Introspeksi di Libur Idulfitri

Bulan Ramadhan telah berakhir, Idulfitri pun tiba. Kita sebagai umat yang hadir di tengah saudara-saudari Muslim yang merayakannya, tentu ikut pula ada dalam kesibukan yang sama. Namun, di tengah momen liburan seperti ini, ada baiknya kita sejenak merefleksikan hal-hal yang terjadi selama bulan puasa dan hari raya Idulfitri, seraya mempertanyakan peran kita di dalamnya.

Ganti Presiden di jalan

Mudik sudah menjadi aktivitas rutin tahunan bagi jutaan penduduk Indonesia menyambut ldullfitri. Namun mudik tahun ini ada yang agak janggal, tak lepas dari gaung politisasi dan persaingan menjelang pemilihan presiden 2019.

Bentuk politisasi yang menjadi perhatian warganet adalah kemunculan spanduk yang bertuliskan: “Pendukung #2019GantiPresiden, Anda sedang melewati jalan Tol Pak Jokowi.” Di pihak lain, ada gerakan membunyikan klakson tiga kali saat melihat spanduk bertuliskan #2019GantiPreslden.

Ini adalah hal wajar dalam tahun menjelang pemilu. Petahana pasti punya cara untuk mensosialisasikan program-program yang berhasil, apapun itu, semua kalau bisa dikeluarkan. Sementara oposisi akan berusaha mencari celah. Namun jika kedua kubu tidak bisa menjaga batas, maka semua ketegangan ini akan menghasilkan perpecahan yang makin dalam dalam kehidupan berbangsa.

Apakah kita sebagai umat Tuhan sudah mengambil bagian untuk mengatasi ketegangan-ketegangan seperti ini?

Konsumerisme

Lain lagi dengan suasana selama bulan puasa di negeri ini. Saya masih ingat betul bagaimana sepinya jalanan di Cianjur pada awal puasa. Tidak ada satu pun yang berjualan. Namun, Iihat hari belakangan ini. Walau puasa masih berlangsung beberapa hari, suasana jalanan sudah tidak lagi menggambarkan sikap menahan hawa nafsu.

Sebenarnya bulan puasa bisa menjadi momentum kita bersama untuk melakukan pengurangan budaya konsumtif, yang kian menghilangkan kepedulian pada sesama. Ironisnya, di sudut lain bulan ini justru banyak orang yang bernafsu belanja.

Budaya konsumtif memang sulit dihilangkan. Bahkan, pertumbuhan ekonomi kita justru ditopang oleh tingginya daya konsumsi masyarakat. Setiap menjelang Ramadhan dan Lebaran, pemerintah sering mencemaskan tingginya tuntutan konsumsi. Gejala ini merefleksikan persoalan sistemik dalam kemajuan ekonomi yang dipacu oleh mentalitas rakus untuk mengakumulasi kemakmuran.

Apakah sebagai pengikut Kristus, kita juga adalah pribadi yang terjebak pada konsumerisme?

Tolerani minoritas

Ada nuansa unik lain yang mewarnai bulan ini. Untuk menunjukkan sikap peduli, berbagai kalangan melakukan aksi buka puasa atau sahur. Tidak ketinggalan, berbagai komunitas agama selain Islam pun melakukan tindakan serupa. Klenteng, gereja, vihara, dan komunitas agama lain berupaya menyatakan sikap toleransi dan kepedulan mereka pada umat Islam yang sedang menjalankan ibadah puasa.

Saya sangat senang dengan situasi yang berupaya membangun gambaran toleransi dan kepedulian sosial ini. Namun saya juga gelisah, karena selama ini, kebanyakan sikap toleransi seperti itu hampir selalu diawali dari pihak yang kebetulan menjadi minoritas.

Hal ini bisa memunculkan kesan yang kurang positif. Sebab jika yang minoritas melakukan upaya membangun toleransi, mungkin saja hal itu disebabkan oleh kepentingan kelompoknya yang memerlukan ruang pengakuan atas keberadaannya. Lain halnya jika hal itu dilakukan oleh kelompok mayoritas.

Walaupun sudah ada beberapa kelompok yang terus memperjuangkan toleransi, namun upaya ini memang belum maksimal. Andai seluruh, atau sebagian besar, umat dari kalangan mayoritas dengan jelas menunjukkan sikap toleransi dan kepedulian sosial, tentu ini bukan hanya menyejukkan hati kelompok minoritas, tapi pasti akan berdampak lebih dahsyat pada negeri ini. Tekanan yang dialami kelompok minorltas dalam kehidupan di negeri ini akan jauh berkurang.

Mudik dan halal bihalal

Mudik memang menjadi tradisi di berbagai tempat. Aktifitas tersebut nampaknya tidak tergantikan oleh perkembangan teknologi.

Setidaknya ada empat hal yang menjadi tujuan orang untuk melakukan mudik. Pertama, mencari berkah dengan bersilaturahmi ke orangtua dan kerabat. Kedua, terapi psikologis berupa refreshing bagi kebanyakan perantau yang bekerja di kota besar. Ketiga, momen mengingat dan menyadari asal-usul. Banyak perantau yang sudah memiliki keturunan, sehingga mudik bisa mengenalkan asal-usul pada anak-anaknya. Yang terakhir, adalah unjuk diri. Mudik dipakai sebagai ajang untuk menunjukkan keberhasilan mengadu nasib di kota besar.

Sayangnya, belakangan hari, tujuan terakhir ini nampak mulai mendominasi. Telah terjadi pergeseran nilai terhadap trend mudik Lebaran di masyarakat.

Di masyarakat perkotaan, ajang silaturrahmi Lebaran pun tak luput dari sikap itu. Biasanya keluarga perkotaan mengadakan Syawalan atau halal bihalal keluarga besar, atau pertemuan reuni dengan kawan lama.

Kesempatan-kesempatan tersebut tidak jarang dipandang sebaga ajang pamer kesuksesan dengan menunjukkan dimana mereka bertugas, posisi jabatan atau pangkat yang diduduki, bahkan kadang sampai bercerita tentang harta-benda yang dimiliki. Terjadiah semacam suasana baku saing yang luar biasa soal siapa yang paling sukses. Semua itu merupakan upaya mendapat prestise, menggerus makna silaturahmi dan saling maaf-memafkan.

Mungkin pada masa liburan ini kita berencana turut menghadiri acara-acara halal-bihalal atau reuni dengan teman lama atau untuk liburan ke luar kota, kiranya kita bisa memakal kesempatan ini untuk mempererat persekutuan kita dengan tiap anggota keluarga, dengan keluarga lain, bahkan dengan seluruh warga di sekitar kita. Hendaknya kita tidak lupa untuk dengan tulus terus berbagi kaslh dengan banyak saudara kita yang tidak seberuntung kita. Bukannya malah kita terjerat pada keinginan membanggakan diri dengan seluruh harta yang kita peroleh.

Penulis: Pdt. Hendra Setia Prasaja (GKI Cianjur)

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA