Di Balik Lagu Ku Rindu Mengiringmu

Syair asli lagu ini berjudul O Master, Let Me Walk With Thee (Oh… Guru, biarlah kuberjalan mengiringi-Mu) ditulis oleh Washington Gladden (1836-1918), sementara melodinya yang populer saat ini adalah aransemen dari Maryton. H. Percy Smith (1825-1898). Sayangnya, dalam teks Indonesia, syairnya sedikit digubah ulang (NKB 182; Ku Rindu Mengiringmu dengan melodi yang berbeda) sehingga semangat awalnya kurang terlihat.

Isi lagu itu merupakan permohonan sang penyair, agar ia dimampukan Tuhan untuk menempuh jalan hidup seperti yang pernah dilalui Yesus. Seumur hidup, Yesus memang melayani di tempat-tempat hina dan rendah. Ia lahir dan berkarya di tengah masyarakat kelas bawah: memperhatikan mereka yang miskin, hina, dan tersisih. Ia mengalami susahnya hidup berjerih lelah.

Sang penyair ingin melakukan hal serupa. Ia yakin, mengikut atau mengiringi Yesus bukan sekedar soal beriman kepada Yesus atau menyembah-Nya dalam ibadah. Mengiringi Yesus berarti mengikuti jejak-Nya. Hidup memperjuangkan keadilan sosial bagi warga yang hidupnya tidak seberuntung diri kita.

“O Guru, biarlah ‘ku berjalan mengiringi-Mu, melayani di tempat-tempat rendah tanpa upah. Ajarkan kepadaku rahasia-Mu, agar mampu menanggung beratnya berjerih lelah dan susahnya mempedulikan sesama…,” demikian lagu itu ditulis.

Siapa pengarang lagu ini? Washington Gladden adalah salah satu pendeta Amerika yang gigih memperjuangkan keadilan sosial di jamannya. Ia menggubah syair lagu ini di masa dimana Amerika tengah giat membangun negeri, setelah perang sipil berakhir. Kemajuan industri dan ekonomi menjadi prioritas utama, sehingga orang-orang kecil kerap menjadi korban. Mereka dipekerjakan dengan gaji rendah. Tenaganya dikuras, namun kesejahteraannya tidak diperhatikan.

Melihat hal ini, Gladden melakukan berbagai demonstrasi dan negosiasi demi memperjuangkan nasib buruh. Ia pun menjadi sasaran kritik para pebisnis. Umumnya mereka berkata: “Sebagai pendeta, tugas Anda adalah menyelamatkan jiwa, bukan mengurusi bisnis!

Namun bagi Gladden, kita tidak bisa melayani sesama hanya dengan mempedulikan kebutuhan rohani mereka, namun mengabaikan kondisi sosial dan eknomi mereka. Soal kehidupan rohani jelas sangat penting. Di bait ketiga, Gladden tetap mengungkapkan pentingnya “berdiam bersama Tuhan dalam persekutuan yang mesra.” Spiritualitas penting, namun refleksi kita harus berujung menjadi aksi. Perenungan harus dilanjutkan dengan perbuatan: memperjuangkan keadilan sosial bagi sesama!

Menarik bahwa dalam syair laguya, Gladden tidak menyebut Tuhan dengan kata Lord, melainkan Master. Mengapa? Kata Lord dalam tradisi Inggris, lebih menggambarkan hubungan feodal antara tuan dan hamba, dimana sang hamba hanya menjalankan perintah tuannya. Sementara kata Master lebih menunjukkan hubungan ajar yang hidup dan timbal-balik antara guru dan murid. Seperti itulah Kristus bagi Gladden. Ia bukan hanya Tuhan, tetapi Sang Guru Agung. Itu berarti, sebagai murid, ia harus terus berguru pada Yesus: menempuh jalan hidup Sang Guru yang begitu peduli pada sesama.

Sumber: Tim Media GKI Gunung Sahari

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA