Ketika Ditolak dan Dilukai

Saya dan keluarga mempunyai Iuka masa lalu yang cukup dalam, terkait penolakan. Dulu, kami pernah sekeluarga tinggal di sebuah kontrakan kecil di wilayah Jakarta Barat. Kami hidup bahagia dan akrab dengan para tetangga. Dari kelas 3 SD, sampai saya kuliah tingkat pertama, kami masih tinggal disana.

Namun, dengan perkembangan jaman yang ada, tetangga yang dulunya akrab mulai  menjaga  jarak. Bahkan mereka juga tak segan mengatakan bahwa kami adalah orang-orang kafir. Di daerah tersebut, keluarga yang Kristen memang hanya kami.

Sampai pada akhirnya orang yang mempunyai kontrakan berkata bahwa kami tidak lagi bisa tinggal di rumahnya. Ia mengatakan hal itu sekitar pukul delapan malam. Ayah saya berusaha bernegosiasi agar diberikan waktu esok hari untuk pindah. Tapi yang empunya rumah tetap memaksa kami agar saat itu juga angkat kaki.

Ibu saya menangis… Tapi apa mau dikata, kami tidak mempunyai kekuasaan apapun. Kami cari rumah sementara untuk pindah, dan puji Tuhan, kami mendapatkannya. Barang-barang kecil segera kami pindahkan dengan motor. Untuk yang besar kami sewa mobil yang bisa kami dapatkan dengan terburu-buru.

Saat itu kami ditolak dan dilukai hanya dikarenakan kami berbeda. Tapi ayah dan ibu saya berupaya agar kami sekeluarga tetap punya keyakinan bahwa semua manusia pada dasarnya baik. Terlepas dari penolakan dan luka yang kami alami…

Tuhan Yesus juga pernah ditolak dan dilukai oleh orang-­orang yang la layani. Beliau ditolak dan dilukai sebab sikap-Nya yang bersih, baik dan penuh kasih sayang. Tidak pernah satu kali pun Beliau melakukan kesalahan. Lalu mengapa Ia ditolak dan dilukai?

Yesus diyakini akan mengubah cara pandang hidup yang sudah melekat di sepanjang abad benak orang-orang Yahudi. Ditambah orang-orang Yahudi saat itu memang mengalami ketakutan terhadap perubahan. Mereka telah lelah silih berganti mengalami pergolakan dari masa ke masa.  Makanya tidak heran jika mereka tak segan-segan menolak Tuhan Yesus.

Penolakan terhadap Tuhan Yesus, tidak menghentikan-Nya untuk terus melayani. Oleh sebab itu, orang pun semakin bereaksi. Penolakan pun berubah menjadi kekerasan. Tuhan Yesus harus dilukai perasaan atau pun fisik-Nya, agar menurut mereka Yesus dapat menjadi jera. Tapi apa mau dikata, dilukai pun Yesus tetap melayani dengan penuh kasih sayang. Bahkan sampai harus berkorban nyawa sekalipun.

Saat ini, ketika kita pernah mengalaml penolakan, jangan langsung urung diri. Kita juga mesti belajar untuk tertolak. Tidak semua yang kita inginkan itu dapat kita peroleh. Ada saatnya dimana kita harus menahan diri. Sama seperti doa, tidak semua yang kita mintakan tercapai. Kita harus berbesar hati. Sebab Tuhan lebih tahu mana yang terbaik bagi kita.

Hendaknya kita tidak membenci orang yang menolak kita atau pun yang melukai kita. Kita diamanatkan untuk tetap memberikan mereka cinta kasih, tetap mereka kita doakan, tetap kita bersedia bangun relasi yang baik. Begitu juga ketika kita dilukai, tetaplah sediakan pengampunan. Mengapa kita begitu? Sebab Tuhan Yesus yang jadi teladan hidup kita…

Penulis: Pdt. Naya Widiawan Sudharmo (GKI Cibadak, Sukabumi)

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA