Insya Allah

Saudara-saudara kita umat Muslim biasa menyertakan frasa insya Allah saat menjelaskan rencana ataupun janji. Ungkapan dalam bahasa Arab ini jika diterjemahkan secara sederhana berarti: “jika Allah menghendaki.” Sayangnya, tidak sedikit pula yang menganggap penyertaan ungkapan ini dalam kalimat mencerminkan keragu-raguan, sikap tidak jelas atau bahkan kurang beriman. Namun, tidak sadarkah kita bahwa ungkapan senada ternyata juga ada dalam Alkitab?

Rasul Yakobus pernah menulis: “Sebenarnya kamu harus berkata : ‘Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.’” (Yak.4:15). Terlepas dari apa motif seseorang mengucapkan ungkapan ini, Yakobus mengingatkan kita untuk berkata dengan ungkapan itu sebagai bentuk pengakuan atas kedaulatan Allah dalam hidup.

Kamu harus berkata : “Insya Allah!” Lantang dan jelas dengan keyakinan penuh Yakobus menilai cara kita berpikir dan berbicara tentang rencana itu penting. Sama pentingnya dengan bagaimana usaha kita mewujudkannya.

Mengapa penting? “Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap,” ungkap Yakobus di surat yang sama. Bagi Yakobus hidup itu sangat sebentar. Apabila kita dalam menyusun rencana hidup sedemikian tanpa menyertakan Tuhan di dalamnya – dapat tercermin dalam perkataan kita – Yakobus menilai hal itu sebagai kesombongan. Kita sombong karena kita tidak sadar bahwa hidup itu seperti uap, hidup itu sementara. Hanya Allah, dan bukan diri kita, yang memutuskan apakah kita akan tetap hidup dan menjalankan rencana kita.

Saat kita mengatakan “insya Allah” atau “jika Tuhan menghendaki,” dengan kepercayaan, sesungguhnya pada saat yang sama kita mengakui bahwa bukan kita pemilik masa depan tetapi Tuhan. Kita mengakui bahwa rencana terbaik kita sekalipun tidak selalu selaras dengan rencana terbaik Tuhan. Kita mengakui bahwa kita terbatas dihadapan Ke-Mahakuasaan-Nya, dan Ke-Mahatahuan-Nya.

Kepercayaan kita atas kesementaraan hidup dan kedaulatan Tuhan atas hidup memang tidak serta merta memberikan perbedaan yang bersifat praktis dalam mewujudkan rencana itu. Tetapi menghasilkan perbedaan dalam cara pandang kita terhadap rencana itu. Kita akan mewujudkan rencana kita itu dengan sikap, keyakinan yang merefleksikan pandangan yang berbeda.

Allah menghendaki kebenaran tentang diri-Nya dan tentang kehidupan ini sungguh-sungguh diketahui, dirasakan, disadari sekaligus juga dibicarakan sebagai bagian dari alasan keberadaan kita. Kita adalah ciptaan Allah yang dibentuk segambar dengan diri-Nya. Kita dikaruniai, diantaranya, dengan pikiran dan bahasa yang luar biasa. Tuhan ingin dengan karunia itu, yaitu dengan kesadaran dan perkataan, kita memasyurkan dan memuliakan diriNya. Maka disitulah Yakobus mengajarkan agar dalam tiap perencanaan kita dengan sadar berkata: “Jika Tuhan menghendaki… Insya Allah…

(Tim Bina Jemaat GKI Kota Wisata)

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA