebab mereka merindukan untuk belajar dari keterlibatan.

Sekedar mengambil contoh, seruan nasionalis semacam “jaga persatuan bangsa,” atau jargon Kristiani “menjadi berkat buat lingkungan,” akan kalah gema dibanding langsung membuka ruang pengalaman pada remaja gereja kita bergaul dengan santri pesantren dan kaum muda Hindu lalu sama-sama bermain dan membuat vlog serta tong sampah berhias mural (hanya sebuah contoh).

Kelihatan sederhana? Sebenarnya, jika harus dilakukan dengan alami, ternyata itu mesti mengubah sejumlah kebiasaan kita dalam pembinaan dan persekutuan remaja. Bisa jadi itu mengorbankan sejumlah jadwal dan agenda yang kadang belum tentu kita siap.

Apapun tantangannya, kebutuhan untuk bicara kecil itu kian terasa. Kita tidak cukup hanya berkutat di obrolan besar dan karya di awang-awang. Kita butuh Pancasila dalam bicara kecil dan karya yang jelas mewujud. Yuk kita bumikan Pancasila!

Penulis: Basar Daniel Jevri Tampubolon

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA