Hari Ayah Internasional?

Hari Minggu lalu (17/6), sejumlah gereja yang bernuansa Injili di Indonesia, termasuk beberapa jemaat GKI merayakan apa yang disebut sebagai Hari Ayah Internasional alias Father’s Day. Momen itu memang ditetapkan jatuh pada hari Minggu ketiga bulan Juni.

Sama seperti perayaan Mother’s Day yang dirayakan setiap Minggu kedua bulan Mei, perayaan ini berbeda dengan penetapannya di Indonesia. Di Indonesia Hari Ibu ditetapkan pada 22 Desember mengacu pada Kongres Perempuan pertama yang diadakan pada 1928. Sementara Hari Ayah Indonesia, 12 November, masih kurang populer dan baru dicanangkan tahun 2006 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Lantas mengapa perayaan di Indonesia berbeda dengan apa yang disebut internasional itu?

Yang patut diluruskan, sebenarnya tidak ada yang namanya Hari Ayah atau Hari Ibu versi internasional. Tiap negara memang punya ketetapannya masing-masing untuk hari yang dipakai menghormati orang tua ini. Biasanya itu bergantung pada peristiwa, tokoh atau hal yang dikaitkan dengan sosok ayah atau ibu.

Untuk hari ayah, misalnya, saat ini setidaknya ada 29 variasi tanggal penetapannya di berbagai wilayah dunia.

Di sejumlah mazhab Islam, sosok Ali bin Abu Thalib sering dijadikan patron untuk ayah. Sehingga tanggal kelahirannya 13 Rajab dalam Kalender Hijriyah dijadikan momen peringatan Hari Ayah. Kebiasaan ini sampai sekarang berkembang di Iran, Irak, Oman, Mesir, Bahrain dan banyak negara dengan tradisi Islam.

Di Nepal hari Raya Gokarna Aunsi (Sekitar Agustus-September), peringatan untuk inkarnasi Dewa Siwa dan para ayah, dijadikan sebagai momen Hari Ayah Nepal. Sementara di Denmark Hari Konstitusi Denmark 5 Juni awalnya adalah momen dimana pekerja pulang setelah setengah hari bekerja. Karena ini menjadi kesempatan para ayah bisa bercengkrama lebih lama dengan keluarga, tanggal ini pun secara informal jadi Hari Ayah Denmark.

Sebenarnya, tradisi Katolik Roma sejak abad pertengahan telah memaknai Hari Santo Yusuf, 19 Maret, sebagai hari yang didedikasikan untuk sosok ayah. Sampai sekarang sebagian negara dengan tradisi Katolik seperti Italia, Portugal, Spanyol, atau Bolivia tetap merayakan Hari Ayah pada tanggal itu. Sayangnya selepas Reformasi Protestan momen perayaan Santo Yusuf ini memang sering terlupakan. Inilah yang mendorong sejumlah negara berlatar Protestan mengisi kekosongan itu.

Ide untuk merayakan hari Ayah di Minggu ketiga bulan Juni adalah bentukan modern di Amerika Serikat, yang kemudian berimbas ke banyak negara Eropa dan juga negara yang berbahasa Inggris. Ide berasal dari usulan seorang anak bernama Sonora Smart pada tahun 1910. Sonora sangat mengagumi ayahnya, William Jackson Smart. Baginya ayah adalah sosok yang istimewa, sosok yang telah berjuang merawat dia dan kelima saudaranya. Sonora ingin sekali mengatakan kepada ayahnya betapa istimewa dia.

Ide ini kemudian disambut luas, ulang tahun William Smart 19 Juni jadi patokan untuk menjadikan Hari Ayah pada minggu ketiga Juni. Sejak 1913, Hari Ayah mulai dirayakan di Amerika, lantas menjadi resmi pada 1966. Hari Ayah pada tanggal ini pun dirayakan di setidaknya 70 negara lain.

GKI, sama seperti sejumlah gereja Protestan lain di Indonesia, tentu wajar bersentuhan dengan tradisi Amerika ini. Para penginjil dari gereja Presbiterian, Evangelikal, maupun Methodis yang awalnya mempopulerkan perayaan ini di Amerika, Eropa dan sejumlah wilayah Asia, tentu membawa perayaan serupa saat ada di Indonesia. **arms

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA